Kejatuhan Pertama: Dari Motor dan Semuanya

Setelah sekitar dua bulan lalu gua sudah berhasil merasakan sebuah kesenangan yang tiada tara, atau best day ever! Akhirnya liat gua kini, hanyalah sebongkah pria kurus yang sedang mengetik di laptop lamanya, sambil ditemani oleh tujuh bekas luka, di jidat, tangan, dan kaki sebelah kanan, akibat jatuh dari motor pada hari Selasa kemarin, dan tak lupa untuk jabatan sebagai 'pengangguran' yang kini telah menjadi title gua setelah selesainya masa kontrak magang dengan kantor gua yang kemarin.

Hurray! Horrah! Horee!! Anton Suryadi sudah tidak bahagia lagi, tidak seperti pada saat ia selama berjam-jam tidak bisa tidur karena terus mikirin kejadian yang sudah menimpanya di hari ia telah berhasil melewati proses sidang tugas akhir yang sungguh mempesona tersebut. Sekarang Anton Suryadi kembali mendekam di ruangan yang lumayan terpelosok, dengan tiada guna sama sekali. Betapa menyedihkan.

Yah, seperti yang sudah pernah gua katakan pada saat gua lagi nulis tentang kebahagiaan gua tersebut, yaitu gua tidak boleh terus merasa di atas, tetapi gua tetap harus memikirkan setiap kemungkinan yang bakal terjadi ke depannya. Sebab gua belum dapetin pekerjaan tetap sampai sekarang! Dan adalah sebuah kenistaan jika ada seorang pria yang dikatakan berhasil lolos duluan atau paling pertama ketimbang teman-teman angkatannya tetapi sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan yang tetap di Kota Jakarta ini.

Impian gua untuk bekerja di perusahaan yang besar pun akhirnya hanya lah menjadi buah pikiran yang kini telah membusuk, dan mungkin akan terasa manis kembali jika gua benar-benar sudah mendapatkan pekerjaan yang tetap, dimana gua akan berusaha untuk bertahan selama 1 tahun minimal, lalu mencoba untuk meraih impian di dalam beberapa kantor impian gua.

Baiklah, mungkin itu saja soal perasaan gua kini yang dimana telah menjadi pengangguran. Sekarang gua akan mencurahkan mengenai masa-masa kejatuhan gua dari motor kemarin. Yaitu, pada saat sedang pergi kerja di pagi hari, kemudian ada sebuah lubang besar, dan gua bawa motornya sedikit ngebut, lalu udah deh, gua jatuh keseret dengan sangat lama kemarin, sampai-sampai gua merasa kesakitan sekali. Kemudian pada waktu sudah selesai keseretnya, gua sadar kalau jidat gua benjol besar dan berdarah, sambil ditemani oleh celana bahan gua yang sudah robek-robek, plus jaket gua juga, menyebabkan kaki dan tangan gua jadi kena luka bakar yang sangat gua benci. Namun untunglah, tiada yang patah, dan mobil belakang gua tidak menabrak gua waktu itu, lalu ada orang baik yang namanya kira-kira Rian yang telah membantu gua sampai ngebawa gua pulang ke kosan. 

Sesampainya di kosan, gua merasa harus berjuang melawan semua ini. Gua pun minta tolong mbak penjaga kosan untuk membeli betadin, dan ia juga menolong gua untuk memasak air panas. Jadinya gua lap dulu luka gua dengan air panas, lalu gua kasih betadin. Tapi itu masih kurang, karena gua merasa kalau ini memang harus dibawa ke rumah sakit. Hingga mbaknya bilang sama gua kalau ada klinik di dekat kosan, yang langsung saja gua datangi klinik tersebut dengan menggunakan motor gua yang Puji Tuhan masih bisa nyala, walau kaca spionnya sudah hilang dua-duanya. Dengan hati-hati gua menaiki motor gua, dan dengan hati-hati pula gua berjalan. Kemudian saat sudah sampai, semua luka gua benar-benar dirawat oleh sang dokter dan juga susternya. Dikasih air H2O atau apa lah namanya, lalu diberikan betadin plus salep yang katanya membantu proses penyembuhan, ditambah juga obat-obatan untuk penyembuhan di dalam. Tapi katanya masih kurang, gua harus disuntik tetanus, dan karena suntikan tetanusnya sudah kadaluarsa semua di klinik tersebut, gua dianjurkan untuk pergi ke rumah sakit besar, yang memang dekat juga dengan kosan gua. Lalu dengan motor gua lagi, gua langsung pergi kesana, tanpa helm, dan dimana kaki, tangan, serta kepala gua yang sudah diperban. Sesampainya gua di rumah sakit Royal Taruma, yang dimana gua susah sekali ketemu pintu masuknya dari tempat parkiran motor, gua pun langsung disuruh ke UGD, untuk dirawat kembali, dan tentu diberikan suntikan tetanus. Harganya sendiri jauh lebih mahal dari klinik tempat gua dirawat sebelumnya, padahal sebenarnya gua cuma minta untuk suntik tetanus, tapi ada aja pembayaran lainnya. Yah namanya juga rumah sakit gede lah ya.

Intinya gua sudah mengikuti prosedur dokter semua, dan gua menjalani semuanya tersebut sendirian, untuk tetap bertahan di muka bumi ini. Tapi hingga teman gua, Leo datang di Royal Taruma, baru deh gua minta bantuannya untuk membelikan gua makanan setelah kami sampai di kos. Tentu saja gua harus menghubungi seseorang tentang kejadian ini, dan meminta mereka untuk datang, karena kalau tidak, siapa yang tahu akan kejadian di masa depan. Untunglah gua masih punya teman, walaupun gua sudah berusaha sendiri, tapi tak menutup kemungkinan untuk gua meminta bantuan ke orang lain.

Seperti itu lah kira-kira perjuangan gua di kala sedang tertimpa musibah, yang memang masih bisa gua atasi, karena tiada tulang yang patah, dan mungkin hanya keseleo saja kaki gua, tapi berhasil gua lewati dengan terus menggerak-gerakkannya dan ngebuat pernyataan dari dokter kalau nantinya kaki gua tersebut akan bengkak, yang ternyata sampai sekarang tidak lah bengkak. Gua terus menggunakan kaki dan tangan gua, tidak mendiamkannya seperti sudah tidak berguna.

Kemudian, gua tentu harus pulang ke rumah dan memberitahukan ke keluarga gua. Dan thanks untuk Leo yang sudah mau mengantarkan gua pulang, sampai akhirnya bisa sampai ke Nyokap gua. Di rumah, gua langsung minta untuk dibelikan titayocin (sebutannya ya) yang katanya perih tapi manjur, tapi tak apa-apa, karena gua lebih suka untuk cepat sembuh, sama seperti pada waktu di rumah sakit, walaupun ada beberapa cairan pembersih yang sangat perih, tapi gua minta untuk terus dilanjutkan saja. Dan memang lah titayocin itu sangat perih, apalagi untuk pertama kalinya, gua pun yang memakainya sendiri, walau awalnya dibantu oleh Nyokap gua sedikit. Tapi seterusnya gua lah yang harus menyembuhkan diri gua ini.

Sayangnya, karena gua pulang tepat pada saat rumah gua akan pindahan, gua pun merasa untuk kembali lagi saja ke kosan, apalagi sewaktu Nyokap gua sudah melihat gua yang dimana sudah bisa berusaha sendiri mengatasi semua luka-luka gua. Jadinya keesokan harinya gua diperbolehkan untuk kembali ke kos, daripada nantinya ribet pada saat pindahan. Lagipula memang sayang jika gua meninggalkan kosan yang sudah gua bayar ini, soalnya disini juga masih bisa internetan, sehingga gua bisa download film terus untuk membuang waktu. Kalau di rumah mungkin gua hanya bisa tidur dan merepotkan keluarga gua. Lebih baik gua dikosan, berusaha untuk membeli makanan sendiri, dan membersihkan diri sendiri, serta merawat diri sendiri. Berhasil gua jalani hingga sekarang, walau kurang baik juga, karena gua jadinya suka nonton sampai pagi, dan yang seharusnya gua minum obat minimal dua kali sehari, bisa hanya satu kali karena belum makan, sambil keasikan nonton film serial tv barat, seperti Hannibal, dan Game of Thrones yang sampai sekarang gua masih penasaran akan season ke empatnya.

Di kala gua sedang mengalami musibah ini pun, gua pengen melihat akan siapa teman-teman gua. Gua memang sudah sekian lama mengantisipasi untuk tidak terlalu terikat dengan hubungan pertemanan, tidak terlalu berharap banyak, dan tetap lah gua akan melakukan yang terbaik untuk mereka. Beberapa mungkin agak mengecewakan gua, dan itu bukan karena beberapa dari mereka tidak menjenguk gua, tetapi karena hal-hal yang sudah membuat gua merasa kalau mereka setidaknya 'melakukan hal ini' atau 'hal itu' yang hanya diri gua sendiri lah yang tahu. Tapi ok, gua tetap tidak akan berharap kepada mereka, oleh karena itu gua berusaha sendiri sejak awal gua kecelakaan, yaitu langsung ke dokter. Lalu, bukan hanya dari pertemanan, tapi dari orang yang gua suka, yang ternyata sudah membuang muka nya di kala gua sudah kesusahan sekarang. Thanks for that. Walau sedih, bahkan ditambah sikap gua yang masih mau merendahkan diri gua ke beberapa teman gua yang sama sekali sudah melupakan gua. Pada saat gua sedang bercermin, yah, gua selalu melihat orang bodoh yang masih berharap dan tetap ingin do a good things buat sesama manusia. Tapi tetap, tak ada yang bisa merubah diri gua untuk menjadi seorang pria yang baik, gua tetap lah diri gua, walau terlihat bodoh dan rendah (hanya jika gua beritahukan).

Tak apa-apa. Semua ini memang lah kejatuhan gua yang cukup memuakkan. Namun ini lah awalan hidup gua di usia yang sudah menginjak 22 tahun ini. Sebuah perjuangan yang selalu gua serukan di blog gua, dan okeh! Gua akan tetap bertahan hidup, berusaha untuk mendapatkan tahta yang mampu membalas budi keluarga gua. Seorang pria kurus yang sekarang tidak berdaya ini berjanji akan terus melakukan hal yang baik walaupun kisah cinta dan pertemannya sedang berjalan tragis. Eh tunggu, pertemanan gua ok-ok saja sih, masih ada yang mau membantu, dan menjenguk gua kemarin. Mungkin tragisnya adalah untuk beberapa teman gua yang sudah gua katakan sebelumnya kalau mereka 'tidak melakukan hal yang semestinya' walau gua sudah merendah.

Thanks..
Gbu all...

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath