Tentang Film "NOAH"

Setelah Requiem of a Dream, The Wrestler, lalu Black Swan yang sangat kelam pada tahun 2010 kemarin, akhirnya Darren Aronofsky kembali unjuk gigi lewat film terbarunya di tahun ini yaitu NOAH. Sebuah film yang diambil dari kisah seorang nabi Nuh yang namanya sudah sering diceritakan di dalam ajaran umat Islam dan Kristen. Tentu saja masyarakat pecinta karya-karyanya Darren plus masyarakat yang sudah sering mendengar mengenai kisah Nabi Nuh akan senantiasa untuk menunggu kehadirannya, walau pada nyatanya masyarakat Indonesia harus rela menontonnya di DVD atau komputer saja karena negara kita menolak untuk menayangkannya sebab adanya perbedaan di dalam jalan ceritanya dengan ajaran dalam Kitab Suci.


Kisah awalnya sama, diceritakan bahwa Noah (Russell Crowe) mendapatkan sebuah penglihatan dari sang Pencipta yang dimana Ia harus membangun sebuah Bahtera sebab air bah akan turun ke bumi, menghapus semua umat manusia di dalamnya. Jadinya keluarga Noah adalah keluarga yang terpilih untuk diselamatkan, diikuti oleh para binatang yang nantinya akan datang ke Bahtera tersebut secara berpasangan.

Kehidupan saat itu terlihat sangat barbar, karena ada banyak pembunuhan yang terjadi. Noah sendiri mau untuk membunuh sekumpulan orang yang berniat jahat untuk menyelamatkan keluarga tercintanya, yaitu istrinya, Naameh (Jenniver Connelly), dan ketiga anak prianya, Ham (Logan Lerman), Hem (Douglas Booth), dan Japheth (Leo McHugh Caroll). Lalu bedanya dengan kitab suci, Noah pun menemukan seorang anak perempuan bernama Ila (Emma Watson) saat di tengah perjalanannya menuju ke kakeknya, Methuselah (Anthony Hopkins).



Kemudian, yang mungkin agar dibuat jadi lebih menarik, disini juga ada sesosok monster batu yang diberikan nama The Watchers, yang dimana sebenarnya mereka adalah sekumpulan cahaya yang sedang dihukum oleh Sang Pencipta. Lalu ada juga Tubal-Cain (Ray Winstone), seorang pemimpin dari ratusan atau ribuan rakyat, yang juga berasal dari keturunan Adam, tetapi memiliki hati yang kejam.

Ketika para watchers tahu bahwa Noah sedang dimandatkan untuk membangun sebuah bahtera, mereka pun turut membantunya. Hingga di pertengahan cerita, ternyata air bah benar-benar datang dengan sangat cepat, sehingga walau Tubal-cain dan pasukannya sudah berusaha menyerang dan mencoba memasuki bahtera Noah, tetapi sayangnya, air bah tetap langsung membunuh mereka semua, kecuali Tubal-cain yang ternyata berhasil masuk ke dalam bahtera tersebut. Lagi-lagi ceritanya beda.



Nah, setelah air bah sudah menghapus seluruh manusia, lalu Noah serta keluarganya diikuti oleh Tubal-cain sudah berada di dalam batera, mungkin bisa dikatakan ceritanya mulai terlihat lebih asyik, karena menggambarkan ciri khas dari sutradaranya sekali. Berbagai macam pilihan sulit lagi-lagi datang, membuat Noah menjadi dilema, antara mengikuti perintah Sang Pencipta atau kah sesuatu yang selalu dianggap benar oleh manusia yang memiliki hati. Karena ketika Ila dikabarkan hamil yang merupakan sebuah keajaiban yang diberikan oleh kakeknya (soalnya dari awal Ila adalah seorang perempuan yang mandul), Noah pun menjadi sangat gusar, karena seharusnya tak ada keturunan manusia lagi setelah air bah tersebut. Dengan keputusan yang berat, akhirnya Noah memberitahukan ke Ila dan yang lainnya bahwa ia akan membunuh anak tersebut jikalau berjenis kelamin wanita. Hal ini membuat banyak ketakutan dan penderitaan dari keluarga Noah.

Bukan hanya masalah itu saja, tapi dari salah satu anaknya, Ham, ia ternyata sangat benci terhadap ayahnya karena Noah telah melakukan sesuatu yang buruk pada saat Ham telah menemukan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Ham pun memutuskan untuk menyembunyikan Tubal-cain ketika ia mengetahui kehadirannya yang sebenarnya sedang sekarat. Hingga di klimaksnya nanti, saat Ila sudah hamil, maka semua masalah kemanusiaan ini akan bercampur aduk, membuat semuanya menjadi lebih asyik, sekaligus menimbulkan sebuah kontroversi di beberapa negara.



Itu lah karya dari Darren Aronofsky, selalu ada yang berbeda di dalamnya. Gambar-gambar yang dihadirkan Darren pun tertampil cantik, apalagi sewaktu menampilkan sebuah siluet yang sungguh mempesona dalam padang gurun. Lalu agar lebih keren, adegan perang pun diciptakan yang mungkin dengan tujuan untuk lebih menghibur para penontonnya. Kemudian, baru lah 'masalah kemanusiaan' yang selalu menjadi ciri khas Darren di tiap filmnya lagi-lagi muncul dengan sangat pas.

Jujur saja, film dengan cerita yang berhubungan dengan perintah Tuhan ini memang sangat sulit untuk dibuat. Karena semuanya akan jadi sebuah dilema besar ketika suara Tuhan sudah turun ke bumi, walau tak bisa diterima dengan akal sehat sekali pun. Dan Darren sebenarnya berhasil menafsirkan kisah Noah ini dengan caranya sendiri, yang tentu saja dengan sangat baik.

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath