Melawan Harapan

Ulang tahun gua telah lewat. 4 Juni kemarin akhirnya berakhir penuh penyesalan lagi. Mengapa? Karena gua sempat berharap kalau semua yang sudah terjadi sebelumnya hanya lah sebuah lelucon belaka. Gua harap kalau gua lagi dikerjai oleh dia. Waktu itu gua bertengkar dengan perasaan gua sendiri. Gua pun masih sadar kalau kenyataan memang sudah berubah. Dia benar-benar tak mau mengobrol dengan gua lagi. Jadi, gua terus berusaha menjauhkan harapan tersebut. Tapi gagal, karena hingga akhir bahkan esok harinya, momen yang dapat menstabilkan segalanya tak pernah terjadi.

Sedih sih iya. Sudah pasti. Hati gua ini memang sedang sangat lemah, namun masih topeng dan raga gua masih kuat untuk berhadapan dengan orang lain. Jadi, walaupun setiap pulang kerja gua selalu menangis di kala sedang mengendarai motor, tapi setiap bertemu dengan teman-teman gua atau orang kantor, rasa sedih tersebut pun tak pernah ada. Gua hanya ingin tertawa bersama mereka. Bukannya memberikan kisah sedih gua yang tak akan mereka mengerti ini.

Sampai sekarang hati gua masih lemah. Karena gua tak pernah nyangka, kalau hal ini dapat terjadi lebih dari satu kali. Membuat muka gua menjadi murung. Depresi sekilas.

Lantas, apa yang gua harapkan di hari ulang tahun gua kemarin?

Kali ini gua tidak berharap mengenai siapa pun. Gua menyerahkan orang yang dapat mendampingi hidup gua hanya kepada Tuhan. Ya.... Tidak ada lagi memohon pada orang yang sama. Rasanya lelah setelah bertahun-tahun hidup penuh dengan perasaan mati.

Sekarang gua berjalan seorang diri lagi. Tidak memusingkan orang-orang yang gua suka, mengenai kabar mereka, kapan mau menyenangi hati mereka dengan menonton dan makan, dan masih banyak lagi jika kalian sudah bertemu dengan gua dan mau menanyakan hal apa saja yang sudah pernah gua lakukan pada saat gua sedang jatuh cinta.

Tapi.... sory gua gak bisa bohong juga. Gua masih mengharapkan kalau ini semua adalah sebuah rekayasa. Semoga hati gua lebih mendukung hal terburuk yang sudah terjadi, bukannya terus memandang sebuah cahaya yang hanya lah ilusi.

Lebih cepat lebih baik gua melawan semuanya.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath