Cerpen Valentine: Nightlife in Jakarta

Jika teman-temanku pernah mengatakan bahwa aku adalah anak yang baik, maka mereka sangat salah! Khususnya untuk malam hari ini.

Karena sebuah kisah cinta yang terlalu bodoh, dimana aku telah mengejar seseorang selama tujuh tahun, dan kini ia sudah menjadi milik orang lain, aku pun rela melakukan apa saja agar penyakit dalam dada ini bisa tersembuhkan.

Kata orang-orang di TV, bahkan para saksi bekas anak nakal di tempat ibadah ku, mereka selalu berkata bahwa narkoba, clubbing, dan merokok itu adalah kebiasaan yang dimulai dari rasa ingin tahu. Banyak dari mereka yang diajak oleh teman dekat mereka. Kemudian, mereka terlalu bodoh hingga menjadikan semua itu sebagai bentuk kebiasaan sehari-hari.

Untuk kasus ku sekarang, aku sangat ingin mencoba salah satu dari ketiga hal tersebut. Sayangnya, teman-temanku kebanyakan adalah anak yang taat beribadah. Dan saking baiknya, mereka semua tak ada yang bisa membantuku untuk menyembuhkan penyakit dalam dada ini. Jadinya aku mulai mencari kenalan bekas tempat kuliahku yang ku anggap nakal.

Darren. Ia bisa diandalkan dalam hal ini. Namanya langsung muncul di benakku saat ini. Ia adalah anak orang kaya yang masih belum lulus kuliah. Kira-kira sudah 5 tahun, atau 10 semester ia jalani. Padahal Darren adalah teman pertama ku waktu sedang OSPEK, tapi ia lebih memilih berteman dengan anak-anak yang nakal setelah itu. Ia menganggapku tidak seru.

Sekarang mungkin aku bisa membuatnya bangga.

Betul saja, sejak aku 'line' Darren, ia langsung mengajakku hang out besok malam, pas di malam valentine, dimana ia juga masih memegang status single sama sepertiku. Baiklah, aku akan berpakaian dengan spektakuler esok malam, karena katanya, club yang akan kami datangi besok sedang memiliki acara khusus untuk para jomblo. Pasti akan sangat meriah!


***

Tepat pukul 11.00 dimana Darren menjemputku dengan mobilnya tepat di depan kos pribadiku.

"Lu siap happy gak malem ini?" Tanyanya sambil menyetir.

"Gak tau deh. Ini baru pertama kalinya buat gua. Pasti bakal awkward."

"Tenang, gua tau gimana cara buat lu jadi asyik nanti."

"Lu mau ngapain gua? Awas ya kalau aneh-aneh."

"Liat aja nanti."

Akhirnya sampai juga kami di depan gedung tujuan. Lokasinya ternyata cukup strategis, karena masih banyak pusat jajanan malam seperti MCD, KFC, Starbucks, dll. Sepertinya tempat ini sangat mahal. Hmm... Uang 300 ribu ku cukup tidak yah untuk masuk nanti?

"Apa?! Duit masuknya 400 ribu?! Serius lu?!" Tanyaku kaget saat kami sudah di depan kasir.

"Hahahaha.... bener de, lu pasti bawa duit pas-pas-an kesini. Iya, soalnya kan lu bakal dapetin minuman yang bisa buat lu happy. Jadi gak ada duit ni lu?"

"Ya...." Aku pun mendekatkan mulutku ke kupingnya. "Gua pinjem duit lu dulu deh cepek. Boleh ya?"

"Hahahaha....." Ia pun tertawa terbahak-bahak. "Tenang-tenang. Udah, gua cuman bercanda kok." Lalu ia bicara ke mbak kasir nya. "Mbak, GL yah, passwordnya Juice."

"Ok, have fun yah mas." Kata mbaknya.

Aku jadi kebingungan.

"Maksudnya apa tadi Darren?" Tanyaku.

"Kita masuk gratis. Enak kannn...."

"Kok bisa??"

"Iya lah, gua kan punya bekingan disini. Udah lu jangan banyak nanya. Sekarang kita happy-happy aja."

Saat pak satpam membuka pintu menuju ke lokasi club, aku pun cukup ternganga. Karena desain interior nya bisa dikatakan mewah, berbeda dari apa yang sering ditampilkan di berita-berita. Tapi pantas saja, jika dilihat dari para pengunjung, kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan menengah atas, berbeda dari abang-abang yang sering ditangkap dan dimasukkan ke berita.

"Sekarang ngapain nih kita?" Kataku sambil teriak ke Darren, karena suara beat musiknya kencang sekali.

"Gua mau kenalin lu ke teman-teman gua disini. Lalu kita mabokkk!"

Kata artikel yang aku baca, kalau ke club tidak minum, maka tidak asyik. Tidak apa-apa deh. Aku cobai saja semua hal yang disuruh oleh Darren.

Saat kami sudah sampai di tempat duduk dimana terdapat kurang lebih lima orang teman dari Darren, aku pun diajak berkenalan dengan mereka semua. Untungnya mereka sangat welcome terhadapku, jadinya aku tak perlu takut ditolak di kalangan mereka. 

Tepat sekali saat aku datang, minuman beralkohol pesanan mereka langsung datang. Aku sama sekali tak mengerti jenis minuman ini. Karena ada api yang mewarnai di atas cairan dalam gelas tersebut.

"Ini bintang ya?" Tanyaku kepada mereka semua.

Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

"Sorry, we don't drink beer like that. We drink wine!" Kata salah seorang teman Darren.

"Kenapa begitu?" Tanyaku lagi penasaran.

"Bir itu bisa ngerusak badan lu. Lu gak liat noh banyak orang yang perutnya buncit. Itu gara-gara beer! Better you drink this. Do you want to fly?"

"Oke."

Kemudian kami semua mengambil minuman kami masing-masing, dan meniup apinya, lalu,

"CHEERS!!"

"Oh my God?!" Kata ku saat baru seteguk ku telan minuman yang rasanya sangat aneh ini. Ekspresi mukaku langsung terlihat kacau.

Mereka semua pun tertawa lagi saat melihatku.

"Ya ampun Darren. Lu bawa anak baik-baik ya kesini?"

"Gak. Kalian jangan panggil gua anak baik-baik yah." Rasa tertantang langsung muncul di seluruh aliran darahku. Aku memang sudah tahu bahwa semua minuman beralkohol itu rasanya akan sangat aneh untuk pertama kalinya. Akhirnya aku pun langsung mengangkat gelas minumanku, dan dengan cepat aku teguk semuanya.

"Gila! Mantep banget lu!!" Kata salah seorang dari mereka.

Aku pun menutup mata selama beberapa menit. Dan tiba-tiba saja kepala ku langsung terasa melayang, tapi entah mengapa, it feels so good. Aku pun tersenyum sejenak.

"Wah, udah mulai ni anak. Cepet banget yah."

"Gua beri lagi deh." Salah seorang dari mereka mengambil botol wine yang masih terisi banyak dan mengisi gelas ku yang sudah kosong melompong.

"Eh jangan. Nanti bisa muntah dia." Larang Darren yang masih memperhatikanku.

"Gak apa-apa Darren. Sini gua minum lagi." Lalu aku pun meminumnya dengan cepat lagi, sambil menahan rasa yang sungguh menggelikan tersebut. 

Mereka semua bertepuk tangan untukku kali ini. Dimana kepala ku makin melayang, dan rasanya aku seperti menyatu dengan keadaan di dalam club ini. Beat lagunya seperti berdengung keras di dalam otakku, menyebabkan aku bergoyang-goyang sedikit.

Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah mulai terlihat mabuk juga. Banyak yang tertawa, dan aku juga ikut tertawa, entah menertawakan apa. Yang pasti, kami tak tinggal diam di tempat duduk, karena sekarang waktunya untuk berjoget!

Makin lama terasa makin asyik kepala dan badan ku ini. Seluruh badan ku tak henti-hentinya bergoyang mengikuti musik beat sang DJ. Musik-musiknya pun asyik semua. Membuatku benar-benar lupa akan 'dia' yang mungkin sedang berada di kamar bersama si sialan itu.

"It's very cool Darren!! Thank you so much!!" Teriakku ke kuping Darren yang sedang berjoget disebelahku. Tapi ia tak terlalu memperhatikanku. Ia seperti lupa akan segalanya.


***

Satu jam kemudian, muka ku seperti terbakar. Tapi aku terus berada di atas lantai dansa. Aku terus bergoyang tanpa henti. Lucunya, di saat mabuk seperti ini, kami semua bisa saling berbicara. Maksud aku, semua orang yang tak ku kenal tiba-tiba ada saja yang memanggilku dan mengajakku bergoyang bareng. Aku pun terkadang mengajak beberapa di antara mereka juga, agar lebih seru. Kami semua menjadi teman disini.

Walau sedang melayang, tapi aku masih sadar. Aku masih bisa memperhatikan banyak orang disini. Lalu, aku mulai melihat hal-hal yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Orang-orang yang tak kukenal tadi tiba-tiba saja ada yang saling berciuman. Aku yakin mereka sedang berciuman dengan orang asing.

Kemudian tanpa aku sadari, ada seseorang yang mencium pipiku, dan bibirnya ingin menyosor ke bibirku. Aku pun menolaknya.

"Sorry. Gak mau."

Tapi ia memaksa. Ia memelukku dengan kasar, hingga aku teriak.

Tiba-tiba ada bantuan datang. Seseorang yang tak kukenal langsung menarik orang yang memelukku dan menonjoknya. Tapi ia tak jatuh, malah ia pergi dengan sempoyongan. Orang tersebut pun terlihat sedang mabok parah.

"Lu harus hati-hati kalau disini. Mana teman-teman lu?" Teriaknya ke kupingku.

Saat aku memperhatikan Darren dan teman-temannya, mereka semua ternyata sudah mabok parah, dan sedang tiduran di tempat duduk khusus kami tadi.

"I-itu mereka." Kataku sambil menunjuk mereka semua. Seketika, kaki ku tiba-tiba saja menjadi lemas, kepala ku pun pusing bukan main. Aku hampir terjatuh saat orang yang tak kukenal ini memegangiku.

"Keadaan lu udah parah. Lu pulang aja ya." Teriaknya, dimana aku makin tak sadarkan diri. Aku hanya mengangguk-angguk. Tapi aku masih sedikit sadar, kalau aku pasti akan dibawanya pulang ke hotel atau ke rumah pribadinya seperti di film-film. Aku pun pasrah karena badan ku sangat lah lemas bukan main.

Kami berjalan pela menuju keluar club, ia terus memegangiku dari belakang. Pelukannya cukup kencang membuat badanku yang lemas jadi tak terjatuh. Tapi aku masih takut mengenai apa yang akan terjadi setelah ini. Oh Tuhan, ini benar-benar kacau!

Saat sudah keluar dari Club, sebuah mobil sudah menunggu kami. Ternyata itu adalah mobil pribadinya dimana terdapat juga seorang supir khusus miliknya.

Ia pun memasuki ku ke dalam mobilnya yang berwarna hitam tersebut. Kemudian, tangannya dengan cepat merogohi badanku, membuatku menjadi risih, dan agak sedikit menyingkirkannya.

"Pak Suwandi, ke alamat ini yah." Orang ini memberikan KTP ku ke supirnya sekaligus memberikannya beberapa lembar ratusan ribu. Ternyata ia mengambil dompetku?!

"Lu sekarang gua tinggal sama Pak Suwandi ya. Tenang aja, dia bakal bawa lu sampai ke tempat tinggal lu. Oke?"

Aku kembali mengangguk. Setelah itu, aku mulai menutup mataku dan tertidur.


***

Keesokan siangnya, sekitar pukul 11, aku terbangun dengan kepala yang sangat berat. Saat aku berkaca, muka ku yang putih terlihat begitu merah. Tangan ku pun agak gatal-gatal, membuatku tersadar bahwa aku alergi terhadap alkohol.

Keadaan semalam benar-benar kacau.

Ketika kuhubungi Darren, ternyata ia pulang sekitar pukul lima pagi dengan menggunakan taxi. 

Lalu aku teringat, tentang siapa yang sudah berbuat baik padaku semalam. Seseorang yang namanya saja aku tak tahu. Tapi ia sangat berbeda dari kebanyakan film dan artikel yang sudah aku lihat selama ini. Aku sangat penasaran dengannya. Aku merasa harus bertemu dengannya lagi.

Siang hari ini aku menjadi tersadar penuh. Sebuah keajaiban datang dari sebuah tempat clubbing. Perasaanku terhadap 'dia' menjadi agak tersembuhkan, Dan aku memutuskan akan kembali ke tempat tersebut lagi. Kali ini bukan tentang coba-coba, tapi tentang mengenalinya lebih lanjut.

Akan ku tunggu malam minggu berikutnya.

--Tamat--

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath