Anton Suryadi Bukan Penakut dan Pengecut



Menjadi penakut atau pengecut di hadapan orang lain adalah hal yang selalu gua lawan hingga saat ini. Namun, terkadang gua merasa kalau hal itu akan sulit kabur di dalam hidup gua, karena gua masih belum ketemu obat yang manjur untuk menyembuhkannya.

Gua ingat dua momen pertama ketika gua merasa takut terhadap orang lain. Pertama, saat gua masih belum sekolah, dan perasaan takut itu muncul waktu gua diajak Mama gua ke rumah saudara gua yang isinya belasan orang. Yup, gua punya keluarga besar, baik dari sisi Nyokap ataupun Alm. Bokap gua. Waktu itu mulut gua tertutup, entah napa gua tak bisa bicara dengan mereka semua, bahkan takut untuk melihat mata mereka. Akhirnya, karena gua adalah seorang Cina Benteng, dan tiap saudara dalam keluarga gua itu punya nama sebutannya masing-masing, gua pun menjadi tak bisa menghapalnya, sampai sekarang; Kedua, saat gua pertama kali masuk sekolah, waktu itu sepertinya gua langsung di TK A, dan yang paling gua ingat adalah satu perasaan takut untuk berinteraksi dengan semua anak sebaya gua. Blank. Rasanya gua tak tahu apa yang harus gua omongi ke mereka. Alhasil, gua pun jadi tak punya teman saat itu. Dan gua juga tak bisa bermain bareng mereka. Gua seakan dianggap tak pernah ada, 

Sejak saat itu gua tumbuh menjadi pria yang sensitif. Gua sungguh perasa, karena banyak tekanan yang gua simpan di dalam hati gua. Bayangkan, sejak gua kecil, setengah hari gua rasanya seperti di neraka ketika gua harus berada di dalam sekolah.

Apa yang salah terhadap diri gua saat itu? Sudah pasti adalah gua tidak tahu apa itu "kepercayaan diri". Hinaan demi hinaan selalu gua dapatkan dari orang sekitar gua, khususnya untuk keadaan fisik gua ini. Klimaksnya adalah ketika gua SMP, dan wajah gua bertaburan jerawat saat itu. Asal kalian tahu, anak kecil atau remaja itu memang sudah bisa menjadi sangat jahat terhadap anak-anak sebayanya. Gua merasakan itu, dan gua tak bisa melawannya. Karena gua pengecut.

Tapi gua masih ada disini, menulis blog ini, dan tetap berniat untuk melanjutkan hidup gua. Yup, mungkin sudah sering kali gua katakan, kalau "film adalah penyelamat gua". Seperti vitamin yang selalu memberikan gua asupan gizi agar gua bisa terus bertahan hidup. Sama halnya malam hari ini, ketika gua habis menonton salah satu film nominator OSCAR 2016, dan gua pun berhasil kembali menemukan semangat dalam diri gua. Gua juga jadi bisa mengendalikan diri gua lagi, dan tentu saja kembali menulis di blog tercinta gua ini.

Gua suka nonton sendiri untuk film-film bernuansa OSCAR. Dan itu lah yang gua lakukan saat masih SD, ketika Alm. Bokap gua mulai mengantar gua untuk nonton film di Bioskop. Hingga akhirnya gua  jadi bisa melakukannya sendiri.

Saat gua melakukannya lagi malam ini, gua pun langsung berpikir mengenai kelemahan terbesar gua hingga saat ini. Yup, menjadi penakut dan pengecut. Entah dimana pun gua berada, gua selalu bertemu dengan orang-orang ini. Mereka yang berhasil ngebuat gua takut dan terlihat seperti pengecut. Maka dari itu gua bisa menerima ketika orang yang baru sekali kenal gua, mereka akan mengira kalau gua takut akan banyak hal, seperti hantu, binatang, dll. Padahal salah satu film kesukaan gua adalah yang bernuansa horror, dan terkadang gua nonton di Youtube tentang penampakan, kisah horror nyata, dll ketika rasa penasaran gua udah besar.

Gua selalu berusaha untuk menghilangkan kesan itu, tapi apa daya, mereka selalu menemukannya. Bahkan jika gua bergaul sama orang yang salah, dan pergaulan itu sudah dalam, mereka akan sadar kalau gua bukan tipe orang yang suka melawan balik. Jadi, ketika ada orang yang bicara jahat langsung di depan muka gua, gua pun hanya bisa tertawa. Karena terkadang gua mengira kalau "dia hanya salah bicara, gua pun pernah melakukannya." Atau karena gua gak tau harus merespon apa lagi ke dia. Jikalau gua marah, gua pun takut akan tak disukai. Entah napa, gua selalu merasa punya banyak kekurangan, sehingga gua tak bisa marah ke orang lain. Rasanya gua terlihat lebih buruk ketimbang mereka, dilihat dari cara kerja gua, fisik gua, cara komunikasi gua, dll. Sekali lagi, kepercayaan diri gua masih minim.

Meskipun begitu, semua pasti kaget ketika gua bilang kalau gua adalah anak Teater, dan suka tampil di atas panggung. Kisah ini agak panjang, yang pasti gua menemukan kesadaran kalau gua harus berubah ketika gua duduk di 1 SMA. Gua harus bisa berkomunikasi dengan orang lain, bahkan gua melatihnya dengan ikut ekstrakurikuler Teater saat itu, yang pada akhirnya sanggup merubah total diri gua. Dari Anton yang sangat pendiam, akhirnya bisa ngobrol, meskipun malah jadi berkarakter lebay (mereka yang kenal gua pasti ngerti hehe).

Ada dua muka yang berbeda dalam hidup gua. Muka pertama adalah tentang seberapa beraninya gua untuk tampil di atas panggung dengan kepercayaan diri tinggi. Muka kedua adalah disaat gua menjadi sangat lemah, dan semua orang bisa menciumnya. Dan ketika orang-orang bisa mencium kelemahan gua tersebut, gua pun jadi merasa kacau. Saat ini, muka kedua lah yang sedang terlihat leluasa. Oleh karena itu gua jadi merasa harus menuliskannya disini, sebab perasaan gua sedang jadi sangat kacau balau. Dan jika gua tak bisa mengatasinya, maka gua akan menjadi seorang yang super pengecut. Gua bisa pergi jauh dan menghilang sekejap saja. Tentu saja gua harus menghindari itu.

Sekali lagi, gua adalah seorang pria yang sangat sensitif dan tak bisa melawan. Gua bahkan sudah memutuskan untuk tak mengobrol atau bertemu atau menyebut nama orang-orang yang paling gua benci semasa hidup gua. Yup, mereka yang sudah sering menghina gua baik secara verbal atau pun tidak, mereka akan langsung gua hilangkan saja dari daftar friendlist di sosial media gua. Meskipun hal ini akan tetap buat gua jadi tak puas, sebab sekali lagi gua sudah membiarkan mereka berdiri di atas kepala gua, dan menginjak gua dengan sangat keras tanpa sekali pun gua melawan. Walau kata Tuhan kita itu harus bisa memaafkan dan tak membalas orang tersebut, tapi ada satu perasaan sakit yang disebabkan oleh mereka yang seenaknya bicara tak tahu aturan ke diri gua. Gua ingin melawan, tapi hal ini adalah kesalahan juga.

Mungkin hikmat Tuhan dapat melingkupi gua agar bisa tahu harus melakukan apa disaat sekali lagi sedang menghadapi momen-momen yang mampu ngebuat mulut gua jadi tertutup. 

Tapi memang tetap ada orang-orang yang musti gua lawan. Gua akan berusaha untuk tidak terlihat pengecut terus. Muka pertama gua harus gua aplikasikan di dalam kehidupan nyata gua.

Apakah gua takut jika banyak orang tak mau berteman dengan gua? Sebenarnya tidak. Sudah sejak kecil gua mengalami hidup tak punya teman, dan gua tetap survive. Bahkan ketika gua sendirian, gua pun bisa terhindar dari bermasalah dengan orang lain, khususnya orang-orang yang tak bisa gua prediksikan apakah ia baik atau tidak untuk hidup gua. Hidup sendiri memang bisa ngebuat gua jadi lebih mudah, namun jadi tak asyik. Karena gua juga suka berbagi, seperti dengan menulis ini.

Gua harus bisa mengendalikan semuanya lagi sekarang.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath