Dukacita Berkunjung Lagi



OSCAR kembali hadir. Nominator dan pemenangnya kembali mengisi hari-hari gua yang tak menentu ini. 365 hari gua menunggu untuk satu momen yang dapat mengisi hati dan pikiran gua dengan sesuatu yang besar, dan itu adalah film yang sangat bagus.

24 tahun gua merasakan ini, dan tak terasa bahwa 3 bulan lagi gua akan menambahnya satu tahun lagi. Gua pun sudah mengenali diri gua dengan sangat baik, khususnya mengenai kebutuhan gua. Kebutuhan akan motivasi yang dapat ngebuat gua terus berjalan melewati semua permasalahan hidup. Dan tentu saja melewati pikiran gua yang tak akan pernah berhenti meracau, memproyeksikan semua harapan, impian, dan kesedihan gua di saat yang sama. Mengingat akan dukacita lagi, lalu beranjak untuk melawan getirnya hidup ini. Semangat yang tertunda, termakan oleh pikiran. Itu lah gua. 

Lalu kembali lagi gua menyaksikkan sebuah karya agung dari para sutradara dan timnya yang hebat, yang mungkin akan bosan untuk dilihat oleh orang lain, yah, karena mereka memiliki kebutuhan dan kecintaannya masing-masing. Alurnya yang panjang dan memiliki arti, seakan merefleksikan hidup gua kini. Cerita tentang kehidupan yang selalu dirasakan oleh gua, dan tentu saja semua orang. Hingga para pemain dan kru-nya bermain maksimal, satu piala pun menunggu untuk mereka genggam, sebagai simbol nyata bahwa sebuah karya mampu menyentuh hati individu lainnya.

Kali ini gua melihat lagi sebuah kisah tentang seorang ayah. Yang tak sempurna namun bertanggung jawab. Fences judulnya, dan akan gua berikan review-nya setelah ini. Karena di tulisan sekarang, gua hanya ingin menyalurkan apa yang sedang 'tumpah'. Yah, gua sangat diisi oleh film ini, karena mampu membangkitkan inspirasi dan motivasi gua lagi. Gua pun mengingat kembali tentang seorang ayah, yang sudah tak gua miliki pada waktu gua mulai mengerti tentang dunia, tepatnya saat gua sedang berkuliah di semester 2. 

Tepatnya, gua mengingat semua rasa penyesalan gua padanya. Semua hal bodoh yang seharusnya tak gua berikan saat Beliau masih hidup.

Ayah gua bukan lah seorang yang galak, bahkan tak pernah memukul gua. Beliau sangat memanjakan gua hingga sakit gigi adalah masalah utama gua saat kecil karena gua selalu diperbolehkan makan semua yang manis. Beliau juga yang memperkenalkan gua pada sebuah film, yang ternyata mampu memberikan gua semangat ketika Beliau sudah tak ada. Film yang bagus akan selalu mengingatkan gua padanya .

Ayah gua bukan pecinta film, Beliau hanya sebuah mediasi yang mempertemukan gua dengan sahabat bukan manusia gua, dan itu terjadi pada saat Beliau mengajak gua ke Bioskop. 

Terima kasih Ayah. 

Permasalahan baru mulai bermunculan kembali di hidup gua. Semakin berumur, maka akan semakin rumit. Membuat gua lupa akan semuanya. Gua fokus pada satu ketakutan untuk mengambil keputusan. Jika salah, gua akan jatuh lagi dan merasakan hal yang tak ingin gua rasakan, lagi. Hari ini pun gua tersadarkan kembali, bahwa keluarga adalah hal utama dalam kehidupan gua. Apa yang akan gua lakukan kelak, gua harus ingat kalau semua itu bukan hasil jerih payah gua sendiri. Masih ada orang di belakang gua yang selalu ada untuk mendukung gua.

Ya, gua tidak sendirian. Dan gua harus berterima kasih pada setiap orang yang memberikan gua sesuatu. Karena gua tak ingin penyesalan kembali menggerogoti gua.

Sama seperti pikiran gua yang dulu (berasal dari film juga hehe), bahwa dukacita tak akan bisa hilang. Ia akan menemui gua lagi disaat yang tak terduga. Namun lebih baik ditemui, sebagai tamparan buat gua untuk selalu melakukan yang benar di kehidupan gua, sama seperti apa yang diajarkan oleh Ayah gua semasa hidupnya.

"Lakukan untuk orang lain." 

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath