Tentang Film "Still Alice"

Penyakit Alzheimer mungkin tak terlalu terkenal di Indonesia. Tapi hal ini sudah menjadi perbincangan yang sangat serius di Amerika. Bagi yang belum tahu, film Still Alice dapat menjadi referensi yang bagus, baik itu untuk serapan secara akademis sekaligus psikologis.


Disutradarai oleh Richard Glatzer dan Wash Westmoreland, dimana mereka berdua mengambil novel best seller dari Lisa Genova, Still Alice pun berhasil menjadi pusat perhatian di layar internasional. Film ini sendiri memiliki jajaran cast yang sangat mendukung, seperti Julianne Moore, Alec Baldwin, hingga Kristen Stewart yang kali ini tidak mengecewakan penontonnya pasca Snow White and The Huntsman lalu.

Diawali dengan pengenalan sang tokoh utama, yaitu Alice (Julianne Moore). Dimana ia memiliki suami dan tiga anak yang cemerlang. Lalu, karirnya sebagai profesor pun sudah berhasil ia jalankan dengan baik. Banyak orang yang mengaguminya, karena ia adalah seorang wanita yang independent, smart, dan baik hati.

Namun di awal kisah, para penonton akan langsung menyaksikkan beberapa serangan Alzheimer yang secara tak langsung terjadi pada Alice. Contohnya seperti lupa beberapa kata penting, sampai yang paling parah adalah lupa ingatan sama sekali pada saat Alice sedang melakukan jogging. Ia pun langsung memeriksakan diri ke dokter, yang dimana ia harus menjalankan berbagai macam tes. Dan semuanya itu diakhiri dengan pemberitahuan akan penyakit yang sangat berbahaya tersebut.


Hal ini mungkin adalah cerita yang biasa, tentang seseorang yang terkena penyakit, dan biasanya, akan ada berbagai macam adegan yang dramatis hingga menjatuhkan air mata para penonton. Tapi tidak untuk Still Alice. Alur memang berjalan maju, tentang bagaimana Alice menghadapi penyakitnya yang makin lama makin parah, namun cerita yang dihasilkan mampu mengubah sudut pandang para penontonnya.

Ada satu keputusan Alice yang saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memperhatikannya. Keputusan ini memiliki pro dan kontra, namun para penonton akan berpikir keras saat sudah melihat akhir ceritanya.

Tentu saja Julianne Moore sudah berperan dengan baik, dengan memperlihatkan kepada kita bagaimana penyakitnya tersebut terus berjalan makin menguasai otaknya, dan makin membuat kita miris saat melihat keadaannya. Apalagi ketika sudah mencapai akhir, yang dimana tak ada seorang pun yang mau untuk mengalaminya, yaitu 'melupakan semuanya'. Oscar pun sangat memperhatikan kesuksesan Julianne membawakan tokoh Alice, dan berhasil membawanya masuk kembali ke dalam jajaran nominator pemeran wanita terbaik.


Memilukan, dan sanggup mengubah persepsi para penontonnya. Film ini sangat patut ditonton banyak orang. Karena setiap kita tak patut terkena penyakit yang sangat mematikan 'pikiran' ini.

Thanks
Gbu


Anton Suryadi

Independent but not a sociopath