Tentang Film "The Witch: The New-England Folktale"



Era 1630-an, tepatnya di New England, satu keluarga harus terpecah dari komunitas karena beda keyakinan. Mereka harus keluar dari desa yang sebelumnya menjadi tempat tinggal mereka, lalu berjalan jauh hingga ke pinggir hutan belantara. Sebagai kepala keluarga yang bertugas mengayomi keluarganya, William (Ralph Ineson) memutuskan untuk hidup disana, jauh dari peradaban.

Setelah sekian lama mereka menetap, ada satu hal yang tak mereka sadari, bahwa sesuatu yang jahat sedang mengintip dan bersiap untuk melaksanakan perintah dari sang iblis.

Dan hal itu terjadi, ketika Samuel, anak bungsu keluarga William yang masih bayi, diculik oleh sesuatu yang tak terlihat. Penculik itu hidup di tengah belantara hutan, seorang nenek tua dengan tongkat kayu panjangnya. Ya, ia adalah penyihir. Dan ia memiliki sebuah rencana jahat untuk keluarga malang tersebut. 

Thomasin (Anya Taylor-Joy) adalah anak tertua. Sayangnya, ia harus dibenci oleh ibunya, Katherine (Kate Dickie), karena yang menjadi orang terakhir saat bersama Samuel. Namun ia selalu bertugas seperti biasa tiap harinya, seperti membantu memerah susu kambing dan membereskan rumah. Ia tak mengeluh sedikit pun.

Ia juga memiliki tiga adik, Caleb (Harvey Scrimshaw) dan yang terkecil, dua anak kembar, Mercy (Ellie Grainger) dan Jonas (Lucas Dawson). Mereka semua sudah diajarkan mengenai isi Alkitab sejak dini. Oleh karena itu, mereka selalu menilai segala sesuatunya dengan religius.

Dan seperti kata pepatah, dimana ada terang, disitu ada gelap. Sang penyihir yang 'lapar' pun mulai menunjukkan minatnya lagi. Segala macam tipu muslihat ia lakukan untuk memecah belah keluarga tersebut. Hingga waktu iman mereka lemah, sang kebahagiaan akhirnya berubah menjadi darah.



Disutradarai dan ditulis secara maksimal oleh Robert Eggers. Film pertama untuknya dengan durasi 90 menit. Dan berbekal kisah rakyat mengenai sang penyihir di New England, ia pun bisa meramu keseluruhan filmnya menjadi sangat mengerikan. Ada banyak momen disturbing yang ditampilkan untuk lebih menegaskan betapa jahatnya sang penyihir itu. Salah satunya adalah pada saat ia menjadikan bayi sebagai 'bahan ritual' untuk mendapatkan ilmu gelap.

Semua momen itu sendiri menjadi lebih kelam ketika visual warnanya tampil sangat kelabu plus scoring garapan Mark Korven yang mengusik jiwa tersebut. Kemudian tak lupa untuk isi naskahnya yang dikuasai oleh perkataan yang alkitabiah, Film ini merupakan sebuah ujian berat bagi yang beriman lemah.

Salut untuk Robert Eggers. Ia berhasil memberikan sebuah nuansa baru untuk film horror masa kini. Meski tidak memainkan efek visual yang mahal, tapi isi ceritanya sangat dapat. Dan sama sekali tak disangka bahwa akhir ceritanya akan sebegitu kelamnya ketika sebuah perjanjian gelap antara manusia dengan Iblis dilaksanakan.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath