What I Want?

Di kala usia bertambah, maka pengalaman akan mengajarkanmu sesuatu. Hal ini sudah sering kita dengar setiap hari. Namun walaupun sudah sering, tetap saja masih ada orang yang tetap berkelakuan bodoh ketika hal yang sama terjadi lagi. Sama seperti gua, yang bisa dikatakan seperti seekor keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama. Ah, mungkin terjatuh itu memang lebih menyenangkan daripada terus melangkah ke depan.

Jangan mengikuti pernyataan terakhir dari gua tadi. Itu tentu saja salah, karena kita hidup untuk berada di garis finish. Kejadian yang sama dengan keputusan yang benar, akan membuat kita makin melangkah ke depan.

Lalu apa itu definisi dari keputusan yang benar? Jika disandingkan dari pengalaman hidup, kita sendiri lah yang tahu yang mana yang benar. Karena terkadang, jika kita campurkan dengan pendapat dari orang lain yang mungkin juga pernah mengalami hal yang sama, bisa jadi keputusan yang diambil itu tetap lah salah. Kecuali untuk jawaban untuk hal-hal yang ilmiah, yang memang memiliki angka yang tetap untuk menentukan sebuah kebenaran. Sedangkan kita, adalah makhluk sosial, dengan isi otak yang berbeda-beda. Dalam kuliah, secara kualitatif, hal tersebut dapat dijelaskan secara matang.

Hidup gua kini sudah mencapai di usia yang ke-22 tahun. Banyak pengalaman yang sudah gua dapatkan. Gua makin menemui diri gua sendiri. Gua makin mengerti bagaimana caranya bersosialisasi. Yup, hal yang selalu gua cari ketika gua kecil. Perlu waktu lama untuk mempelajari hal ini, dengan terus menjadi kuat di tiap detiknya.

Gua mempelajari apa arti dari perpisahan, dan bagaimana caranya menerima sebuah kenyataan. Gua yang sejak dulu terbiasa hidup sendiri, kini bisa memiliki banyak pengalaman di sebuah komunitas sosial di kala sedang hang out mencari sebuah entertainment seperti menonton, makan, bercerita, bahkan bergosip.

Namun disaat gua sudah sering mendengarkan dari semua kehidupan sosial gua, gua pun menjadi berpikir tentang banyak keputusan gua di dalam hidup. Baik itu tentang kisah asmara gua, pekerjaan gua, dan banyak hal lagi.

Gua pernah berpikir matang tentang apa saja hal yang akan gua lakukan setelah lulus kuliah. Yaitu mencari pekerjaan dan tetap melanjutkan hobi gua. Tapi akhirnya menjadi gagal karena mungkin gua masih tidak bisa menjadi seseorang yang pintar yang tentu saja bisa menjawab berbagai macam pertanyaan ketika dia sedang di interview kerja di perusahaan yang besar.

Sekarang ini gua sedang pusing dengan pilihan gua tentang bekerja dan melanjutkan hobi gua, plus tetap keep in touch with all of my friends. Gua merasa harus lebih pintar untuk mengambil kesimpulan dari semua ini.

Mungkin gua memang harus menghilangkan jiwa kapitalisme di dalam diri gua ini. Tapi gua sangat membutuhkannya. Gua tak ingin terikat di dalam pekerjaan yang tiba-tiba saja membuat gua menjadi BT. Padahal jiwa gua memang sudah ada di dalam dunia teater sejak lama. Namun apakah dunia teater dapat di appreciate di Indonesia? Apakah masih bisa diuangkan? Gua pun sangat suka nulis, dan sudah bisa diuangkan.

Ah! Gua butuh waktu untuk mengeksplore lebih tentang hal yang gua inginkan di dalam kehidupan gua. Khususnya untuk sekarang adalah dalam hal bekerja. Tapi keuangan berkata beda. I need money every month.

Mungkin gua hanya harus tetap berjalan sekarang, dengan keputusan yang gua tak tahu apakah benar atau salah. Sehingga gua tak tahu apakah gua sedang terjatuh atau tidak.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath