This is How My Love / Pathetic Story End

Gua gak tau harus menyebut ini apa, mungkin kah "tragedi"? atau kah "kebodohan"?

Pertengahan tahun ini, semua kisah cinta atau bisa gua sebut "pathetic" (menyedihkan) yang sudah gua alami akhirnya berakhir. Serius! Semuanya sudah berakhir. Orang-orang yang gua cintai, sudah tak ingin berbicara dengan gua lagi. Mereka menutup komunikasi dengan gua, yang mungkin untuk selama-lamanya.

Gua gak pernah nyangka, kalau selama 22 tahun gua hidup, gua akan mengalami ini. "Didiami". Pertama kali gua didiami adalah saat gua masih duduk di SMA. Ada seseorang yang gua suka, dan akhirnya ia mendiami gua hingga sekarang. Ia sama sekali tak peduli dengan semua omongan gua. Walaupun gua harus mati sekalipun, gua yakin ia tak akan peduli.

Sama hal nya dengan orang yang sudah gua cintai selama 7 tahun. Kemarin adalah pesan terakhir yang gua kirimi untuknya. Isinya tentang betapa gua membutuhkannya, karena hanya dia orang yang paling gua percayai. Dan itu benar. Hanya dia yang paling gua percaya, tak ada orang lain yang seperti dia. Karena masalah gua sudah sangat besar pada minggu ini. Gua butuh seseorang yang bisa diajak curhat, dan sejak dulu, hanya dia seorang. 

Tapi ia tetap mendiami gua. Meskipun pesan gua sudah dibaca olehnya.

Masalah yang ingin gua sampaikan ke dia pun tentang saat gua sudah didiami oleh pacar dari teman gua, yang dengan bodohnya, gua bisa suka dengan dia.

Sumpah, gua shock habis saat membaca pesan terakhir darinya. Atau disaat ia tak membalas pesan dari gua. Ia ternyata sudah sejak awal membenci gua, ketika gua dengan jujur bilang kalau gua suka sama dia. Padahal sudah sejak awal, gua bilang padanya kalau tak suka, maka tak apa-apa, gua akan menerimanya langsung. Tapi selama enam bulan kemarin, kami sudah melakukan berbagai macam hal, yang jujur, gua sudah terjatuh lebih dalam untuk menyukainya.

Padahal gua sudah putuskan untuk tak akan berbicara dengannya lagi ketika awal bertemu. Tapi gua gagal. Karena gua khawatir dengannya, di kala ia ingin datang ke Jakarta untuk memberikan surprise ke pacar nya alias teman gua sendiri. Waktu itu ia meminta bantuan gua, tapi karena gua sudah jujur terhadapnya kalau gua suka sama dia, jadinya gua bilang kalau gua gak bisa membantunya. Akhirnya waktu ia bilang kalau ia ingin datang ke rumah teman gua yang sangat jauh untuk memberikan surprise, dan gua takut ia akan nyasar dan sebagainya, gua pun langsung menerima permintaannya tersebut.

Gua tau, walaupun gua sudah menolongnya, tapi gua tetap tak akan mendapatkan apa-apa. Jadinya gua terus tak meningkatkan ekspektasi gua, meski sangat susah.

Saat itu ia janji sama gua, kalau ia akan mentraktir sop duren kesukaan gua....

Kemudian, bantuan-bantuan berikutnya selalu datang dari indra perasa gua. Tak bisa gua katakan disini apa saja bantuan dari gua tersebut, yang pasti gua sudah give everything, sama seperti apa yang sudah gua kasih ke orang yang gua cintai selama 7 tahun itu. Gua tau kalau semua itu salah. Semenjak gua membantunya untuk memberikan surprise ke pacarnya, itu adalah sebuah kesalahan besar.

Gua pernah memintanya untuk berpisah secara baik-baik, dengan tentu saja menelponnya. Maksud gua, berpisah untuk tidak berhubungan lagi, sebagai dua orang yang sebenarnya tak memiliki status apa-apa (tapi ia terus menganggap gua teman, dengan semua perbuatan gua yang bukan lah sebuah tipikal persahabatan). Ia pun menerimanya, dan harusnya saat itu memang sangat baik-baik saja. Tapi akhirnya gagal lagi, kami terus berbicara seperti air mengalir....

Hingga minggu ini, saat secara tiba-tiba ia mendiami gua, tak membalas semua pesan gua. Gua pun bertanya ke pacarnya, mengapa ia melakukan hal itu. Lalu, ia akhirnya mengirimi gua sebuah pesan yang sungguh menyakitkan. Seperti yang sudah gua bilang sebelumnya, intinya ia benci sama gua sejak awal. Ia tak ingin berbicara dengan gua lagi sampai kapanpun, katanya....

Saat itu gua sangat benci sama dia. Karena gua sudah menceritakan tentang orang-orang yang pernah mendiami gua secara kasar seperti yang sudah ia lakukan ke gua. Sedih bercampur benci, itu lah kira-kira pesan balasan dari gua untuknya. Gua benar-benar benci dia, tapi juga sedih, karena ada banyak momen yang sudah terjadi, dan gua tak menginginkan kisah ini berakhir dengan penuh kata-kata benci.

Tapi ia sudah melakukannya. Gua pun sudah meminta maaf atas semua kata-kata kasar gua di kala itu. Walaupun ia tak membalasnya, dan sudah membuat gua jadi sangat kecewa, tapi ya sudah lah. Kisah cinta gua akhirnya berakhir sama.

Menyedihkan....

Sampai tulisan ini dibuat, gua masih shock dengan semua hal yang sudah terjadi. Ia benar-benar tak akan memberikan sop duren untuk gua sesuai dengan janjinya dulu....

Mungkin gua memang pantas merasakan semua hal ini. Sejak gua kasih sesuatu  untuk dia, gua memang bukan lah orang yang baik.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath