Cerpen: Sang Pemimpin (tahap pertama)

Sejak James melakukan hal yang cabul di sekolah, ia pun dianggap sebagai sang pengkhianat, baik itu untuk kekasihnya, teman-temannya, bahkan sekolahnya. Jabatannya sebagai ketua OSIS tahun 2014 sendiri telah dicabut secara tak terhormat. Membuat dirinya menjadi seorang pria yang sangat hina sebab hasratnya yang tak tertahankan terhadap teman perempuannya tersebut. Ia tidak dijatuhi hukuman yang besar, hanya skors selama satu bulan, yang pada akhirnya membuat banyak nilainya runtuh. Namun ia tetap lah seorang pria yang selamat, karena predikat baiknya sewaktu menjadi pemimpin serta berhasil mempertahankan banyak juara, beberapa guru pun memutuskan untuk membantunya, walau tetap ia tak akan lagi menjadi apa-apa di sekolahnya, bahkan mengikuti kejuaraan matematika serta bola basket kebanggaannya. Ia hanya lah anak biasa yang kini akan selalu dikucilkan sebab perbuatan menjijikkannya tersebut.

Tapi ini bukan lah sebuah cerita tentang James, karena kejadian yang dibuat oleh James adalah sebuah awal, bukan akhir. Ini adalah sebuah pintu yang tiba-tiba saja terbuka lebar untuk ketiga calon pengganti James, yang tentu sama-sama memiliki ambisi untuk menjabat sebagai ketua OSIS. Jaka, Rena, dan Antonio, tiga siswa kelas dua, dimana Jaka berada di jurusan IPS, sedangkan Rena dan Antonio berada di jurusan IPS. Mereka bertiga memiliki banyak perbedaan, khususnya dalam hal memimpin. Perbedaan mereka ini pun dijadikan sebagai bahan debat di dalam suatu sidang tertutup dimana dipimpin oleh kepala sekolah dan guru pembimbing OSIS. Pemilihan mereka bukan lah berdasarkan suara terbanyak dari para siswa, tapi dari hasil keputusan kedua pemimpin sidang tersebut. Siapakah yang akan menang?

"Kepala sekolah, Jaka adalah seorang pemimpin olah raga basket dan sepak bola di sekolah kita. Sejak ia memasuki kelas pertama, para senior sudah percaya kepadanya, sebab ia sudah delapan kali memenangkan perlombaan kedua olahraga tersebut menjadi juara pertama sejak SMP. Ia dikenal sebagai seorang pria yang tegas dan pantang menyerah dalam hal memenangkan sesuatu. Atmosfernya sewaktu memimpin para kru sangat lah bagus. Mereka semua selalu mengikuti perkataan dari Jaka." Kata guru pembimbing, di awal sidang debat sedang dimulai. Kemudian ia beralih ke Rena, dimana posisi mereka semua saling berhadap-hadapan, hanya dengan satu bangku, sedangkan kepala sekolah dan guru pembimbing disertakan dengan meja panjang.

"Berikutnya Rena, seorang perempuan cantik yang sangat disukai oleh banyak siswa di sekolah kita. Bukan disebabkan parasnya yang ayu, tapi karena sikapnya dari kelas pertama. Ia sangat mudah bergaul dengan siapa saja, baik itu dari siswa yang selalu di bully sampai siswa yang selalu dipuja-puji. Kehadirannya membuat banyak siswa menjadi mau untuk berdamai. Ia yang selalu mendatangi para siswa yang sedang bertengkar, dan dengan tegas tapi memiliki kelembutan, semua masalah bisa clear. Rena juga sudah sering membuat banyak kegiatan amal di sekolah kita, baik itu untuk panti asuhan hingga korban bencana alam di Indonesia."

"Terakhir, kita memiliki Antonio, seorang siswa pintar berprestasi di berbagai bidang pengetahuan umum dan sosial. Ketertarikannya untuk selalu membaca, belajar dan memenangkan banyak perlombaan adalah sebuah modal besar untuk kehidupannya kelak. Bahkan kemampuannya bisa dikatakan sudah di tingkat perguruan tinggi, karena di usianya yang sekarang, ia sudah mengerti akan dunia psikologi, sosiologi, komunikasi, kedokteran, serta politik."

"Well.. well...." Kepala Sekolah memulai pembicaraannya. "Sekarang saya sudah mendapatkan gambaran sekilas tentang kalian bertiga. Prestasi dan kondisi kalian bisa dikatakan sudah mumpuni untuk menjadi ketua OSIS yang baru. Namun rasanya kurang lengkap jika tidak ada informasi mengenai sikap negatif yang kalian punya."

"Baik kepala sekolah, berikut akan saya bacakan informasi mengenai sikap negatif yang sudah mereka tuliskan masing-masing."

"Tunggu, jika kamu yang baca, maka sidang ini tidak akan menjadi menarik. Sekarang saya minta masing-masing dari kalian bertiga untuk memberitahukan mengenai kejelekan dari teman-teman sebelah kalian. Saya butuh opini dari orang lain, bukan dari diri sendiri. Dimulai dari Jaka, untuk Rena dan Antonio." Perintah Kepala Sekolah sambil tersenyum. Ketiga siswa pun ikut tersenyum, seakan menantang permintaan dari sang Kepala Sekolah.

Jaka pun langsung berdiri dan melihat Rena serta Antonio. Dengan badan tinggi, dan suara beratnya ia berkata dengan tegas,"Baik Pak, terima kasih karena saya sudah diperkenankan sebagai pembicara pertama untuk memberikan sifat kurang baik dari saudara terkasih saya, Rena dan Antonio. Tentu saja ladies first. Rena, walaupun sangat cantik dan berkelakuan seperti malaikat, tetapi ia tak terlalu baik dalam bidang akademis. Nilai-nilainya selama ini pas-pasan, bak abu-abu, tidak jelek dan juga tidak bagus. Selama ini ia hanya selamat di dalam sekolah, tidak ada hal yang bisa dibanggakan selain sosialisasinya yang bagus terhadap semua siswa di sekolah kita. Sedangkan Antonio, ia sama sekali tak pandai dalam bidang olahraga, tidak ada kedisiplinan dalam hidupnya. Hanya belajar, tanpa mau bersosialisasi terhadap banyak orang. Badannya yang kurus telah membuat dirinya menjadi tak layak sebagai seorang pemimpin. Terima kasih Pak." Seru Jaka sambil duduk kembali. Rena dan Antonio tetap tersenyum setelah mendengar pernyataan dari Jaka tersebut.

"Sangat menarik. Di waktu pertama saja sudah ada kata-kata penyerangan. Baiklah, sekarang saya persilahkan Rena."

"Terima kasih Pak, dan juga untuk Jaka atas masukan berharganya. Saya akan berusaha untuk memperbaiki kekurangan saya tersebut secepatnya setelah ini. Yang pertama, untuk Jaka. Tentu saya punya segudang informasi mengenai sikap tak baik Jaka yang selama ini sudah disembunyikan oleh teman-temannya." Cetus Rena sambil melihat Jaka dengan senyuman manisnya, dan Jaka terpucat sejenak, sangat takut dengan apa yang akan dikatakan Rena berikutnya. "Oh tenang Jaka, tidak etis jika saya memberitahukan semua keburukan kamu di depan Kepala Sekolah dan guru pembimbing kita. Saya akan tetap menjaga kepercayaan dari teman-teman saya yang juga sebagai teman kamu tersebut, dan sekarang saya akan memberitahukan mengenai hal-hal yang sudah nampak di permukaan saja tentang kamu. Yah, itu sudah pasti mengenai sikap kamu yang selalu ingin didengarkan oleh para bawahan, tanpa ingin menerima pendapat mereka. Kamu terlalu otoriter, dan di jaman ini, otoriter sudah tidak asik lagi untuk digunakan. Lagipula nilai-nilai kamu selain olahraga juga dikatakan sebagai selamat saja, jadinya kamu tidak boleh untuk mengucapkan hal yang sama terhadap saya ya. Sedangkan untuk Antonio, oh, kamu terlalu misterius. Banyak hal dari kamu yang tidak saya ketahui. Pada saat saya ingin berteman dengan kamu, kamu lebih memilih untuk pergi. Saya pun sangat susah mencari tahu tentang kamu dari siswa-siswa lainnya. Saya kaget sewaktu kamu memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai ketua OSIS. Apakah kamu yakin dengan sikap individual kamu itu?"

"Tentu saja saya sangat yakin." Tegas Antonio sambil tersenyum menjawab pertanyaan Rena. Rena pun langsung duduk, dan Kepala sekolah langsung memberikan tanda mempersilahkan Antonio untuk mulai berkata-kata. "Individual bukan lah sebuah kekurangan. Hal ini adalah kekuatan karena walau keadaan apa pun sedang menimpa, secara personal saya bisa berdiri sendiri, tanpa harus terperangkap dalam harapan akan bantuan orang lain. Jadi jangan katakan individual sebagai sebuah kelemahan. Namun ini bukan tentang saya harus membela diri, saya akan tetap mengikuti alur pertanyaan Pak Kepala Sekolah. Pertama, Jaka, kamu adalah pria yang tegas dan berprestasi di bidang olahraga, kemampuan kamu saat memimpin sudah sangat baik, harus saya akui itu. Tetapi selain pernyataan dari Rena, kamu sebenarnya hampir memiliki kemiripan dengan James. Rena sangat pelit untuk memberitahukan hal tersebut. Yah, siapa yang ingin kejadian yang sama terulang kedua kalinya?"

"Jangan membuat prasangka yang bukan-bukan yah Antonio!" Salip Jaka dengan nada tingginya sambil berdiri, membuat Rena menjadi kaget. 

"Tenang Jaka, kita biarkan Antonio berbicara terlebih dahulu. Ok." Ucap Kepala Sekolah.

Jaka pun berpikiran, jika ia terpengaruh dengan perkataan dari Antonio, maka akan dicap sebagai orang yang mudah emosi, padahal selama ini ia masih bisa bersabar. Jaka harus bertahan. "Baik pak. Maafkan saya."

"Baik, akan saya lanjutkan. Semua pernyataan saya ini berdasarkan fakta di lapangan. Saya individual, tetapi saya melakukan observasi secara menyeluruh. Berusaha untuk mengetahui sikap seseorang, dengan cermat lewat semua ilmu yang sudah saya pelajari. Ok, selanjutnya tentang Rena. Kamu tentu tak sebaik dari yang terlihat. Semua perbuatan baik kamu tentu saja memiliki maksud. Kamu adalah lebah madu, dari depan memberikan hal yang manis, tapi dari belakang kamu memberikan sebuah penghakiman. Sekolah kita memiliki beberapa kasus yang selalu disembunyikan, kecuali kasus James yang dimana ada orang bodoh yang sudah menyebarluaskan kejadian yang menimpanya lewat Facebook dan Path. Tapi bagaimana dengan kejadian pada saat Renita jatuh dari tangga? Atau pada saat Budi yang tiba-tiba saja terkena ledakan kecil di laboratorium? Mereka berdua dikatakan memiliki kebiasaan suka mengganggu anak-anak lainnya. Lalu siapakah yang membalas mereka tersebut?"

"Tentu Tuhan Antonio." Seru Rena sambil tetap mempertahankan senyumannya. "Observasi kamu sudah mengada-ada dan terlalu banyak memfitnah saya dan juga Jaka. Tolong untuk jangan melakukan hal seperti itu lagi."

"Benar Antonio, pernyataan tanpa bukti adalah sebuah pelanggaran. Jangan sampai kamu dianggap sebagai tong kosong nyaring bunyinya di sekolah kita." Kata guru pembimbing menambahkan.

"Oh tidak Ibu. Saya bukan lah tong kosong nyaring bunyinya. Suara saya tak pernah nyaring terdengar, kalian semua tahu itu. Namun memang akan sangat terdengar nyaring ketika saya sudah memberitahukan fakta-fakta yang ada. Saya tak pernah berbicara tanpa bukti. Saya selalu menyimpan banyak bukti di tempat-tempat yang sangat aman, agar nantinya saya akan berikan ke kepala sekolah serta dosen pembimbing. Apakah kalian berdua sangat ingin untuk kejadian-kejadian tersebut tak sampai menjalar ke luar sekolah? Apakah kalian semua ingin untuk menyembunyikan semua kasus tersebut?"

"Antonio, kamu sedang mengancam kami?!" Seru Guru pembimbing.

"Pak, saya kira Antonio sudah menyalahi aturan. Dan ia sudah tidak pantas untuk berada di persidangan ini, serta untuk menjadi ketua OSIS. Karena sikapnya sangat membahayakan semua orang!" Seru Jaka, yang lalu disetujui oleh Rena.

"Ancaman tak perlu ditakuti jika bukan lah sebuah kebenaran. Kita semua tahu itu, bukan?" Kata Antonio.

"Ancaman yang kamu buat sangat tidak berdasar Antonio. Mungkin karena pengetahuan kamu akan politik, kamu sedang membuat sebuah metode agar kami semua menjadi sangat takut dengan perkataan kamu. Kamu bisa saja membuat sebuah bukti palsu nantinya." Seru Rena.

"Maaf, saya hanya menyampaikan fakta. Tidak lebih dari itu. Terima kasih." Kata Antonio sambil duduk kembali.

"Well, well... Tahap pertama yang sangat menarik. Saya tak menyangka kalau akan menjadi semenarik ini."

"Pak, ini bukan menarik pak. Tapi ini namanya sudah penyebaran fitnah yang tidak masuk akal." Seru Rena ke Kepala Sekolah.

"Lantas, apakah kamu akan mengalah Rena?" Tanya Kepala Sekolah.

Rena seperti merasa dikalahkan. Ia pun dengan berat hati mengatakan,"Baik pak, saya akan tetap melanjutkan sidang ini."

-Bersambung-

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath