Stop Membicarakan Perasaan

Bagaimana jika, semua usahamu hanyalah sebatas istana pasir yang sudah kamu bangun dengan susah payah di pinggiran pantai, namun sayangnya harus tetap tersapu ombak yang entah selalu datang mendekat tanpa kita ketahui kapan. Begitu pula dengan kehidupan gua sekarang, yang dimana gua telah menelan ludah gua sendiri jika dikaitkan dengan post gua yang sebelumnya. Ternyata memang, gua tak pernah menganggap ulang tahun gua sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja. Selalu ada harapan besar yang sangat gua nantikan, dan itu selalu sama di tiap tahunnya, yaitu: tentang si 'dia'! 

Saat gua dengannya bisa bertemu di waktu yang tak bisa gua beritahukan kapan, yang pasti setelah gua sudah berulang tahun, ternyata ada hal yang harus ngebuat gua jadi sedih bukan main. Yah, lagi-lagi dehhhh..... (sudah sering gua bicarakan mengenai hal ini, namun selalu berbeda yah)

Soalnya gimana yah, sebenarnya sudah beberapa kali gua bertemu sama dia. Dan hubungan kami benar-benar bisa ketawa-ketiwi lagi kayak dulu. Gua pun terus menjaga pembicaraan kami agar bisa jadi lebih seru dengan jadi diri gua sendiri yang sering gua tampilin ke semua teman-teman gua, tanpa harus memberitahukan apa isi hati gua kepadanya kalau gua sungguh ingin cepat jadian sama dia. Dia juga yang mungkin sudah terbiasa ngobrol sama gua, jadi bisa menceritakan banyak hal ke gua, and I like it so much!! Itu yang gua tunggu-tungguuuu.....

But, karena tiba-tiba saja dia mengatakan sesuatu pada waktu itu, yang intinya adalah ia sedang dekat dengan orang lain 'lagi', hati gua pun langsung hancur berantakan. Seperti sebuah istana pasir yang gua rasa sebentar lagi akan selesai, eh sebuah ombak datang dan langsung hancurin semuanya (lagi). Saat itu mata gua benar-benar ingin keluarin tangisan sederas-derasnya, namun harus gua tahan karena akan awkward banget nantinya. Pandangan mata gua pun harus gua hindarkan dari mukanya, karena hati gua sedang bercampur kesal dan sedih waktu itu. Entah ia sadari atau tidak, yang pasti gua sungguh sakit hati bukan main.

Keesokan harinya, gua putuskan untuk menanyakan mengenai masalah itu kepadanya lewat media sosial, tetapi dia bilang ke gua untuk 'jangan memulainya lagi', dimana gua agak tak bisa mengartikannya saat itu. Antara dia tak ingin gua terus-menerus kasih kata-kata kalau gua sayang sama dia dan gua lagi sakit hati, atau memang ia ingin gua agar 'jangan memulai untuk suka sama dia lagi'. Hingga sejam gua memikirkan sampai pusing, akhirnya gua putuskan untuk bilang 'bercanda' saja ke dia, atau gua akhiri dengan tidak memberitahukan apa isi hati gua ke dia.

Jadinya seperti ini, gua harus terus menyimpan perasaan gua, dan jangan sampai ia ketahui. Walaupun ia sudah buat gua jadi sakit hati saat sedang ketemu, gua harus terus berbohong kepadanya kalau gua tetap merasa biasa-biasa saja (walau tidak bisa gua janjikan). Intinya adalah, gua putuskan untuk melarang diri gua membicarakan mengenai perasaan gua ke dia sampai waktu yang entah kapan akan selesai.

Yah, perasaan gua ini hanya sebuah sampah yang tak bisa gua berikan untuknya. Namun dengan sebuah topeng cemerlang yang ia mau, gua akan terus berusaha untuk menyenangkan hatinya. Ini lah bagaimana gua mencintai dia, dengan mengorbankan perasaan dan keinginan gua untuk menjadi pacarnya.

I still love you.... And I hope usaha gua akan berhasil kelak. Amin!

Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath