The Power of Diversion



The POWER of DIVERSION

Gua sungguh ingin punya kemampuan ini. Melawan hal yang menjadi beban pikiran dengan realita lain. Realita ini mampu membuat fokus gua berubah 180 derajat sehingga gua bisa lebih bebas, tak terlalu merasa dikutuk oleh keadaan.

Hal ini pun ngebuat gua harus jujur kalau salah satu kelemahan gua sejak dulu adalah gua selalu fokus pada perasaan gua. Misalnya, ketika ada yang gua suka, maka gua bisa langsung jatuh-sejatuh-jatuhnya pada perasaan tersebut. Sama seperti ada seseorang yang mencoba menjatuhkan gua dengan kata-kata jahatnya. Gua sudah pasti bisa kepikiran semalam suntuk sambil terbawa rasa amarah yang parah.

Gua pikir kalau hal ini lumrah, atau biasa saja dan dialami oleh seluruh manusia. Yup, memang betul dialami oleh kita semua, tapi mampu menjadi tak sehat ketika kita tak bisa mengendalikannya.

Gua belajar banyak ketika sudah bekerja di kantor. Fokus gua langsung berubah tak memikirkan banyak masalah yang berbau perasaan. Seperti lupa dan tak ingin berpendapat lagi soal hal-hal tersebut, itu lah yang gua rasakan hingga saat ini. Namun tetap saja, terkadang gua bisa merasakan kembali kelemahan gua tersebut. Ketika gua marah, gua bisa terdiam seribu bahasa dengan rasa enggan untuk bekerja.

Oke, kenapa gua harus membicarakan hal ini. Karena gua sedang mengalami banyak hal yang musti gua kendalikan. Gua tak bisa sebutkan secara lantang, namun intinya adalah hal ini di dalam dunia kerja gua. Yup, hidup gua memang sudah berubah. Jika dulu banyak masalah yang gua alami berada di dalam lingkungan sosial gua, kini berada di dunia pekerjaan. Dan gua mulai ingin memiliki banyak 'problem solving' untuk semua itu.

Kata-kata gua barusan sudah jelas, kalau gua sedang belajar dari pengalaman. Dulu itu masalah dalam dunia sosial atau dunia pertemanan gua memang sangat banyak, seperti gua tak bisa mengungkapkan rasa tak suka gua (jadinya gua lebih banyak ditindas dan membiarkannya). Lalu gua pun mulai berpikir kalau pertemanan tersebut sudah tak menjadi prioritas utama lagi untuk gua, karena sudah ada 'diversion' yang lebih menohok, yaitu mencari duit. 

Gua pun mulai menstabilkan keadaan dengan tak bertemu secara intens dengan teman-teman gua, serta memutuskan untuk tak bertemu sama sekali dengan orang-orang yang kerjanya cuma buat masalah dalam hidup gua. Hal ini ternyata mampu menjaga keutuhan hidup pertemanan gua. Percaya deh.

Gua banyak menghabiskan waktu di kantor gua, dengan tentunya tetap mencari teman baru. Ini adalah 'problem solving' yang efisien untuk gua. Gua anggap ini sebagai diversion untuk masalah tersebut, 

Sayangnya, sekarang muncul lagi permasalahan yang baru. Gua harus mencari 'diversion' yang baru juga untuk mengatasi hal ini. Permasalahan dalam dunia kerja plus segala perintilan dari perasaan yang sedang kesasar. Gua harus mencari 'diversion' yang pas untuk diri gua sendiri.

Arrghh!! Hidup ini penuh dengan cobaan. Dan gua harus cari jalan yang tepat kembali!

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath