Kelemahan Sejati

Bagaimana cara membawa perasaan sedih ini menjauh dari kehidupan kita? Seakan tak pernah kenyang, rasa ini selalu mengisi dan mengisi. Ataukah perasaan ini adalah suatu kekosongan? Sehingga bukan lah sesuatu yang bisa mengisi? Lalu mengapa harus selalu kosong? Menjadi begitu hampa, tanpa ada kebahagiaan pasti yang bisa menyemangati hidup ini. 

Apakah harus bahagia agar kita menjadi semangat?

Gua tak mengerti tentang kehidupan. Begitu banyak misteri di dalamnya. Tentu saja banyak manusia yang berusaha untuk memecahkan semua misteri tersebut. Tentang mengapa kita bisa begini, atau begitu, atau cara melakukan ini, dan itu. Semua mencari solusi, sedangkan gua hanya tertidur dalam balutan kepedihan yang tak pernah lepas ini.

Diri gua kah yang salah hingga merasakan kepedihan ini?

Kata salah seorang kenalan gua, gua begitu menyembah cinta. Gua tak bisa lepas darinya. Gua begitu berperasaan, sampai hal ini lah yang menjadi kelemahan gua selama ini. Mungkin memang benar. Butuh waktu yang sangat lama agar gua bisa menghilangkan semua itu. Mungkin Tuhan sedang membantu gua untuk menghilangkan kepedihan akan cinta ini. Satu persatu, Tuhan memperlihatkan pada gua kalau orang-orang yang sudah mengambil hati gua harus segera gua lupakan.

Pertama, dia yang sudah gua kejar selama tujuh tahun. Akhirnya sudah memiliki kekasih, dan semoga ia selalu berbahagia bersama orang itu.

Kedua, ia........ Ia tak akan pernah menggenggam tangan gua. Karena ia sudah memiliki kekasih, yaitu teman dekat gua, dan ia tak akan pernah menyukai gua.

Ketiga, keempat, dan lain-lainnya, sama saja. Berakhir tak baik. Semuanya hanya memutar dan mengobok perasaan gua, yang mungkin mereka sendiri tahu, atau tidak tahu sama sekali.

Gua tak peduli. Tuhan sudah memperlihatkan hal yang nyata. Bukan khayalan yang selalu gua bangun sejak diri ini masih menginjak bangku empat SD. Dimana imajinasi itu dimulai dengan harapan yang sungguh besar akan cinta. Akan seseorang yang selalu gua inginkan.

Apakah ada seseorang yang mengerti dan bisa membahagiakan diri ini? Gua ingin menanyakan ini pada Tuhan. Setidaknya satu kebahagiaan yang pasti, dari seseorang yang tak main-main dengan perasaan gua.

Gua hanya ingin menangis bahagia, saat ada seseorang yang gua cinta, ternyata bisa balik mencintai gua. Mungkin caranya tak sama seperti gua, gua tak peduli dengan cara apa pun.

Sungguh, gua sangat lemah akan hal ini. Membuat gua jadi layaknya tak berguna, dan terus bermimpi seperti rumput liar yang berharap tak pernah dipetik.

Malam ini gua sungguh sedih. Gua ingin Tuhan mendengarkan. Walau gua sudah diperlihatkan banyak kenyataan. Gua tahu kalau gua tak akan pernah bahagia jika terus mengejar orang yang tak pernah menyukai gua.

Apakah gua harus berhenti mencintai? Berhenti berbuat baik?

Gua tak tahu bagaimana harus menghilangkan kekosongan ini. Kesedihan yang tak pernah berakhir. Orang tua gua pun tak pernah tahu tentang perasaan ini.

Gua hanya ingin merasakan sebuah tangisan bahagia. Bukan tangisan karena rasa sakit lagi. 

Tuhan, saya terlalu lemah. Maaf, tapi tenang, saya akan terus melanjutkan hidup. Karena Tuhan sudah memperlihatkan banyak sekali kenyataan hidup.

Saya sungguh lemah. Semoga saja orang-orang yang sudah membaca ini tak akan pernah selemah saya. 

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath