Faktor Fisik

Hampir mendekati akhir tahun yang dimana bisa gua katakan kalau tahun 2014 ini adalah perpaduan dari rasa santai dan sangat lah sulit. Gua sungguh tak menyangka kalau gua musti banyak menerima beberapa kenyataan yang sangat tak gua inginkan. Dimulai dari masalah pekerjaan, hingga tentu saja masalah percintaan.

Gua sudah bekerja pada tanggal 4 November kemarin di sebuah EO yang memang sangat sesuai dengan keinginan gua. Walau ada beberapa hal yang sebenarnya ngebuat gua jadi down. Yah, mungkin masalah salary memang cukup menjadi patokan bagi beberapa orang banyak. Karena pada saat gua tau kalau teman-teman gua yang sudah lulus kini bisa mendapatkan pekerjaan yang memiliki salary yang lebih besar dari gua, rasanya itu seperti gua sedang jatuh ke lubang yang begitu dalam. Sakitnya tuh dimana-mana. Tapi apa boleh buat, gua harus bersyukur dan menerima kenyataan serta terus menggeluti pekerjaan yang sangat gua sukai ini.

Faktor fisik memang sangat menentu di kenyataan hidup ini. Banyak pekerjaan yang gua lamar dan itu sangat membutuhkan kekuatan fisik. Ada satu tempat yang mengharuskan gua untuk membuka kacamata gua untuk melihat bagaimana rupa gua tanpa benda tersebut. Aneh kan? Pada saat interview, gua diharuskan melakukan itu. Jujur saja, gua memiliki banyak teman pria yang memiliki fisik yang bagus, dan yah, di Indonesia kan, kekuatan fisik yang ideal itu adalah berkulit putih, jadinya teman-teman pria gua yang berkulit putih dan tentu saja dengan paras yang oke, mereka pun bisa langsung mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang oke. Gua langsung down bukan main waktu mengetahui semua ini.

Gua kira gua bakal bisa mendapatkan semua yang gua inginkan tanpa bantuan orang lain. Tapi tahun ini gua belajar tentang kekurangan menjadi independent atau tepatnya adalah individualitas. Gua benar-benar membutuhkan orang lain. Karena gua bisa bekerja di EO ini pun karena bantuan dari teman gua, yaitu Angga. Lalu, jika gua pikir-pikir lagi dari banyak kejadian di masa lalu, yes, I'm very a nothing person. Gua bukan siapa-siapa ketika gua sudah mulai bergaul dengan cara yang tepat. Saat SD, SMP, dan SMA gua juga bukan siapa-siapa karena kurangnya pengetahuan gua dari cara bergaul (SMA itu peralihan dari cara bergaul gua. Gua pernah menjadi something, tapi berujung pada nothing). Lagipula, perlu perjuangan untuk bergaul dengan fisik gua yang kurus dan berkulit hitam ini di tengah-tengah orang yang memiliki fisik yang oke (sejak SD sudah gua rasakan kesulitannya). Hal ini sangat wajar, karena orang kurus itu identik dengan diremehkan. Sampai sekarang saja gua selalu diremehkan, dan ada beberapa orang yang tak percaya kalau nilai skripsi gua dapat A. Oke lah hahaha....

Perjuangan saat bergaul itu memang begitu melelahkan. Karena dengan fisik seperti ini, akhirnya gua mendapatkan sebuah ilham, kalau gua musti menjadi interisting, yaitu dengan bisa melawak. Walau tidak perfect banget, tapi bisa lah gua ngebuat orang lain ketawa. Awalnya memang gua disangka freak, tapi lama kelamaan gua akhirnya bisa stabil dalam membawakan peran gua sebagai Anton Suryadi. Yup, akhirnya gua bisa menemukan diri gua dalam hal pergaulan, dan dengan sombong, gua merasa kalau ini semua adalah usaha gua, dan gua memutuskan untuk menjadi individual, dengan menyempitkan sedikit kadar sosialitanya.

Gua salah. Gua kira dalam mencari pekerjaan, gua harus berusaha sendiri. Walau sebenarnya bagus jika kita bisa berusaha sendiri. Tapi gua harus sadar kalau secara fisik, gua musti bisa bermain dengan sangat pintar. Harus ada hal-hal yang interisting di dalam kehidupan gua agar para HRD dan user bisa melihat siapakah diri gua. Pada saat gua bilang kalau gua adalah pembuat skripsi, lalu lulus 3 setengah tahun, itu mungkin masih kurang untuk mereka. Akhirnya seorang teman adalah jalan yang paling utama untuk memberikan kepercayaan kepada HRD dan user. Tapi teman itu sendiri musti lah orang yang sudah memutuskan untuk menjadi sahabat kita dan benar-benar memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi pada kita. Kalau hanya teman biasa mah, mereka lebih mengharapkan keuntungan semata jika ingin membantu kita.

Semuanya sangat sulit buat gua di setiap tahunnya. Gua pun tak akan membandingkan tingkat kesulitan ketika gua sedang di dunia pendidikan dan pekerjaan. Karena menurut gua sama saja. Sama-sama sulit. Sebab ketika awal gua masuk ke dalam dunia pendidikan sendiri saja, itu sulitnya minta ampun dn sudah gua ceritakan sekilas sebelumnya. Lalu kembali lagi di awal gua masuk ke dalam dunia pekerjaan. Lagi-lagi faktor fisik. Namun karena secara pendidikan gua sudah lulus S1, gua kini belajar, kalau gua benar-benar musti putar otak agar bisa ikut bermain di panggung kehidupan dalam dunia pekerjaan ini. Gua harus lebih pintar walaupun gua musti mengorbankan beberapa hal, seperti salah satunya adalah: harga diri.

Akhirnya, setelah gua bersantai di kosan dan sering hang out bersama dengan teman-teman kampus gua selama berbulan-bulan lamanya, ketika gua juga sedang sulit mencari pekerjaan, kini adalah saatnya untuk banyak berdoa kepada Tuhan, agar gua bisa melaksanakan semua yang sudah gua rencanakan sebelumnya.

Sebenarnya, ini adalah rencana gua di tahun ini, yang sepertinya pernah gua catat di blog tahun lalu. Pertama adalah, gua musti membuat sebuah buku tentang diri gua, walau sudah sih, tapi gua malas untuk membawanya ke publisher. Bodoh emang gua! Lalu, gua juga sudah berada di dalam sebuah komunitas teater, karena gua tak akan melupakan apa yang menjadi hobi gua selama ini, yaitu menjadi artis di sebuah panggung. Gua tak akan melupakan semua rasa puas ketika gua sudah selesai berakting dan mendapatkan respon positif dari para penonton (sejak SMA). Tapi sayangnya gua akan ikut komunitas tersebut ketika gua sudah mendapatkan pekerjaan, yang nyatanya kan baru sekarang. Jadinya baru akan gua pikirkan juga. Ketiga adalah, membuka usaha kecil, yang sepertinya sudah sih, yaitu membuat skripsi orang lain hehehe.... Terakhir adalah, mendapatkan pacar. Hal yang paling sulit daripada mendapatkan pekerjaan, dan lagi-lagi karena fisik gua ini. Soalnya orang yang gua ingini untuk menjadi pacar gua memang agak timpang jika nanti jadian sama gua. Hahaha.... Apalagi sepertinya sudah mustahil. Karena ia akan atau sepertinya sudah berpacaran kini. So, gua pun harus kembali menerima kenyataan pahit ini.

Jika lagi ngomongin soal masalah cinta, memang tidak akan ada habisnya. Tentu saja kalian bisa melihat ada banyak artikel tentang kisah cinta tragis gua di blog ini hahaha.... Tapi, sebentar lagi gua akan segera memberikan sebuah kado untuknya, gua harap ia bisa meresponnya dengan positif. AMIN!!

Baiklah, karena keasikan nulis, ternyata gua sudah bergadang hingga pukul empat pagi. Gua harus tidur sekarang.

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath