Tentang Film "Dawn of the Planet of the Apes"

Tentu saja bagi yang pernah menonton kisah para kera pintar dan bisa bicara dalam Planet of Apes pasti akan melihat dan merasakan banyak perbedaan dalam reboot terbarunya, yang ternyata tak kalah hebatnya. Pada tahun 2011, ada Rise of the Planet of the Apes, dimana mengisahkan awal mula munculnya sang kera pintar akibat dari uji coba sebuah serum di laboratorium. Kera pertama yang telah melewati uji coba itu bernama Caesar, yang akhirnya mampu membawa perubahan ketika dirinya sudah dewasa dengan mengumpulkan banyak koloni kera lainnya.


Selanjutnya, di Rise of the Planet of the Apes, bumi pun dikisahkan sedang sekarat oleh karena virus ALZ-113, yang telah membunuh banyak manusia dan membuat peradaban menjadi hancur seketika. Sepuluh tahun kemudian, di lain sisi, ternyata kehidupan dari Caesar dan para kera yang juga sudah terkena radiasi dari serum tersebut pun mulai menata banyak hal, seperti membangun rumah di dalam sebuah hutan, membuat budaya dan peraturan baru antar sesama kera, dan lain sebagainya dengan mengikuti pola kehidupan ala zaman batu. Semua kera juga diajarkan bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan menggunakan tangan (yang biasanya dipakai untuk orang bisu), serta berbicara layaknya manusia, walau tidak sampai lancar.


Kemudian, dalam kehidupan manusia yang berhasil selamat, mereka pun bersatu di dalam sebuah gedung yang dijadikan sebagai lokasi karantina dan dipimpin oleh Dreyfus (Gary Oldman). Namun, mereka memiliki masalah akan sumber daya, sehingga mau tak mau, mereka harus mencari cara untuk mendapatkan listrik kembali. Dan satu-satunya cara adalah dengan pergi ke dalam hutan, dan menyalakan kembali pembangkit listrik tenaga air.

Kelompok pencari pun dikeluarkan, dipimpin oleh sepasang suami istri, Malcolm (Jason Clarke) dan Ellie (Keri Russell). Tapi sayangnya, ketika di perjalanan, salah seorang dari mereka malah membunuh seekor kera, yang pada akhirnya membuat seluruh kera tersebut menjadi marah besar. Mereka bahkan mendatangi lokasi karantina para manusia dengan dipimpin oleh Caesar, dan menegaskan para manusia tersebut untuk tidak mendatangi daerah para kera lagi. Semua manusia yang melihat kejadian itu pun menjadi sangat terkejut.

Disini Malcolm tidak tinggal diam, ia yakin bahwa ia masih sanggup untuk mengubah pikiran Caesar dan kera-kera lainnya. Akhirnya ia beserta tim nya kembali datang, yang ternyata memang berhasil untuk menunjukkan ke Caesar dan yang lainnya kalau mereka hanya ingin mendapatkan daya listrik kembali. Tapi, ada seekor kera yang tidak menyukai keputusan Caesar, namanya adalah Koba, salah satu korban dari banyak kejahatan yang dilakukan oleh manusia. Karena Koba, akhirnya pertunjukkan yang sudah lama kita tunggu pun muncul, yaitu pertempuran antara manusia dengan kera.





Bukan lah pertempuran biasa yang terjadi dalam film ini. Tak disangka, peperangan yang berlangsung benar-benar menjadi terlihat sangat seru dan menarik. Baku tembak dan ledakan yang terjadi sungguh patut untuk diacungi jempol, apalagi ketika gaya pengambilan gambarnya mulai bermain, membuat segalanya menjadi terlihat realistis. Belum lagi ketika adanya pertarungan antar sesama kera yang juga tak kalah serunya.

Tentu saja, semua hal tersebut didukung oleh visual effect yang memang sempat menjadi nominator OSCAR di kisah pertamanya. Lalu satu hal yang akan kita selalu ingat adalah suara khas dan tegas dari Caesar yang dibawakan oleh Andy Serkis, dimana ia ini memang sangat ahli dalam memerankan tokoh-tokoh yang unik, contoh lainnya adalah Gollum di The Lord of the Ring.


Namun satu hal yang tak disangka, bahwa semua kera tersebut adalah sesosok manusia yang tampilannya berubah hanya oleh karena visual effect. Jadinya, baik itu ekspresi dan gerakan mereka, semuanya pure dari tindakan para pemainnya. Kita pun akan dibuat terpana ketika melihat betapa detailnya desain para kera tersebut. Semuanya tergambarkan begitu perfect, dan akan sangat ditunggu untuk sekuel ketiganya nanti, yang dimana pastinya akan lebih mengarah ke peperangan antara manusia dengan kera yang sesungguhnya.

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath