Tentang Film "Fifty Shades of Grey"

Setelah para perusahaan film besar saling berebut hak produksi untuk mengadaptasikan novel terkenal yang berhasil mengalahkan rekor penjualan melebihi Harry Potter ini, lalu juga setelah para pembaca sudah menunggu lama untuk menyaksikkan serentetan lembar kertas tersebut hingga akhirnya menjadi sajian audio visual, yup, tahun 2015 ini pun kita bisa terpuaskan sebab Fifty Shades of Grey sudah lepas ke seluruh pasar dunia, baik itu dengan bumbu kontroversi maupun tidak.

Novel erotis karya E. L. James yang sudah membuat banyak wanita menjadi tergila-gila ini sayangnya tak bisa hadir di Bioskop Indonesia. Namun dengan kekuatan teknologi, kita bisa menyaksikannya di berbagai situs streaming.


Tentu saja hal pertama yang paling mengundang misteri adalah sosok fenomenal dari Mr. Grey itu sendiri. Seorang pria sukses berumur 27 tahun, dan sudah dipercaya untuk memegang perusahaan besar milik keluarga angkatnya.

Sosok yang bernama lengkap Christian Grey (Jamie Dornan) ini bisa langsung kita lihat sejak adegan awal, ketika Anastasia Steele (Dakota Johnson), seorang wanita polos dengan latar belakang yang biasa-biasa saja, sedang mewawancarai Mr Grey untuk kebutuhan kampusnya. Namun siapa yang sangka, ternyata pertemuan tersebut mampu membuat Christian menjadi jatuh hati terhadap Anastasia.



Sejak itu, Christian pun mulai melakukan pendekatan ke Ana, seperti mengunjungi tempat kerja paruh waktunya, dan memberikan hal-hal yang sedang Anastasia butuhkan. Walaupun Ana juga tertarik terhadap Mr. Grey dan sangat menyukai semua hal yang dilakukannya, tapi pada saat ia diajak ke apartemen pribadi Christian dan melihat sesuatu yang tak pernah disangkanya, perasaan bimbang yang begitu besar harus Ana rasakan.

Mr. Grey memang adalah sosok yang perfect untuk para wanita, apalagi usianya masih sangat muda. Tapi sayangnya, ia memiliki hobi yang sangat jarang dimiliki bahkan disukai oleh orang lain, yaitu BDSM. Gejolak seksualnya bisa terpuaskan jika ia melampiaskannya dengan benda-benda seperti cemeti, borgol, dan lain-lainnya yang menjadikan wanita bak seorang budak.

Anastasia tentu sangat terkejut,. Ia pun dihadapkan pada sebuah kontrak dari Mr. Grey yang berisi perjanjian mengenai hubungan seksual secara BDSM tersebut. Jika Ana sudah menandatanginya, maka Mr. Grey siap untuk mendominasi kehidupan Ana dengan benda-benda kesayangannya itu. Tapi Ana masih diberikan waktu. Ia terlihat masih belum siap untuk memasuki dunia yang belum pernah ia jamah sepanjang hidupnya itu.


Kisah cinta romantis yang bercampur dengan gejolak seksual yang selalu terjadi ini memang adalah kekuatan dari novel Fifty Shades of Grey. Tak lupa dengan tambahan BDSM yang begitu menantang tersebut. Tapi saat ia sudah menjadi audio visual, ternyata cukup mengecewakan.

Entah hanya di Indonesia atau dimana, adegan seksual yang ditampilkan tak begitu sesuai dengan ekspektasi para penontonnya, ditambah dengan banyaknya pemotongan adegan yang sungguh kasar. Tema BDSM nya pun seperti tak berguna. Semua mainan Mr. Grey yang sudah diperlihatkan dalam ruang 'play room' di awal, akhirnya hanya sebatas cemeti, borgol, dan dasi yang tak berguna itu. Hingga akhir film, klimaks yang tercipta sungguh kecil. 


Untung saja chemistry yang ditampilkan oleh Dakota Johnson dan Jamie Dornan bisa dibawakan dengan baik, sebaik yang terjadi di Twilight (agak mirip kisahnya, hanya tak ada vampire dan manusia serigala disini). Soundtrack yang dipadukan juga sudah membawa film ini menjadi tidak seperti blue film murahan (Beyonce - Crazy in love & The Weeknd - Earned It). Semoga saja kelanjutan ceritanya, Fifty Shades of Freed bisa lebih memborgol dan memecut para penontonnya dengan sangat KERAS!

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath