The Suitcase in My Room

Awal tahun 2015 ini mungkin adalah yang terburuk yang pernah gua rasakan. Karena setelah gua nembak si 'dia' yang sudah gua sukai selama 7 tahun, kenyataannya dia malah mendiami semua chat gua hingga sekarang. Jadinya yah, dia tak mau bicara sama gua (lagi) dan kali ini lebih parah, dia tak membaca chat dari gua sama sekali. Sepertinya langsung dihapus.....

Namun, hantaman perasaan yang selalu sesak dalam dada ini nyatanya belum berakhir. Soalnya sewaktu gua sudah move on atau menerima kenyataan kalau dia sudah 'move' dari hidup gua, tiba-tiba seseorang muncul.

Ini adalah cerita baru di dalam kehidupan gua, yang entah, sudah ngebuat gua jadi sakit hati bukan main. Padahal gua sudah lelah sama semua perasaan ini, tapi waktu orang ini muncul, hati gua pun kembali terbuka lebar untuk menerima beling dan paku.

Dimulai dari Hari Sabtu kemarin, seorang teman gua meminta tolong ke gua untuk memperbolehkan pacarnya yang berasal dari Bandung menginap di kos gua untuk sementara waktu. Awalnya gua sangat tidak masalah dengan permintaannya tersebut, apalagi ketika melihat pacarnya itu, yang menurut gua biasa-biasa saja. Gua pun memperbolehkannya untuk tidur seranjang dengan gua. Namun tidur bareng ini gua mulai dari Minggu malam, karena seperti biasa, tiap Sabtu dan Minggu gua harus pulang ke Dadap, ketemu Nyokap dan keluarga gua yang lain.

Baiklah, langsung di Minggu malam, dimana teman gua dengan pacarnya sedang menginap di kos gua. Pacarnya pun membawa satu buah koper yang lumayan ngebuat kamar gua jadi agak sempit. 

Sayangnya, kasur gua ini bukan termasuk kasur yang besar, sehingga teman gua memutuskan untuk tidur di lantai, dan pacarnya tidur seranjang sama gua. Iya lah, masa gua di lantai?! Hehehe....

Pada saat itu gua baru mengenal orang ini sekilas, dan masih menganggapnya biasa-biasa saja.

Tapi hati ini berkata beda waktu di Senin malam sehabis gua pulang kerja. Teman gua memutuskan untuk tak menginap di kosan gua, sehingga pacarnya harus tidur berdua saja dengan gua di ranjang yang sama.

Sebelumnya, gua bukan lah anak yang pendiam, gua berusaha untuk selalu memecah suasana tiap ketemu orang-orang baru, agar mereka bisa nyaman terhadap gua. Itu lah yang gua lakukan terhadap orang ini sejak awal ketemu. Namun, terkadang gua bisa bertindak lebih dalam, secara interpersonal, gua bisa ngebuat beberapa orang menjadi jujur terhadap gua tentang siapa dirinya, dan apa saja yang sudah dia lakukan selama ini. Gua pun mencoba untuk terbuka terhadapnya, tentang cerita sedih gua mengenai 'dia' yang sudah tak mau bicara sama gua lagi, dan hal-hal lainnya sampai ke keluarga gua. And then, I did it. Dia juga terbuka terhadap gua, dan dari pukul 21:00 - 02:00, kami terus bercerita dengan semangatnya. Yup, gua berhasil membuatnya menjadi semangat untuk bercerita ke gua.

Sayangnya, ketika gua tahu tentang beberapa pengalamannya, dan bagaimana dia berbicara ke gua, dan betapa kuatnya karakter dia, dan betapa berkharismanya diaaa! Oke, gua jatuh. Gua jatuh lagi ke dalam sesuatu yang kali ini adalah 'sangat salah'!

Malam itu dia bercerita sungguh banyak, dan gua terus mendengarkannya tanpa bosan. Apalagi ketika perasaan ini muncul, hati gua malah menjadi berteriak, antara 'ingin mengusirnya pergi' atau 'terus berada di dekatnya'. Tentu saja gua harus mengusirnya, sebelum perasaan ini terlalu dalam. Dalam ceritanya sendiri, dia berkali-kali mengatakan tentang betapa sayangnya dia sama teman gua ini, ngebuat hati gua jadi teriris-iris bukan main.

Gua jatuh cinta sama pacar teman gua.

Gua bahkan sempat ingin membantunya untuk memberikan surprise ke teman gua pada saat teman gua itu ulang tahun nanti. Tapi ketika perasaan gua sudah seperti ini, maaf, itu adalah hal yang mustahil untuk gua lakukan. Sory, gua sudah terlalu sering sakit hati, apalagi ketika 'dia' sudah cueki gua dengan parahnya.

Esok harinya, Hari Selasa, gua merasa sangat kacau. Gua merasa takut untuk bertemu dengannya, walau sejujurnya, gua sangat kangen ketika gua sedang bekerja dari pagi hingga sore. Gua pun merasa takut kalau kopernya sudah tak ada di kamar gua lagi, berarti dia sudah pergi. Gua ingin selalu melihat mukanya pada saat gua pulang kerja. Itu benar-benar menyenangkan....

Hari Selasa memang makin parah, dan gua agak menunjukkan kalau gua lagi BT. Apalagi ketika gua lihat dia habis pergi bareng teman gua, dan beberapa kali memberikan hal-hal mesra di depan mata gua. Ya! Pegangan tangan, dan hal-hal lainnya. Seperti muka gua habis ditonjok berkali-kali.

Karena gua tak tahan, gua langsung bilang ke teman gua ini tentang betapa salahnya dia menginap di kos gua. Hal itu gua lakukan di tempat tersembunyi, tanpa sepengetahuan pacarnya. Teman gua sendiri mengerti dan menyetujui untuk membawa pergi pacarnya dari kos gua besok.

Padahal di malam itu, teman gua dan pacarnya mengajak gua untuk makan malam bareng, dan pacarnya yang sudah mulai terlihat lebih berani ketika ngomong ke gua, dia juga ingin kalau gua ikut makan bersama dia. Tapi sayangnya gua harus tolak dan bilang kalau gua sudah kenyang, padahal gua sangat lapar waktu itu!!!

Hingga akhirnya teman gua pulang dan membiarkan gua bersama dengan pacarnya lagi, tiba-tiba orang ini ingin kembali mengobrol sama gua. Gua pun tak bisa menolak, dan bibir gua terus berkata semua hal yang ingin dia dengar. Dalam hati, gua sudah menjerit bukan main. Rasa tak tahan benar-benar menjadi begitu parah di dada gua. Tapi apadaya, gua tak bisa berbuat apa-apa.

Senangnya namun sedih juga, malam itu kami putuskan untuk makan ropang bareng. Aturan kami mau tidur, tapi gua bilang kalau gua lapar, lalu dia ngajak makan indomie bareng, dan dengan pertimbangan yang agak susah, soalnya gua gak mau makan berdua sama dia yang udah terlanjur buat hati gua jadi sesak ini, namun akhirnya kami pergi berdua pada malam itu.

Antara senang atau sedih, gua tak akan melupakan saat kami sedang berjalan bersama....

Keesokan harinya lagi, pada Hari Rabu, atau hari ini. Gua berangkat kerja dengan penuh semangat, karena entah mengapa sejak makan bareng itu, gua jadi sangat bahagia, walau gua tahu, itu cuma bahagia semu.

Dan ternyata benar, rasa bahagia gua langsung hilang ketika teman gua sudah kasih tahu ke gua kalau pacarnya sudah pindah dari kamar kos gua. Awalnya gua sempat menolak untuk dia pindah, karena gua masih belum siap untuk gak ngeliat mukanya lagi. Yup, gua sudah putuskan kalau dia sudah pergi, gua gak akan mau ngeliat dia lagi selamanya. Karena itu akan sangat menyakiti gua. Tapi apadaya, waktu terus berjalan, dan saat sudah pulang kerja, lalu gua sampai di kamar kos gua.

Koper yang ngebuat kamar gua jadi terlihat sempit itu sudah tidak ada.

Dia sudah pergi.... Dan jujur, gua tak kuasa untuk tak bisa menangis tadi. Gua benar-benar merasa kehilangan dan sakit hati lagi....

Pertemuan kami memang hanya tiga hari, tapi hal tersebut sudah memberikan satu buah bom yang begitu besar di dalam dada gua. Ledakannya sangat parah, sampai gua gak tahu lagi harus berbuat apa selain nulis di dalam blog gua ini.

Hal ini memang salah. Cinta yang gua rasakan adalah sampah. Walau sayangnya, gua sangat merasa kangen sama dia sekarang. Gua ingin melihat kopernya menyempiti kamar gua lagi.....

Good bye. We'll never meet again. 

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath