Perubahan Pola Pikir Setelah Lulus Kuliah

Ada beberapa persepsi yang kini telah berubah di dalam kehidupan gua. Pola pikir sebelum kuliah dan setelah lulus kuliah, benar-benar berubah 180 derajat. Dalam menemukan jati diri ini, akhirnya gua bisa menentukan yang mana yang terbaik untuk hidup gua. Tentunya ada konsekuensi yang harus gua tanggung.

Pertama, saat pikiran gua berkata,"berteman lah dengan siapa saja." Hal ini gua lakukan semasa sekolah dan berkuliah. Siapa pun gua senyumi dan baiki. Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Jikalau hanya sekadar senyum dan baiki, itu memang wajib gua lakukan tiap hari. Tapi untuk menjadikan mereka sebagai teman seterusnya, atau mengikatkan sebuah benang kehidupan, rasanya tidak - untuk sekarang. Karena gua sadar setelah mendekati akhir kuliah, kalau ada beberapa orang yang 'berengsek' yang telah melakukan hal yang semena-mena di dalam kehidupan gua ini.

Pernah ada seorang pria yang bilang kalau gua itu 'kepoh' dengan tatapan tak suka saat pertama kali bertemu. Waktu itu sedang OSPEK di kampus gua, dan dia satu grup dengan gua. Padahal gua sudah tersenyum dan berkata-kata yang oke di depan dia. Gua pun mencoba untuk berteman dengannya. Tapi tiba-tiba dia berkelakuan layaknya 'sampah'. Dia menjadi belaga 'tinggi' di depan gua, yang mungkin karena gua kurus dan tidak terlihat pintar. Lalu kata kurang ajar itu pun keluar dari mulutnya.

Awal masuk kuliah, gua selalu berusaha untuk menjadi orang yang bisa diterima. Gua berusaha untuk membuat orang-orang yang baru gua kenal jadi senang. Tapi ternyata hal itu sangat salah.

Karena ada lagi orang yang berbuat seenak jidatnya pada diri gua. Dimana orang ini begitu idiot, padahal ia meminta tolong sama gua. Berkali-kali ia membuat gua kesal, sampai akhirnya kata-kata kasar yang sudah lama tak terucap di bibir gua pun keluar. Namun orang ini idiot, jadinya ia tak pernah merasa bersalah.

Seiring berjalannya waktu dengan penuh pembelajaran akan kehidupan. Gua pun memutuskan untuk berhenti berteman dengan MEREKA yang sudah sering kurang ajar pada gua semasa kuliah, bahkan sekolah. Lewat SOSMED, gua delcon mereka, tak peduli orang lain akan bilang apa tentang gua. Muka dua kah, jahat kah, atau apa lah. Gua hanya ingin merasakan sedikit rasa tentram dimana situasi kehidupan gua makin tak terkontrol sekarang.

Jadinya, berteman itu memang musti dipilah-pilih. Ada saringan yang harus kita buat berdasarkan tingkat kemantapan kita untuk berteman dengan orang-orang tersebut.

Selama ini gua sudah bodoh. Gua masih tersenyum terhadap mereka yang belaga 'cool' dengan tak membalas senyuman gua. Akhirnya gua pun jadi terlihat tolol sekali.

Perubahan harus terjadi. Hingga kedua, gua yang dulunya selalu merasa bisa melakukan segala sesuatunya sendiri, akhirnya berubah jadi 180 derajat juga. Kata-kata independent yang selalu gua kumandangkan pun menjadi kurang berlaku di dalam dunia kerja.

Thanks buat mantan Bos gua yang telah bilang kalau gua butuh bantuan dalam dunia kerja. Waktu kuliah memang gua bisa mengatasi segala sesuatunya sendiri. Tapi untuk pekerjaan, kerumitan makin luar biasa. Gua harus lebih disiplin untuk mengatur segala hal. Gua harus tetap keep in touch dengan teman-teman gua yang tak terlalu bermasalah dengan gua!

Jujur saja, semenjak lulus, permasalahan hidup gua makin luar biasa. Soalnya hal ini bersangkutan dengan 'pengeluaran' dan 'pemasukan', atau uang lebih tepatnya. Jikalau tidak ada uang, maka gua akan sulit hidup.

Dalam mencari pekerjaan pun, ada banyak faktor ini itu ono yang harus gua pikirkan. Katanya, harus sesuai passion. Tapi sepertinya passion gua sudah mau punah. Karena ada banyak hambatan yang sedari tadi gua katakan kalau sudah sulit untuk gua kontrol.

Kehidupan gua memang semakin sulit sekarang. Ditambah masalah percintaan yang sudah amburadul, Ah! Sekarang pilihannya jadi ada dua: menggalau atau terus berusaha?!

Tentu saja gua harus terus berusaha, karena tuntutan sebuah profesionalisme semakin besar. Keinginan gua untuk diperlakukan sebagai manusia, rasanya sudah berakhir. Gua bisa-bisa jadi sebuah robot saat sedang bekerja.

Kecuali dalam bersosialisasi, dengan pola pikir yang sudah berubah seutuhnya, kini gua bisa membuang topeng gua ke lautan paling dalam. Lalu menunjukkan, betapa gelapnya hati gua sejak dulu. Semoga bisa bersih setelah ini.

Thanks
God bless you all....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath