Tentang Film "The Wrestler"

Darren Aronofsky memang terkenal dengan karyanya yang selalu memainkan emosi para penonton. Di awal adegan pasti akan selalu dimunculkan konfliknya terlebih dahulu, kemudian di pertengahan akan ada 'peredaan' dimana konflik mulai selesai, tapi hingga di akhir, Darren malah memberikan sentuhan kelam yang akan selalu diingat oleh para penontonnya. Requiem for a Dream, Black Swan, bahkan NOAH sama-sama memiliki akhir cerita seperti itu, kecuali NOAH yang memang tak bisa ditentukan kelam atau tidaknya sewaktu bahtera mereka sudah sampai di daratan.


Kali ini ada The Wrestler, film yang berhasil mendapatkan dua nominasi OSCAR, baik itu dari pemain utamanya yang diperankan oleh Mickey Rourke, serta pemeran pembantu wanitanya, Marisa Tomei yang memang selalu tampil optimal ketika sedang bermain di layar kaca.

Ceritanya diadaptasikan dari serial tv WWE yang tentu saja sudah ditonton oleh banyak orang di seluruh dunia. Berisi para pegulat profesional yang memang dipekerjakan untuk berkelahi dengan sesamanya. Perkelahian mereka pun tidak main-main, terkadang menggunakan benda-benda tajam pada waktu sedang di arena 'hardcore'. Tapi semua itu tentu sangat disukai oleh banyak orang, kalau tidak maka tak akan sampai berlanjut hingga saat ini (kecuali Indonesia, yang sudah menutup acara tersebut sebab sebuah pemberitaan yang mengenaskan yang telah terjadi di kalangan anak kecil).

Mari kita lihat, Mickey Rourke disini bermain menjadi Randy Robinson, atau 'The Ram' sebagai nama panggilannya sewaktu sedang berada di arena. Dengan rambut panjang berwarna pirang dan tubuh coklatnya, ia sudah dua puluh tahun menggeluti pergulatan tersebut, dan masyarakat sangat menyukainya. Randy pun selalu menang, walau terkadang bisa di-setting kemenangannya agar para penontonnya menjadi puas.

Yap, dalam film ini, kita akan melihat bahwa para pegulat benar-benar tak memiliki rasa benci ketika sedang berada di belakang panggung. Mereka hanya mengeluarkan amarah ketika berada di depan saja. Semua pegulat itu pun bersahabat, mereka sama-sama memberitahukan apa saja yang akan mereka perbuat ketika sedang berada di atas panggung bersama dengan lawannya langsung. Jadinya amarah yang ditunjukkan oleh mereka semua hanya lah sebuah drama, tapi sayangnya, tiap pukulan yang dilakukan adalah benar adanya. Namun mereka memiliki cara masing-masing agar tidak terlalu merasakan sakit, yaitu dengan meminum sebuah obat penahan rasa sakit, dan obat-obatan lainnya, khususnya ketika mereka sedang berada di arena 'hardcore' yang memiliki berbagai macam benda yang berbahaya.


Namun, kehidupan Randy di luar panggung ternyata sangat berbeda jauh dari kenyataannya. Ia adalah seorang pria yang sudah menua, tak terlalu banyak memiliki uang, sehingga ia sangat sulit untuk menebus rumah kontrakannya. Bukan hanya itu, kehidupannya pun mulai jatuh ketika munculnya serangan jantung yang ia terima, membuat dirinya harus berhenti bergulat, yang adalah satu-satunya pendapatan Randy sehari-hari. 

Di luar itu, Randy sangat suka dengan salah seorang pelacur yang selalu ia temui di dalam sebuah club, bernama Cassidy (Marisa Tomei). Berbagai macam ajakan untuk keluar, bahkan menikah pun selalu Randy utarakan, namun Cassidy tidak meresponnya dengan baik.

Selain itu, ternyata Randy juga memiliki seorang anak perempuan, yang harus segera ia temui ketika masalah penyakit jantung itu muncul ke permukaan. Namanya adalah Stephanie (Evan Rachel Wood), yang sayangnya sangat membenci Randy karena sejak kecil Stephanie tak pernah merasakan kehadiran dari ayahnya tersebut.



Randy yang kebingungan mulai mencari cara untuk memperbaiki kehidupannya. Pertama, ia mulai mencari pekerjaan baru, yang akhirnya ia dapatkan sebagai kasir yang sayangnya memiliki seorang bos yang menyebalkan. Kedua, ia pun memberikan sebuah hadiah untuk Stephanie sebagai permintaan maaf, yang ternyata direspon baik oleh anak semata wayangnya itu. Ketiga, usaha dari Randy yang tak pernah berhenti untuk mendapatkan Cassidy, akhirnya membuahkan hasil, sebab Cassidy mulai mengikuti kemauan dari Randy untuk keluar.

Di pertengahan, kehidupan Randy mulai membaik kembali. Ia bisa menikmati pekerjaannya, kemudian anaknya dan Cassidy seperti sudah membuka pintu yang sangat lebar untuknya. Tapi sayangnya, Darren tidak tinggal diam, ia pun mulai membalikkan kembali alur ceritanya menjadi makin buruk, yang mungkin pernah kita saksikan di Requiem for a Dream, tapi film tersebut sebenarnya lebih kacau daripada film ini.

Alhasil, kita hanya akan menyaksikan sebuah pergulatan terakhir di akhir ceritanya, dengan emosi yang begitu menyedihkan sewaktu kita melihat bahwa keganasan dari rasa lonely itu benar-benar berdampak sangat kelam.


Lewat film ini, Darren Aronofsky lagi-lagi berhasil mempermainkan emosi dari para penontonnya. Namun tenang saja, ini bukan lah kisah yang full diisikan oleh drama kehidupan. Sebab pada waktu Randy sedang berada di atas ring, pergulatan yang dilakukan pun tak jauh beda dengan yang pernah kita tonton di serial tv WWE. Benar-benar seru dan mengerikan ketika para pegulat tersebut sedang melakukan aksi besar yang bahkan sampai membuat tubuh mereka menjadi berdarah-darah. Tapi tak bisa dipungkiri, tak sedikit orang yang tertarik bahkan rela membayar mahal untuk melihat pertunjukan tersebut.

Terima kasih
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath