Tentang Film "Wonder Woman"

Gue selalu percaya dengan rating di IMDB, Rotten Tomatoes, dan para movie reviewer yang selalu gue jadiin panutan sebelum gue mutusin untuk nonton film. Dan film yang satu ini sudah mendapatkan rating yang sangat tinggi dari mereka, wajar saja jika ekspektasi gue bisa sampai setinggi langit. Tapi sayangnya, semua harus terjatuh karena apa yang sudah gue tonton hari ini, bagi gue akan langsung gue lupakan.

MARVEL sudah memulai segalanya. Dengan sangat baik pula. Perpaduan antara sisi jenaka dengan serius sudah berhasil dimaksimalkan oleh mereka. Bahkan tak lupa untuk jalan ceritanya yang tak biasa, berisi dialog dialog yang tak monoton. Gue selalu enjoy tiap menonton film MARVEL meski tiap karakternya tak pernah sampai ngebuat gue jatuh cinta. 

Beda dengan DC, gue sangat jatuh cinta ketika Trilogi Batman karya Christopher Nolan muncul. Gue sangat teramat jatuh cinta dengan semua karakternya. Jalan ceritanya pun selalu tampil serius dan dark, sesuai banget dengan kepribadian gue. Awalnya gue pengen menjerit ketika Batman dipersatukan dengan Superman, dengan harapan besar kalau MARVEL akan kalah setelah DC mengeluarkan semua karakter fenomenalnya itu. Tapi nyatanya malah DC harus babak belur menghadapi semuanya. Batman V Superman dan Suicide Squad sudah menjadi bahan cemooh publik. Jelek!

Dan sekarang mulai bermunculan kisah personal dari para Avenger DC (Justice League maksudnya). Yang pertama adalah Superman (masih lumayan), lalu sekarang ada Wonder Woman yang sedang diagung agungkan para movie reviewer di seluruh dunia. Di mata publik kebanyakan, film ini tak bagus, teman teman gue pun mengatakan itu. Bahkan sampai gue yang harus mengatakan itu sekarang. Gue setuju dengan mata publik kali ini.


Film ini langsung memperkenalkan kita dengan Diana Prince (Gal Gadot) sejak ia kecil dan masih di pulau Themyscira bersama dengan dua tokoh yang seharusnya menarik: Hyppolita (Connie Nielsen) sebagai Ibunya, dan Antiope (Robin Wright) sebagai bibinya dan juga panglima perang. Mereka adalah para wanita Amazon ciptaan Dewa Zeus yang seharusnya digunakan untuk menjaga kedamaian bumi, tapi umat manusia malah menjadikan mereka budak, hingga mereka memutuskan untuk melawan dan melarikan diri. Zeus pun menempatkan mereka di pulau kasat mata tersebut agar tak ditemukan oleh umat manusia.

Hingga takdir membawa Diana menuju ke dunia manusia ketika pesawat dari Steve Trevor (Chris Pine) terjatuh melewati pulau Themyscira. Dengan embel embel perang dunia pertama, Diana pun langsung membawa baju zirahnya dengan hasrat ingin membunuh Dewa Ares, yang ia percaya adalah dalang dari semua kekacauan saat itu.



Ya ya ya,, Dewa Dewi Yunani yang sangat disayangkan tak berperan maksimal. Apalagi ketika kemunculan sang Dewa Perang yang dikira akan menjadi kejutan besar?! Rasanya seperti menggigit makanan yang sudah gosong.

Coba saksikan pada saat Diana kecil muncul, lalu bandingkan dengan kisah "300" yang sudah menjadi acuan utama untuk film berlandaskan perang yunani kuno. Kemudian saat Robin Wright muncul, oh my favorite actress, yang harus berperan tak penting dan akhirnya mati sia sia. Lalu ketika Diana bertemu dengan Steve dengan selurTuh dialog sok lucu mereka. Dan saat mereka bertemu dengan pemain pemain lainnya yang tak kalah sok lucu alias jayus! Too much dialog gak penting disini.

Yang menarik hanya lah ketika Diana mulai menunjukkan semangat feminismenya saat ia memberikan speech cadasnya ke para pria dengan pangkat jenderal, kemudian tentu saja ketika aksinya di pertengahan film (setelah lelah menunggu). Jelas itu keren saat melihat seluruh senjata pamungkasnya keluar. Selebihnya, udahan dehh plzz!!

Gue sangat kecewa dengan DC. Seakan hanya ingin mencari uang lewat semua karakternya yang masih dicintai banyak orang, jadinya semua atribut dibuat ala kadarnya saja, tak maksimal seperti MARVEL.

Come on DC. masih ada beberapa film lagi yang akan ditunjukkan, Aquaman, The Flash, dll. Gue masih mau percaya, tapi sekarang sepertinya semua film kalian hanya akan menjadi pembuang waktu 2 jam berharga gue. I hope not.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath