Mengobati Imajinasi



Imajinasi bisa saja menyelamatkan, namun juga bisa menghancurkan. Gambaran yang tercipta dari otak manusia ini sudah menjadi teman lama gua sejak munculnya masalah pertama yang selalu menghantui masa kecil gua. Akhirnya gua pun selalu mengimajinasikan sebuah masa depan yang baik. Meski selalu berujung pada kekecewaan yang besar.

Yah, sesuai kata pepatah, mengharapkan banyak, maka akan dikecewakan banyak pula. Berimajinasi sudah pasti berharap. Berharap 'ilusi' tersebut bisa menjadi nyata. Khususnya untuk ilusi simple yang masih diterima oleh akal sehat manusia. Contohnya adalah tentang keinginan untuk mendapatkan kekasih idaman (ya elah haha). Secara rasional, hal tersebut bisa kita dapatkan, apalagi untuk seorang pria yang selalu dianggap sebagai pemburu. 

Ketika jatuh cinta, setetes keberanian seorang pria akan sanggup merubuhkan sebuah bangunan (haha lebay, tapi bisa jadi loh).

Okeh, ini bukan soal cinta. Gua memang sedang bermasalah dalam hal berimajinasi ini. Meski sudah menjadi teman lama, tapi rasanya ini seperti penyakit. Ketika imajinasi ini muncul, maka produktivitas gua akan menurun drastis. Motivasi gua untuk mencapai kekayaan harta benda dan tanah akan menghilang begitu saja. Oleh karena itu gua yang dulu lebih suka menghabiskan waktu di kasur sambil bermimpi banyak hal. Akhirnya darah rendah deh.

Tapi okeh, gua harus jujur, ini memang soal cinta. Maafken. Karena saat gua jatuh cinta, maka imajinasi gua akan bergerak cepat. Bekerja keras untuk bisa memberikan rasa nyaman sementara di dalam sel-sel tubuh gua. Yup, sementara aja.

Minggu ini, imajinasi gua kembali mengambil alih sebagian waktu hidup gua. Karena orang-orang ini. Dan kebodohan diri yang selalu gua piara. Yah, mohon dimaklumi. Ini memang nasib dari seorang Anton yang pada kenyataannya adalah introvert. Sendiri di kos itu memang sanggup mengubah nasib gua ke depannya.

Imajinasi ini pun kembali bermain-main tentang masa depan yang selalu gua idam-idamkan. Mungkin kalau gua dicekoki narkoba, gua bisa jadi ketagihan kali ya. Karena efek dari narkoba itu kan bisa memunculkan halusinasi. Dan gua belum pernah berhalusinasi. Hanya melihat hantu aja waktu masih kecil (gak tau itu beneran atau boongan. Dan gua udah gak peduli lagi sih hehe).

Salah satu obat dari penyakit imajinasi gua ini adalah dengan menulis. Yup, apa yang sedang kalian lihat ini adalah sebuah cara dari gua ketika sedang melawan hal tersebut. Gua harus mencurahkan semua hal di otak gua (tapi tetap keep beberapa hal penting yang bukan merupakan konsumsi publik) ke dalam blog ini, agar hidup gua bisa menjadi lebih terfokus kembali. Stabil.

Saat gua menulis ini pun, gua sudah lupa akan imajinasi tersebut. Dan akhirnya muncul rasa malas untuk melanjutkan tulisan ini lagi. So, karena ini sudah jam 2 pagi, dan nanti harus bangun jam 6 pagi, jadi GOOD BYE!

Intinya ini adalah curhatan. Hahahahaha....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath