Impian VS Tekanan

Sudah Bulan Febuari, dan gua belum melakukan salah satu hal yang menjadi impian gua di tahun ini, yaitu memiliki sebuah buku pribadi yang terbit di Gramedia. Padahal gua sudah membuat isinya, tapi belum ada waktu untuk mengirimkannya ke penerbit. Ah, gua takut untuk gagal lagi.

Pikiran gua seperti pedang yang lancip. Ia selalu mengingatkan semua mimpi gua tiap harinya. Walaupun keadaan sedang tertekan bukan main, tapi semua impian yang pernah gua tulis di dalam blog gua tak kunjung berhenti menonjok batin ini. Gua selalu dikejar oleh impian gua. Karena gua belum melangkahkan kaki ini menuju ke next step.

Tentu saja gua yakin kalau impian gua ini akan menjadi nyata. Semua yang gua tulis sudah pasti harus penuh dengan keyakinan. Terkecuali untuk kisah cinta gua, yang sepertinya sudah ada puluhan post yang gua curahkan, tapi berujung pada jalan yang tertutup tanpa ada pintu sama sekali.

Semua tekanan di dalam kehidupan gua sekarang memang sangat luar biasa. Gua bisa kerja hingga tengah malam, sama seperti sekarang, dimana gua sedang singgah di Sevel hanya untuk mencari wifi. Entah mengapa selama 1 bulan ini internet di kos gua mati total! Parah sekali! Gua tak mau balik ke sevel lagi sama seperti yang pernah gua lakukan saat kuliah dan nge kost di Mangga Besar. Ayolah!

Balik lagi ke tekanan. Rasanya gua sudah tak sanggup untuk melakukan semua ini. Mungkin gua butuh pekerjaan lain yang memiliki waktu dan hal-hal yang bisa mensejahterakan gua.

Gua pernah berpikir kalau impian gua bisa tercapai jika gua bisa berkorban. Mungkin dengan tidak masuk sehari untuk mengirimkan naskah cerita hidup gua ke penerbit. Tapi gua rasa gua harus berkorban lebih besar lagi. Karena impian gua bukan hanya itu. Mungkin gua memang harus mencari pekerjaan lain. Itu lah pengorbanan yang sangat besar, dan saking besarnya gua bisa-bisa akan sulit cari kerja lagi nanti. Hahahaha!!!

Walau bagaimana pun juga, gua butuh uang. Tiada yang bisa mengalahkan itu. Gua butuh uang untuk bayar kost an gua, dan juga memberikan tubuh gua yang kurus ini makanan.

Intinya, besok gua harus melakukan sesuatu yang lebih oke lagi.

I hope.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath