Serial TV: Hannibal (Season 1 & 2)

Selalu ada hal yang menarik dalam kisah seorang psikopat. Apalagi jika tokoh psikopat ini adalah tokoh terkenal yang pernah dipuja-puji para penonton beberapa tahun silam. Walau sebenarnya ada perbedaan yang besar di antara psikopat dalam Norman Bates dengan yang satu ini, dimana jika Norman memang benar-benar mengidap kelainan jiwa sejak ia masih kecil, tapi untuk yang ini, kelainan jiwa bukan lah realitasnya, tapi sebuah kepintaran dan kesadaran penuh adalah genggamannya. Apa yang ia genggam pun akan terasa kurang jika ia tak melakukan suatu hal yang dapat membuatnya menjadi seorang penguasa, yah, penguasa manusia. Itu lah Hannibal Lecter, seorang psikopat pintar dengan kemampuan bela dirinya yang luar biasa, plus sikap sadistisnya karena gemar memakan daging serta organ tubuh manusia.


Sejak kemunculan tokohnya di The Silence of The Lamb, yang diperankan oleh Anthony Hopkins hingga ia beserta filmnya berhasil memenangkan lima penghargaan Oscar, para penonton pun berhasil dibuat menjadi sangat tercengang akan tokoh yang mampu menggantikan kehebatan dari seorang Norman Bates tersebut. Dr. Hannibal Lecter adalah seorang psikopat yang sebenarnya. Tentu banyak orang yang sudah terinspirasi olehnya, bahkan seorang sutradara Bryan Fuller yang akhirnya memutuskan untuk membuat serial televisinya di NBC channel, agar karya-karya indahnya mengenai sebuah pembunuhan bisa tercantumkan dengan kekal.

Kisahnya sendiri diambil sebelum kejadian dalam Red Dragon terjadi. Buku karya Thomas Harris yang sudah difilmkan juga tersebut, memiliki karakter-karakter penting yang pada akhirnya mampu membuat Dr. Lecter menjadi tertangkap. Adalah Will Graham yang berhasil menjebloskan seseorang yang pernah menjadi rekannya tersebut ke dalam jeruji besi. Namun kisah penangkapannya masih lama, yang mungkin akan dilakukan di season ke tiga nantinya. Nah, untuk yang belum menontonnya sama sekali, bisa menikmati terlebih dahulu serangkaian kejadian sadis penuh seni dari season pertamanya.

Kali ini Dr. Lecter akan diperankan oleh Mads Mikkelsen, yang tentu memiliki perbedaan yang cukup ketara dalam menggantikan Anthony Hopkins yang sudah terkenal tersebut. Aktingnya tetap memukau dan patut untuk diberikan penghargaan, karena terlihat dari ekspresi wajahnya, dimana ia berhasil mengendalikan dirinya sendiri dengan sangat luar biasa, baik itu pada saat sedang berbohong maupun saat sedang melakukan pembunuhan.

Karakternya memang sangat menarik, ia seakan memiliki banyak talenta yang belum sempat dipertunjukkan dalam film-film layar lebar sebelumnya, seperti dalam hal memasak, apa pun sanggup ia masak, baik dari masakan ala perancis hingga jepang, walau kita semua tahu bahan dasar apa yang sering digunakannya, tetapi tetap menggiurkan sewaktu semua sudah disajikan di atas meja makan. Lalu, ia juga memiliki ilmu bela diri, yang dapat membantunya dalam hal mempertahankan diri, sehingga walau beberapa kali ia ketahuan, tetap tak ada yang bisa mengalahkannya. Kemudian, ia juga menguasai ilmu pembedahan dan psikologi yang paling utama. Kemampuannya untuk memutar balikkan fakta, atau mempermainkan pola pikir seseorang adalah sebuah kesenangan sendiri di dalam film ini. Di season pertama, kita akan sangat jelas melihat keberhasilannya yang sungguh agung tersebut. Siapa pun, walau kita tahu Dr. Lecter sedang membodohi rekan-rekannya, tetapi kita sadar kalau caranya memang sangat lah pintar.

Will Graham (Hugh Dancy) juga seorang tokoh yang tak kalah menarik, dan memang pantas untuk diperhadapkan dengan Dr. Lecter. Kemampuannya yang bisa melihat jalan pikiran seorang pembunuh di lokasi TKP, adalah kekuatan terbesarnya yang pada akhirnya mampu membuat Dr. Lecter menjadi sedikit khawatir, apalagi sewaktu mereka berdua dijadikan rekan agen FBI bersama Jack Crawford (Laurence Fishburne) dan Dr. Alana Bloom (Caroline Dhavernas). 


Sesuai dengan karakter dari Dr. Lecter yang sungguh mempesona dan selayaknya seorang seniman, kita pun akan sering menjumpai beberapa pembunuhan yang walaupun terlihat menjijikkan, dengan banyak potongan tubuh dan organ dimana-mana, tetapi sang pembunuh selalu membuat para korbannya menjadi suatu bentuk yang cantik dengan makna di dalamnya, seperti mayat seorang malaikat, puluhan mayat berbentuk mata, dan lain sebagainya. Di season kedua, mungkin kecantikan dan artistiknya akan lebih dikumandangkan, sehingga para penonton sendiri bisa merasakan sebuah keindahan setelah melihat karya sang maestro, atau disini adalah pembunuh psikopat tersebut.

Namun, pembunuhnya tak hanya ditekankan pada Dr. Lecter semata, selalu ada pembunuh-pembunuh lainnya, tapi selalu saja Dr. Lecter mampu untuk mengambil keuntungan dari mereka masing-masing. 

Pada season yang pertama, kita akan dikejutkan oleh permainan Dr. Lecter yang sudah sejak awal dirinya memang dipenuhi dengan kekhawatiran, namun pada akhirnya ia berhasil melewati itu semua, hingga di season kedua, ternyata permainannya masih belum selesai dengan akhir kisah yang bisa dikatakan tragis, namun tetap pintar. Lalu, kehilangan besar akan sangat kita rasakan di season yang kedua, yang harus kita tonton sendiri, sewaktu Dr. Lecter berhasil mengambil nyawa dari salah satu karakter yang cukup terpandang dalam serial ini. Ngomong-ngomong kita juga akan menemui salah seorang tokoh yang ada di Film Red Dragon, dimana dalam film tersebut orang ini memiliki muka yang sangat hancur, jadi mari kita ketahui penyebabnya.


Yah, dalam Hannibal, kita akan melihat kehidupan sewaktu Dr. Lecter yang masih belum tua, dan masih menjadi seorang psikiater handal. Dan jujur saja, setiap orang selalu ingin menjadi pintar dan mampu untuk menguasai sesuatu. Tokoh Hannibal adalah sebuah inspirasi besar jika kita semua ingin belajar dalam menguasai banyak hal. Dan, menjadi kanibal adalah 'menguasai seutuhnya...'

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath