Lima Fase yang Dilalui Setelah Patah Hati

Kurang lebih dua bulan lalu, gue habis ngebaca kartu tarot lewat aplikasi online di handphone. Gue sungguh penasaran dengan masa depan di kisah cinta gue yang sepertinya sudah tak ada harapan. Di aplikasi tarot tersebut, ada tiga tulisan yang dibuat setelah selesai memilih kartu, yaitu mengenai masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Dan benar saja, masa lalu dan masa sekarang berisi hal yang tak baik.

Masa kini. Katanya gue akan kembali dikecewakan lagi.

Melihat tulisan tersebut, rasanya langsung merasuk ke dalam batin gue. Karena gue tau arti dari kata itu, gue pun sudah sering mengalaminya. Yup, sering! Kecewa ketika mengejar seseorang lebih tepatnya. Tak ada ujung yang membahagiakan ketika mata gue terpikat dengan satu sosok yang sanggup ngebuat gue jadi terpenjara.

Terpenjara dalam imajinasi.

Sebelum gue mencapai 25 tahun, ada satu orang lagi yang sedang gue kejar. Secara keseluruhan dia sangat tepat untuk gue. Pertemuan pun berlangsung, namun berakhir garing. Kami hanya makan sebentar, lalu pulang. Sambil terdiam, gue langsung memesan tiket nonton setelah mengantar dia pulang. Gue hanya ingin melupakan momen pada saat itu.

Kemudian nyatanya perbincangan kami masih berlanjut selama 1 bulan lamanya. Gue kira masih ada harapan, tapi sepertinya sudah mustahil (lagi). Pada hari kemarin, semua impian dan harapan kembali menjadi hampa. Gue pun sampai tak mau beraktifitas karena harus menghadapi momen dikecewakan ini lagi. Hingga sekarang, ketika gue lagi mengetik kata-kata ini....

Ada beberapa fase (gue gak tau lebih jelasnya ada berapa) untuk 'back to normal'. Pertama adalah sakit hati, tentu saja. Kalau dulu, gue sampai nangis berkali-kali karena kisah gue dengan dia dia yang lain itu berlangsung lama. Kalau sekarang gue seperti depresi, sama sekali tak mengeluarkan air mata. Namun gue tau, gue lagi bersedih luar biasa. Meratapi nasib gue.

Kedua, muncul keinginan untuk bertahan hidup. Gue akan mencari distraction untuk melupakan masalah ini. Kesibukan-kesibukan baru harus gue temukan. Lumayan berhasil untuk kasus sekarang, karena gue teringat dengan impian gue yang lain, yaitu menjadi public speaker. Ini adalah keinginan terdalam gue, dan gue berasa harus segera meraih ini karena umur gue sudah di titik yang menurut gue sudah expert.

Ketiga, munculnya angin sejuk di dada. Sekarang gue berasa kalau gue harus mensyukuri semua hal yang sudah terjadi. Gue bilang di dalam hati, "yeah, this is my another shit*y love story. Move on, move on..." Meski tetap tergantung mood, karena gue orang yang melankolis. Mungkin rasa sejuk itu bisa muncul 5 menit, tapi rasa galau bisa berjam-jam lamanya.

Keempat, menjalani hidup seperti biasa. Di tahap ini, fokus utama gue berarti sudah bukan di masalah cinta lagi, tapi di masalah lain, seperti pekerjaan. Gue benar-benar lupa untuk 'mengejar seseorang', gue pun berasa lebih maksimal untuk mengejar impian.

Kelima, menemukan sang pengisi hati baru.... I just hate this step. Apalagi karena pengalaman gue sudah banyak, gue berasa lebih banyak negative thinkingnya. Kalau dulu kan gue selalu positif thinking, mangkanya gue bisa kejar seseorang sampai lama sekali.

OMG! Am I crazy or what?!

Anyway, gue tulis ini pada saat di jam kerja. Karena menulis adalah salah satu obat yang menyembuhkan untuk gue, berarti saat ini gue memang lagi sakit parah.

Semoga cepat sembuh.....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath