Tentang Film "Hotel Rwanda"

Berawal dari sebuah penjajahan yang terjadi di dataran Rwanda, Afrika Tengah, yang pada akhirnya sanggup untuk membuat dua buah suku baru, yang bernama Tutsi dan Hutu, dengan cara membedakannya lewat jumlah sapi yang setiap rumah miliki (jika sepuluh dan lebih maka Tutsi. Dan jika kurang berarti Hutu). Yang lalu, kedua suku ini pun ternyata malah menjadi cek-cok bukan main selama ratusan tahun ketika negara mereka sudah merdeka, menyebabkan sering terjadinya bunuh-membunuh diantara mereka yang masih rasis tersebut. Bahkan, pada tahun 1994, sebuah genosida dikerapkan. Pembantaian besar terjadi dari ekstremis Hutu yang dikatakan sudah membunuh 500.000 - 1 juta (perkiraan) warga Tutsi dan kaum Hutu Moderat.


Film tentang peristiwa mengenaskan tersebut pun dibuat oleh Terry George. Dan Terry ini mengambil kisah dari seorang manajer hotel, Paul Rusesabagina, yang secara nyata sudah menjadi pahlawan yang dimana telah menampung banyak sekali warga Tutsi di dalam hotel-nya, yang padahal ia sendiri adalah seorang Hutu.

Kisah kepahlawannya itu sendiri dimulai pada waktu dibunuhnya sang presiden dari Rwanda, yang dibilang-bilang dilakukan oleh suku Tutsi. Menyebabkan secara cepat, warga Tutsi dibunuh dengan gila-nya oleh para ekstremes Hutu. Dan untuk Paul sendiri, ia ini terbilang sebagai suku Hutu yang paling dipercayai oleh semua suku Tutsi. Istrinya pun Tutsi, dan pada hari itu-ada banyak tetangga dan keluarga yang berkumpul di dalam rumah Paul untuk berlindung. Yah walaupun tak lama juga, karena pada hari itu sendiri tiba-tiba saja ada banyak tentara yang datang ke rumah Paul dan menangkap semua warga Tutsi tersebut. Membuat Paul menjadi sangatlah ber-empati, dan langsung mengambil cara agar mereka dapat dibebaskan, yaitu dengan memberikan pada para tentara banyak sekali uang. Kemudian, Paul dan warga Tutsi yang diselamatkannya itu pun langsung pergi ke Hotel tempat Paul bekerja, karena tempat tersebut bisa terbilang cukup aman, sebab disanalah terkumpulnya para bule dan orang-orang penting dari luar negeri. Jadinya akan selalu ada pertahanan yang ketat di luar hotel tersebut.

Namun sedihnya, pihak dari luar, yaitu: Amerika, Perancis, dan Belgia malah memutuskan untuk tak membantu Rwanda ini. Sehingga para bule yang ada di Hotel tersebut lah yang diselamatkan, bukan para suku Tutsi yang terus bertambah, yang sedang menunggu diri mereka terhilang dari rasa takut.

Tetapi untunglah, Paul memang orang yang baik, pintar, dan juga memiliki relasi yang luar biasa, bahkan ke para pejabat sekalipun. Hingga pada waktu ada satu hari dimana para tentara sedang ingin meraziah hotel tersebut, Paul cepat-cepat menelpon orang yang bisa membuat para tentara dari suku Hutu tersebut pergi.


Pantaslah film ini sanggup menjadi nominator Oscar pada tahun 2004 lalu. Karena kita akan dibuatnya menjadi begitu iba, bahkan terus berharap di sepanjang film berlangsung-kalau pembantaian tak akan terjadi di dalam hotel tersebut. 

Segalanya sudah dibuat menjadi bentuk kejadian yang bisa membawa kita terjun ke dalamnya. Apalagi pada saat kita semua diberikan informasi tentang nasib Rwanda yang telah kehilangan "perhatian" dari negara luar yang sudah ditunjuk untuk membantu para suku Tutsi itu. Sungguh miris rasanya mengetahui "hal yang nyata" tersebut.


Selain genosida yang pernah terjadi pada orang-orang yahudi di Negara Jerman dulu itu, ternyata hal seperti ini masih tetaplah eksis dilaksanakan oleh para ekstremis yang benar-benar berengsek dan sudah tak berprikemanusiaan lagi. Bukan hanya di Rwanda, Afrika Tengah juga, tapi di Indonesia sendiri pun pernah terjadi pada tahun 1998 yang kelam tersebut. Entah, manusia itu memang bisa menjadi sesuatu yang bagaikan "mimpi terburuk" yang pernah ada. Semoga saja tak akan pernah ada lagi dah.....

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath