Berjalan Natural, Tanpa Ekspresi

Sekarang, gua tak ingin menjadi orang yang bilang pada diri gua sendiri kalau 'ayok ton, start fresh! Ini hidup baru buat lu. Jalanin dengan luar biasa!" Rasanya seperti gua sedang mengacaukan diri gua lagi. Karena saat waktu sudah berjalan entah sekian menit atau beberapa jam kemudian, tiba-tiba perkataan yang baru saja gua ucapkan itu akan menghilang, berubah menjadi abu. Sialan! 

Perasaan semangat yang terasa muncul bak pelangi sehabis hujan, gua akan selalu anggap itu sebagai sebuah tipu muslihat. Sebuah kebohongan yang akan menghancurkan diri gua sendiri.... (lagi)

Mungkin semua bingung apa maksud dari pernyataan gua ini. Lebih jelasnya begini:

Pelangi sehabis hujan. Ok, gua habis menghadapi sebuah hujan yang sangat lebat dua hari kemarin. Malah bukan lebat lagi, tapi ini adalah badai yang sudah menghapus banyak perumahan yang berada di sebuah lapangan nan luas. Hati gua habis tersisir oleh badai tersebut ketika 'ia' memutuskan untuk tidak mau bertemu dengan gua lagi. Ia sadar kalau semua yang sudah gua lakukan, hanya lah akan membuat ia menjadi terbiasa untuk menjadikan gua serasa nyaman saat di dekatnya. Ia tak menginginkan hal tersebut. Ia ingin gua menjadi risih dan benci saat sedang berada di dekatnya. Suatu hal yang mustahil bukan??

Ketika ia menyatakan untuk tak ingin bertemu dengan gua lagi. Tentu saja waktu serasa berhenti sejenak. Air hujan tak akan sampai di dasar di kala perasaan gua tersentak oleh pernyataannya itu. Namun, air mata gua seperti tak berhenti meluap mengingat semua hal yang sudah gua lakukan untuknya. Perjuangan selama tujuh tahun untuk tetap stay di dalam satu perasaan yang begitu buta, akhirnya berakhir penuh derita.

Tentu saja gua sudah sering mengalami hal ini ketika sedang bersamanya. Tapi ini adalah sebuah akhir. Petanda yang harus gua terima dengan lapang dada. Dan satu-satunya petanda untuk gua bisa bangkit di dalam chapter terbaru kehidupan gua. Yah, chapter tersebut memang tak akan ada, karena ketika matahari sudah terbit keesokan harinya, dan saat gua sudah beranjak dari bantal gua yang kainnya telah basah sebab air mata gua, gua pun seperti sudah kehilangan segalanya. 

Pagi itu, gua secara terpaksa merasakan sebuah pelangi yang seharusnya secara natural terbit sehabis hujan. Sebuah semangat baru muncul dengan perasaan yang seakan habis dibentuk kembali oleh Tuhan. Hahaha..... gua pun tahu kalau tak ada yang baru selama kehidupan terus berjalan. Entah apa yang ada di dalam dada gua, rasanya seperti sudah membusuk, menghitam, dan beracun. Tapi racunnya masih bisa gua kontrol walau rasanya ia meronta-ronta ingin keluar dari mulut gua.

Pelangi sehabis hujan adalah sebuah kebohongan belaka. Kepercayaan yang hanya ingin membuat hidup ini sekilas masih memiliki kebahagiaan. Padahal tidak!

Sorry, ini isi hati gua yang memang tidak bahagia. Namun gua tak akan mencari-cari kebahagiaan tersebut seperti gua adalah seorang pengemis. Lebih baik gua berjalan mengikuti aliran, bukan lagi berjuang dengan harapan palsu. 

Tanpa kebahagiaan, gua rasa gua masih bisa hidup.

God bless you my love....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath