Cerpen: I Mention Your Name

Rita, namanya biasa, tidak memiliki filosofi di dalamnya. Ayah dan Ibunya tidak peduli saat memberikannya nama ketika ia masih bayi. Semuanya terjadi begitu saja ketika surat akte lahir harus segera dibuat.

Kata Rita, orang tuanya tetap sayang terhadapnya. Ia masih dinafkahi untuk sekolah dan jajan. Semua kebutuhannya ditanggung dengan baik, tanpa ia harus bersusah payah mengurus hidupnya. Saat itu mungkin orang tua Rita sedang memiliki masalah yang besar ketika sedang memberikannya nama.

Sudah lama aku bertemu dengan Rita. Sejak sekolah menengah atas kami akhirnya bisa berkenalan. Hubungan kami pun sangat dekat. Walaupun namanya selalu kuanggap sangat kampungan, tapi hubungan kami sungguh baik. Rita adalah teman dekat ku dulu, dan aku tak pernah ingin meminta sesuatu yang lebih dari dirinya. Untuk awalnya.

Mungkin memang salah jika dua orang yang berbeda gender saling berteman, apalagi sampai di titik sangat dekat, dimana seluruh kebusukannya aku tahu, dan Rita juga demikian, tahu semua kebusukanku. Bahkan aku tak menyangka kalau ia adalah seorang ‘ayam’ di sekolah.

Rita adalah seorang wanita yang tak pernah merasa cukup. Walau orang tuanya sudah sangat baik terhadapnya, tapi ia lemah terhadap benda bermerek. Ia sungguh suka saat memegang dan memakai sesuatu yang berkualitas tinggi. Rita selalu menunjukkan barang-barang barunya ke semua teman wanitanya.

Banyak yang iri dan dengki terhadap Rita. Tapi banyak juga yang suka terhadapnya, sebab ia cantik dan modis. Tingginya 170 cm, dan beratnya proposional. Rambut hitamnya menjulur hingga ke leher dengan lurus dan menggoda. Matanya yang paling mempesona, sebab besar dan tajam. Aku selalu terpaku saat melihat kedua bola matanya. Aku suka semua hal tentang dirinya, meskipun ia sudah di cap jablay.

Suatu saat, kami pernah tidak saling bicara selama 1 tahun karena aku mulai mengharapkan lebih. Satu hal yang selalu aku jaga dari pertemanan kami. Aku menunjukkan perasaanku dengan memberikannya bunga dan coklat di hari Valentine. Lalu aku bertanya kepadanya,”do you want to be my partner?” di sebuah kafe yang sungguh mahal, yang sejak awal ia selalu sangka kalau ini adalah makan malam khusus para jomblo. Lalu, ketika ia tahu tentang perasaanku, Tanpa sepatah kata, ia pergi dan mendiamiku selama 1 tahun, sampai aku merasa tidak berdaya dalam jangka waktu itu.



***



Rita. Namanya mulai kusebut ketika aku sedang mengingat dirinya.

Rita. Namanya masih kusebut ketika hal yang menyedihkan sedang menimpaku.

Rita. Aku mengucapkannya tiap pagi hingga malam.

Para bintang pun selalu mendengarkan nama Rita di setiap aku sedang pulang ke rumah dengan menggunakan motor sehabis kuliah malam.

Dalam satu tahun, aku sungguh kacau. Namun Tuhan mengerti kapan aku harus bertemu dengannya lagi. Yaitu saat kami akhirnya bisa bekerja di kantor yang sama.

Rita tersenyum lagi kepadaku. Aku pun tersenyum kepadanya. Kami mulai bercerita lagi, dan aku kembali berharap kalau perasaan ku bisa kumatikan. Karena aku selalu bahagia ketika bersama dia. Ya, bersama dengan orang yang sungguh tahu seluruh kehidupan ku.

Rita lah orangnya.

Namun perasaanku tak pernah bisa ditekan hingga jatuh ke dasar lautan. Karena perasaanku lebih kuat daripada logika 1 + 2 = 3 ku. Dari bawah ia langsung naik lagi menuju ke permukaan. Aku pun langsung menyatakan cinta kepadanya lagi. Ia hanya tersenyum, dan keesokan harinya kami masih bekerja dan mengobrol seperti biasa.

Aku adalah seorang pria. Aku mulai mencoba berbagai macam cara agar bisa mendapatkannya. Aku mulai memberikannya banyak barang mewah kesukaannya. Ku harap semua yang kuberikan melebihi daripada yang klien-kliennya kasih. Ya aku tahu, itu mustahil jika berbicara sekarang. Tapi niatku cukup menghabiskan semua tabunganku serta semua gajiku tiap akhir bulan.

Aku berikan tas kesukaannya. Celana kesukaannya. Perhiasan yang selalu ia tatap ketika kami sedang berada di mall.

Apakah aku bodoh?

Mungkin iya. Karena setelah dua tahun, aku melihatnya sudah bertunangan dengan pria yang belum pernah aku temui. Aku sungguh sadar kalau ia sudah tak terbuka terhadapku semenjak aku menyatakan cinta untuk kedua kalinya. Selama itu kami hanya bercanda tawa saja.



***



Rita. Seorang wanita yang cantik jelita. Kini ia sudah menikah. Entah mengapa aku masih menyebutkan namanya sampai sekarang. Aku masih memanggilnya, meneriakinya.

Rita.

Rita.

Rita.

Aku tak pernah menyebut namanya dalam hati, tapi dengan suara. Aku mengeluarkannya dengan lantang.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath