Cerpen Valentine: Tugas Akhir Kuliah

Siapa yang akan peduli ketika kita sedang jatuh cinta? Khususnya saat jatuh cinta dengan seseorang yang tak membalaskan cinta kita. Walaupun teman-teman kita selalu mendengarkan semua curahan hati kita tentang betapa besar perasaan kita terhadap orang tersebut, mereka pun hanya bisa mengangguk tanpa berusaha membuat kita sampai jadian dengannya.

Sampah.

Aku bertemu dengannya saat sedang mencari buku di perpustakaan. Aku sedang berusaha mendapatkan buku referensi untuk menyelesaikan skripsi ku yang tiga hari lagi harus segera dikumpulkan soft cover nya. Lalu aku bertemu dengannya. Sesosok manusia yang tingginya sama sepertiku, kemudian bertanya,

“Sory, buku khusus anak psikologi di sebelah mana ya?”

Aku bingung harus menjawab apa, karena aku memang tak tahu jawabannya. Aku sekilas terpana terhadap mukanya, lalu aku pun menjawab,

“Gak tau gua mah.”

“Oh. Thank you. Gua coba cari di sebelah sana.” Jawabnya dengan sangat sopan. Aku makin terpana melihatnya.

Gejolak hati ini muncul tanpa diundang. Padahal aku sedang pusing memikirkan nasib skripsiku, tapi apa daya, sebuah pengalih perhatian langsung menimpa hati ku yang sedang sepi ini.

Yup, sudah tiga tahun aku tidak pacaran. Rasanya sangat bebas ketika berhasil keluar dari genggaman sang mantan yang sangat posesif tersebut. Bayangkan, gara-gara dia aku jadi tak bisa bersosialisasi dengan teman-teman kuliahku, sehingga sekarang temanku hanya ada dua, yaitu Gerald dan Kimmy. Dua anak malas yang tak bisa aku andalkan untuk membantu tugas akhirku, namun sangat bisa diandalkan untuk membuatku tertawa. Andai saja waktu itu aku tak mudah jatuh cinta karena paras si mantan, pasti skripsi ku bisa terbantu dengan cepat.

Ah, lupakan mereka semua, mantan dan kedua temanku. Karena sekarang, aku jadi terfokus dengan orang baru ini, yang akhirnya bisa menemukan buku cariannya. Apakah ia anak angkatan bawah? Atau kah Kakak kelas yang bodoh, yang sedang mengulang skripsinya? Coba aku cari tahu. Gini-gini aku berani loh hehehe....

“Sory, udah ketemu nih bukunya?” Tanyaku sambil tersenyum kepadanya.

“Iya nih udah. Ternyata buku psikologi gak terlalu banyak yah di kampus ini.”

“Iya, kan mahasiswanya memang dari dulu paling sedikit. Elu anak baru yah?”

“Oh bukan. Gua dari kampus lain. Gua lagi cari buku referensi untuk skripsi.”

Waduh, seumuran nih berarti.

“Oh gitu. Terus kenapa bisa nyasar sampe kesini.”

“Kata teman gua, buku yang gua cari hanya ada disini. Lihat tahunnya.” Ia pun menunjukkan lembaran terbit bukunya.

“Oh iya. Emang disini banyak buku-buku jadul sih hehe....”

“Good deh buat gua yah hahaha....”

Setelah itu kami terdiam sejenak, karena aku sendiri tak tahu harus bicara apa lagi terhadapnya.

“Eh, harga makanan disini yang paling murah berapaan?” Tanyanya sambil mengelus-elus perutnya.

“Udah laper banget yah. Mau gua jadi tour guide lu nih?” Aku pun langsung menawarkan diri dengan sangat percaya diri.

“Boleh. Yuk.”

Tidak! Dengan cepat aku sudah membuka sebuah pintu yang telah lama terkunci rapat. Tapi dia duluan yang mengajakku makan. Ah, awas aja jika dia PHP!

Ketika sedang berjalan menuju kantin, kami terus mengobrol tanpa henti. Ia banyak cerita tentang perkuliahannya yang katanya sangat sesuai dengan kesukaannya selama ini. Ia selalu ingin melihat diri seseorang secara mendalam, dan katanya, ia pun ingin mengenalku jauh lebih dalam. Aku menjadi terenyuh saat mendengar perkataannya itu. Rasanya ia terlihat sangat baik dan natural. Jika aku sentuh mukanya, pasti tak ada topeng yang menutupi senyumannya itu.

Sepertinya aku sedang lelah.

“Hey, elu gak makan?” Tanyanya saat kami sudah sampai di kantin, dan dia sedang bersama ketoprak kesukaannya.

“Gak deh. Gua udah makan tadi.”

“Yah, sayang banget. Padahal gua mau traktir lu.”

“Masa baru ketemu udah langsung traktir sih?” Tanyaku penasaran. Aku harap karena dia memang suka terhadapku. Hahaha.... aku terlalu berharap.

“Gak. Setiap ketemu orang baru, gua emang suka traktir mereka. Agar mereka bisa lihat betapa baiknya gua.” Katanya sambil tertawa. Ah, dia memang orang baik!

“Ya sudah. Bodo amat deh gua. Makan saja sana.” Kataku sambil terus tersenyum dan terpana.

“Ngomong-ngomong, elu ini gaul yah. Pasti punya banyak teman.” Katanya sambil melahap makanannya itu.

“Salah lu. Temen gua aja cuman dua disini. Emangnya lu mikir gua kayak apaan?”

“Ya soalnya sama gua yang baru lu kenal aja, bisa sampe sebaik ini. Orang kayak lu pasti punya banyak teman lah.”

Habisnya kamu lucu. Bagaimana aku tidak baik?!

“Ya.... gua liat lu kayaknya lagi kesusahan tadi. Ya udah deh, buat amal lah sementara.”

“Emangnya gua apaan hahaha....” , “Tapi elu kenal kan sama teman-teman sekelas lu?”

“Iya lah gua kenal. Masa udah empat tahun kagak kenal.”

“Mereka emangnya cuek sama lu, sampe elu cuman punya teman dua?”

“Gak juga. Soalnya ada hal yang buat gua jadi gak bisa berteman sama mereka.”

“Apaan tuh?”

“Nanti aja. Kalau kita ketemu lagi yah, gua ceritain. Kita baru ketemu sekali cuy.”

“Iya ngerti-ngerti. Sory yah, gua langsung nembak gini.”

“Gak apa-apa.”

“Oh iya, teman-teman sekelas lu ada berapa sih?

“Hmm... kurang lebih 30 orang. Kenapa?”

“Mau iseng tanya aja hehe.... Kalau yang lu liat, mereka semua bertemannya gimana yah modelnya? Masa dari 30 orang yang nyantol cuman dua ke kamu.”

“Ya susah lah. Mereka semua kan berkelompok. Satu kelompok aja bisa tujuh orang. Biasa lah perkuliahan, pasti yang cantik ngumpulnya sama yang cantik, yang kutu buku juga kumpulnya sama yang sejenis. Tapi kalau lagi ujian, yang cantik berkumpul sama yang kutu buku. Gak pernah berubah lah ya.”

“Oh gitu. Mereka semua lagi ada di kampus gak tuh hari ini??”

“Sepertinya gak ada. Soalnya gua bisa ke perpus waktu lagi gak ada jadwal kuliah. Ngomong-ngomong, ada apa sih memangnya?” Tanyaku yang mulai penasaran

“Ya bagaimana yah. Gua sebenarnya butuh bantuan banget nih.”

“Bantuan apa?”

“Jadi gua lagi buat skripsi, dan butuh informan sebanyak mungkin. Gua butuh kampus lu untuk jadi obyek penelitian gua. Mau gak lu tolongin gua?”

Aku terdiam sejenak karena kaget dengan pernyataannya tadi. 

Sialan! Sudah deh. Pertemuan ini harus berakhir.

“Oh gitu. Yaaa..... bagaimana ya? Eh tunggu sebentar, ada Line dari temen gua nih kayaknya.”

“Ok.”

Aku pun pura-pura melihat handphone ku. Walau line ku isinya notification get rich semua, tapi aku berusaha terlihat serius.

“Ah sorry, gua harus pergi. Kedua teman gua ngajakin nonton sekarang. Filmnya udah mau mulai katanya. Sorry yaa....” Bohongku padanya.

“Yahh.... ya sudah deh. Tak apa-apa. Thanks yah.”

Dengan cepat, aku beranjak dari kursi dan pergi dari kantin terkutuk tersebut.

Aku benar-benar kecewa terhadap diriku sendiri. Mengapa aku bisa mudah sekali suka terhadapnya?! Padahal pertemuan kami begitu singkat. Mengapa aku jadi merasa sangat murahan?! Perasaan ku ini seharusnya mahal, tidak murahan seperti tadi. Ah, kedua teman malasku pasti hanya mengangguk dan tertawa saat mendengar hal ini. Padahal jujur, aku masih suka terhadapnya.

“Hey kamu. Tunggu!” Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan. Saat aku menengok ke belakang, ternyata dia sedang berlari menuju ke arahku. Aku jadi terpaku.

“A-ada apa?” Tanyaku kebingungan.

“Gua gak enak banget sama hal tadi. Gua jadi ngerasa kayak habis manfaatin lu banget. Sorry yah.” Tiba-tiba ia memberikanku sebuah coklat sekaligus secarik kertas putih yang terlipat. “Happy valentine yah.” Kemudian ia pergi dan tersenyum manis kepadaku.

Saat aku buka lipatan kertas tersebut, aku melihat dua belas digit nomor, yang aku yakin ini adalah nomor dari kartu XL.

Apa maksudnya ini? Aku sama sekali tak mengerti. Namun satu yang pasti, aku jadi tak tahu apakah arti dari ‘murahan’ tersebut.

Payah. Rasa ingin tahu jadi melebur parah lagi.

-- Tamat --

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath