Tentang Film "The BFG"

Berkat karya-karyanya yang luar biasa, semua orang sudah pasti akan menunggu 'kejutan' terbaru dari seorang Produser dan Director teranyar, Stephen Spielberg. Siapa yang tak lupa dengan beberapa karya fenomenalnya, seperti Indiana Jones, Saving Private Ryan, Schindler's List, hingga Jurrasic Park. Tahun kemarin pun ia menghadirkan Bridge of Spies, yang sekali lagi mendapatkan piala OSCAR untuk kategori 'pemeran pria terbaik', Mark Rylance, Dan di tahun 2016 ini, ia kembali mencoba hal baru, yaitu mengadopsi sebuah novel anak kecil karya Roald Dahl, The BFG.


Berkisah tentang seorang anak yatim piatu, Sophie (Ruby Barnhill), yang tiba-tiba saja diculik oleh raksasa di malam hari. Sophie pun langsung dibawa oleh raksasa itu ke suatu pulau misterius, yang merupakan tempat tinggal para raksasa. Namun, setelah akhirnya Sophie berkenalan dengan 'sang penculik', ia sadar kalau tak ada kejahatan di dalam dirinya.

BFG (Big Friendly Giant) (Mark Rylance) adalah nama panggilan untuk raksasa itu dari Sophie. BFG memang sangat ramah, ia juga vegetarian, dan memiliki hobi yang unik. Ia adalah "penangkap mimpi". Yup, disini kita akan melihat bahwa mimpi merupakan sesuatu yang dapat kita lihat dan bisa disentuh. BFG pun menunjukkan semua koleksi mimpi yang ia dapatkan dari pulau mimpi di gudang rahasianya. 

Tapi sayangnya, raksasa lain tidak seperti BFG. Tubuh mereka lebih besar 4 kali lipat ketimbang BFG. Mereka juga sangat kasar, namun bodoh, serta pemakan daging. Salah satu hobi para monster itu adalah pergi ke dunia manusia, dan memakan satu per satu manusia secara diam-dian di malam hari. Semua raksasa itu tetap takut terhadap manusia, karena jika semua manusia sadar akan kehadiran mereka, maka mereka bisa dimusnahkan dengan mudah.


Sophie yang sudah memutuskan untuk menetap di tempat tinggal BFG menjadi harus was-was dengan kehadiran para monster itu. Khususnya untuk kehadiran sang pemimpin, Fleshlumpeater (Jemaine Clement), yang selalu mengganggu BFG.

Singkat cerita, Sophie akhirnya ketahuan, Ia dan BFG pun harus mencari cara agar bisa melawan para raksasa itu, dan mengusir mereka untuk selama-lamanya.


Jika dilihat secara keseluruhan, film ini agak personal ditampilkan oleh Stephen Spielberg, berdasarkan jabatannya sebagai produser dan sutradara sekaligus. Seakan ingin mengenang masa kecilnya, seperti pada saat ia membuat Film "The Adventure of Tintin".

Alur ceritanya juga sangat smooth, dan tetap dijaga agar tidak seperti film-film perangnya, yang sudah terkenal brutal itu. Kita akan terpesona dengan semua yang ada di film ini. Namun tetap, kekuatan utamanya terletak di naskahnya itu. Imajinatif dan Anti Mainstream.

Terkadang, sebuah mimpi memang sanggup menjadi pendorong utama kita dalam melakukan hal yang besar. Kita pun bisa meracik dan langsung menciptakannya, hingga mimpi itu tidak berada di atas awan lagi, melainkan di bawah kaki kita. (Ini hal utama yang gua dapatkan sehabis nonton film ini. Keren!)


Anton Suryadi

Independent but not a sociopath