Kejatuhan Ketiga: Kejatuhan Semuanya.

Mengenai kisah cinta gua, sudah pasti akan gua buat dalam satu post, bukan digabungkan ke dalam post yang sebelumnya, yang membahas mengenai banyak hal tentang kejatuhan-kejatuhan kasar dalam hidup gua.

Sebenarnya, jika gua tidak mengalami satu hal yang sungguh menyedihkan di waktu sebelumnya, gua pasti tidak akan menuliskan hal ini. Gua hanya tak menyangka, kalau banyak hal yang sudah gua coba, ternyata hasilnya sangat sia-sia, sedikit pun tidak membuat gua menjadi happy, hanya sebuah keburukan yang sangat menyesakkan dada hingga detik ini.

Saat mencoba mendekati 'ia' kembali, gua belajar berbagai macam cara, seperti menjadi berani, menjadi lebih dewasa, sabar, mencoba membuatnya menjadi nyaman, bahkan tidak pelit. Mungkin yang pertama, saat itu gua mencoba untuk membuatnya menjadi merasa nyaman saat dekat dengan gua, dan itu dengan cara: gua sama sekali tidak membahas mengenai isi hati gua yang jujur tentang perasaan gua terhadapnya, jadinya gua mencoba menjadi sohibnya, membuatnya tertawa dengan candaan yang secara natural muncul. Gua mencoba untuk membuat ia menjadi bisa kembali terbuka tentang segala hal, dan mau untuk selalu update dalam kegiatannya sehari-hari saat sedang bersama gua. Itu pun berhasil, I did it very well. Rasanya senang sekali dan gua bersyukur, karena langkah pertama sudah berhasil, walau perasaan gua seperti tetap tertekan karena gua masih belum bisa mendapatkannya. Dalam hati, gua terus didorong untuk jujur kalau gua masih sayang sama dia.

Menjadi berani, adalah langkah gua yang berikutnya, yang dimana gua mencoba untuk masuk ke dalam gua singa, sebuah tempat yang berisikan orang-orang yang sangat menyebalkan, dan bisa membuat gua menjadi sangat lah keki. Tapi gua lakukan itu hanya untuk bertemu dengannya, dan mengobrol dengannya, atau intinya adalah kembali menjadi temannya, sahabatnya....

Sabar dan menjadi lebih dewasa, pada saat gua harus menunggunya untuk bisa bertemu dengan gua, makan malam atau nonton bareng, dan itu bisa sebulan sekali bahkan dua kali. Kemudian ketika munculnya suatu masalah, walau sebenarnya bukan gua yang salah, gua yang selalu mengalah dan mau untuk minta maaf. Yah, lagi-lagi merendahkan diri, karena memang itu lah diri gua (yang sepertinya akan gua ubah habis ini).

Tidak pelit adalah ketika semuanya, dengan rasa tulus, dan intinya adalah bertujuan untuk membuatnya senang, uang gua lah yang gua keluarkan untuk mentraktirnya, meskipun mahal. Ini adalah momen dimana gua sudah memberikan segalanya untuknya, itu pun jika uang dianggap sebagai 'segalanya'. Karena sudah berkali-kali, gua selalu mengajaknya pergi ketika gua sudah punya uang, dan selalu habis di hari gua dengannya sedang pergi. Namun itu bukan salah dia, gua lah yang bohong, gua bilang kalau gua lagi ada banyak duit, padahal duitnya hanya pas buat traktir nonton sama bayar makan saja. Bahkan gua pernah sampai meminjam uang teman gua karena saat dia mau pergi sama gua, waktu itu gua lagi gak ada duit sama sekali. Ya sudah, intinya adalah membuatnya senang....

Dari semua hal yang sudah gua lakukan, dan pada saat gua merasa sudah sangat perfect keadaannya, lalu gua pun siap untuk menyatakan isi hati gua yang sebenarnya, tapi tiba-tiba saja ia mengatakan kalau ia akan jadian sama seseorang (yang baru). Gua sudah pernah menceritakannya, dan pada saat dalam waktu dekat kemarin gua mencoba untuk bertanya dengan seseorang, gua pun mendengar kalau hubungan mereka sudah semakin dekat. Jelas hal tersebut sudah membuat gua menjadi sangat down bukan main.

Sedihnya, hingga gua mencoba bertanya langsung ke dia, ternyata dia tidak suka, karena ia bisa melihat kalau perasaan gua sedang berkecamuk atau ia tahu kalau gua masih suka dengannya. Hal tersebut menyebabkan gua jadi didiami (lagi) sampai sekarang....

Hancur dan kacau, gua sudah tak peduli dengan dunia sebenarnya. Semua kejatuhan yang pernah gua alami sebelumnya, sudah kalah oleh hal ini. Karena gua benar-benar cinta dengannya, dan walau bagaimana pun caranya gua berusaha untuk mendapatkannya, semua sudah berakhir gagal, sama seperti dulu.

But, I still love you, with all of my heart.....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath