Inkonsistensi Impian



Tiada orang yang bisa mengerti 100 persen tentang orang lain. Gua sangat setuju dengan pernyataan itu. Meskipun kita adalah seorang sahabat baik, hingga psikiater ampuh sekalipun, tapi jalan pikir tiap manusia itu sangat kompleks.

Keinginan kita akan sesuatu bisa berubah dalam sekejap. Contohnya adalah mimpi. Impian sejak kecil akan mampu terkikis seiring berjalannya waktu. Hal ini dikarenakan oleh 'inspirasi' dan 'motivasi'. Dalam perjalanan hidup manusia, tentu saja kita akan mendapatkan banyak inspirasi serta motivasi, baik itu dari media, tokoh favorit, serta orang terdekat kita. Banyak hal yang sanggup mengubah pikiran kita.

Sama seperti gua. yang mana adalah contoh dari sebuah inkonsistensi akan impian. Impian pertama gua adalah jadi pelukis, karena gua suka gambar. Bahkan pernah ada satu gambar yang gua ciptakan secara detail, hingga guru seni gua pun bisa sampai memuji gua. Tapi gambarnya, sudah hilang, jadi biarkan lah. Kemudian semua berubah ketika gua mulai suka dengan 'menulis'. Sejak SD, gua sudah menulis diary loh. Bahkan menariknya, gua menulis dengan bahasa yang berbeda. Yup, bahasa ciptaan gua sendiri. Karena saat itu gua harus mengungkapkan banyak rahasia yang tiada satu orang pun yang boleh tahu. Tapi gua sudah ngebuang diary tersebut (karena terlalu banyak rahasia gawat), so lupakan lah. Kemudian, gua tertarik dengan dunia teater, yang mana gua pun berkeinginan untuk menjadi seorang artis. Saat itu gua masih SMA, dan gua berhasil menjadi pelawak waktu berada di atas panggung. Rasanya begitu puas ketika berhasil ngebuat para penonton menjadi tertawa. I like it so much! Tapi sejak kuliah, gua sudah meninggalkan dunia itu.

Yup, kehidupan terus berjalan, dan gua melihat bahwa gua sudah tak fokus dengan hal-hal yang harusnya menjadi masa depan gua sekarang.

Munculnya alasan mengapa gua harus menulis ini adalah ketika gua habis nonton film tentang dunia perbankan beberapa hari yang lalu. Gua pun langsung tertarik untuk mempelajari dunia tersebut hingga akhirnya gua tersadar. Bukan hanya itu, sebelumnya gua sempat tertarik untuk masuk ke dalam dunia IT, serta bisnis, karena ada saja hal-hal yang menginspirasi gua untuk melakukan ini dan itu. Semua hal tersebut tentu saja ngebuat gua jadi bingung akan karir gua, dan bahkan buat gua jadi takut. Jika gua tidak memilih salah satu, apa yang akan terjadi pada hidup gua? Sekarang ini gua hanya mengikuti arus. Padahal gua ingin sekali menjadi seseorang yang bisa mengontrol kehidupannya sendiri.

Entah apakah karena gua kurang fokus atau produktif, yang pasti gua jadi malas bukan main untuk konsisten mengejar mimpi gua. Padahal tiap berangkat atau pulang kerja, gua selalu berpikir positif dalam tiap impian gua. Gua merasa kalau gua akan sukses jika berhasil mengejar semua impian tersebut.

Gua pernah nonton beberapa film tentang kesuksesan seorang tokoh. Ada yang sukses karena dia konsisten terhadap satu impiannya, tapi ada juga yang sukses karena mampu multi tasking, atau dia bisa hebat dalam beberapa hal. Gua pun berkeinginan untuk bisa hebat dalam beberapa hal, namun sepertinya gua harus memikirkannya lagi. Karena ada banyak faktor yang ngebuat gua harus segera memperbaiki hidup gua saat ini. Salah satunya adalah masalah financial.

Umur gua sekarang 23 tahun, dan tersisa 5 bulan lagi untuk mencapai 24 tahun. Padahal gua sudah berencana untuk bisa bebas dalam financial sebelum umur 25 tahun sama seperti Merry Riana (Filmnya menginspirasi gua banget). Tapi hingga sekarang gua masih boros, dan terkadang merasa susah karena uang. Gua pun bukan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang hebat habis, tapi jelas masih cukup untuk hidup sehari-hari. Gua pun berharap bisa memberikan keluarga dan saudara-saudara gua sesuatu dari hasil jerih payah gua sendiri. Sayangnya, gua masih belum bisa karena semua hal yang sudah gua sebutkan di atas.

Mengapa gua menulis hal ini disini? Mengapa gua tidak mencari solusi ke orang lain? Balik lagi ke pernyataan pertama gua di awal paragraf, bahwa tiada satu orang pun yang mampu mengerti 100 persen tentang orang lain. Berdasarkan pengalaman, gua sudah tak mau lagi bercerita ke orang lain tentang hal-hal seperti ini. Karena selain tak puas dengan responnya, gua pun merasa jadi tambah pusing. Yah, mungkin gua memang egois. Maafkan lah....

Apa pun yang akan terjadi berikutnya, gua harap dapat menjadi baik. Tentu saja gua punya rencana akan hidup gua. Dan gua tak akan memberitahukannya disini, hingga rencana gua tersebut berjalan dengan lancar.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath