Pindah Kos (Pemutusan Hubungan)

Berbicara mengenai sahabat, pasti tidak ada ujungnya, apalagi jika para sahabat tersebut sedang bertengkar, cocot yang mereka keluarkan pun tidak ada ujungnya jua. Kecuali jika ada yang 'mengalah'....

Setiap persahabatan di dunia ini tentu saja memiliki peraturan yang berbeda-beda selain hanya melakukan 'keterbukaan', 'pengertian', dan perbuatan baik belaka. Ada yang membuat peraturan untuk tak terlalu banyak ikut campur, untuk tidak menyakiti sekecil apa pun (jadinya persahabatan mereka hanyalah sebuah senang-senang belaka), lalu untuk tidak terlalu sering intensitas bertemunya. Jika peraturan-peraturan tersebut ada yang tidak sengaja mereka langgar, maka mau tak mau sebuah depenetrasi atau pemutusan hubungan akan terjadi.

Tentu saja hal ini sedang berlaku untuk kehidupan gua sekarang, yang dimana gua tak menyangka kalau sebuah persahabatan yang sudah terbina selama kurang lebih dua tahun akhirnya musnah. Gua pun jujur saja, lumayan mendukung pemusnahan tersebut, karena rasa tidak nyaman, stress, dan pada akhirnya membuat gua jadi memutuskan untuk pindah kos an pada pagi-pagi buta.

Sory, gua tak akan menceritakan banyak hal mengenai depenetrasi ini, karena gua pun masih akan menjaga nama mereka setelah apa yang sudah mereka lakukan terhadap gua. Yang pertama (langsung saja), salah satu dari mereka ada yang tidak sadar kalau gua sudah sering mengalah ketika ia selalu saja menyakiti hati gua dengan cara 'mengungkit semua yang ia berikan ke gua' (ketahuan tidak tulusnya), lalu ia juga menuduh gua sudah menyebar-sebarkan fitnah ke banyak teman-teman gua kalau gua yang sudah membuatkan skripsinya (ide awalnya memang dari gua, tapi gua tidak membuat fitnah sama sekali! Sh*t!!), kemudian ada yang langsung menyulut emosi gua sampai akhirnya ia menghitung semua kata-kata kasar gua pada waktu ia berhasil membuat gua melakukan hal seperti itu (padahal gua sudah mengalah dan menyuruh ia untuk keluar agar tidak terjadi pertengkaran hebat pada malam itu), dan ia ini juga mengatakan kalau gua bermuka dua dan manusia hina (oke lah gua terima dikatakan manusia hina, karena gua juga sudah menyebutkan anj*ng b*bi ke salah satu orangnya, tetapi untuk muka dua, waw! mereka benar-benar keterlaluan!!).

Gua ingin membahas sedikit mengenai 'muka dua'. Simple saja, jika gua bermuka dua, sudah pasti mereka tak akan pernah gua bela ketika ada beberapa teman kampus gua yang mengatakan yang buruk-buruk tentang mereka!

Dari semuanya itu, sebenarnya gua sudah melakukan sebuah permintaan maaf dan sangat menyesali ketika mereka ingin tak berteman lagi selamanya. Padahal gua kira, ketika gua sudah minta maaf, maka semuanya akan clear kembali, dan pertemanan ini akan terus berlanjut, sama seperti apa yang sudah terjadi ketika gua pernah bertengkar dengan sahabat-sahabat gua yang lainnya. Tapi nyatanya, mereka memutuskan untuk 'menyindir' gua lewat DP BBM sampai di path. Ya sudah, gua delete saja mereka, apalagi pada waktu dikatakan "jika disenggol sekali, maka semuanya akan berhenti", oke lah ya, gua juga harus menjaga harga diri gua.

Intinya adalah, gua sudah terlalu banyak merendah, dan anehnya, gua itu jarang marah orangnya, hanya di blog dan di hadapan teman-teman curhat gua saja ketika gua sedang marah dengan orang lain, tapi nyatanya pada saat sudah di depan muka mereka, dan mereka tak terima dengan amarah gua, malah menyebut gua sebagai 'anak kecil', baik lah, minggu kemarin gua putuskan untuk pergi dari kamar kos an gua yang pertama dan yang lama (karena gua tinggalnya di depan kamar mereka) pagi-pagi sekali, berpindah ke kos an yang baru hanya dengan menggunakan tenaga gua sendiri saat memindahkan semua barang-barang gua (untungnya tidak terlalu banyak).

Pagi-pagi itu kira-kira empat sampai lima kali gua bolak-balik kos an untuk memindahkan semuanya. Sampai-sampai gua jadi sakit (walau pada saat pertama kali bertengkar gua memang sudah sakit-sakitan sih). Yah bagaimana tidak sakit, wong stress sekali pada saat gua cuma seorang diri di dalam kamar menghadapi mereka. Otak tuh rasanya pengen marah terus, bahkan sampai sekarang jika gua ingat-ingat lagi perbuatan mereka sama gua. Padahal gua sudah meminta maaf karena gini-gini gua juga masih ingat kalau mereka pernah baik sama gua, tapi sikap mengalah dan meminta maaf gua tersebut hanya lah dipandang sebelah mata, yang mungkin karena mereka terus saja menganggap gua sebagai bermuka dua dan sudah menyebarkan fitnah kepada banyak teman gua dan juga teman mereka, SH*T!!!

Ya sudah, semenjak gua akhirnya pindah, gua pun juga pulang ke rumah keluarga gua, dan gua ceritakan semuanya ke Nyokap gua. Yah, memang Nyokap gua deh yang paling mengerti tentang keadaan gua, sampai akhirnya untuk uang membayar kos an yang baru pun turut dibantu sama Nyokap gua. Selain itu Cici gua sendiri juga ikut menghubungi gua pada saat gua sudah pindah kos an, beserta Nyokap gua yang sudah nelpon gua di malam gua tidur di kos an yang baru ini. Oh, I really love my family deh....

Tak lupa juga untuk ketiga sahabat gua lainnya yang ikut membantu mendengarkan gua pada saat insiden sialan ini sedang terjadi. Oh ya Tuhan, jika tidak ada mereka, gua pasti sudah uring-uringan dan terus minum panadol dah (yup, pada saat itu gua sudah dua atau tiga kali meminum panadol).

Lalu soal apakah gua akan berteman atau bersahabat lagi dengan mereka atau tidak untuk selamanya, yah, gua serahkan ke mereka secara personal. Karena gua sudah meminta maaf, namun terserah jika memang 'sudah disenggol sekali, maka selamanya tak akan berteman'. Gak peduli deh, karena gua sendiri sudah pernah mengalami hal yang paling buruk dari ditinggalkan seperti ini (masalah masa kecil gua). So, intinya gua belajar untuk 'tidak tinggal dekat-dekat dengan sahabatmu' dan juga 'kurangi intensitas bertemu dengan sahabat-sahabatmu'.

Thanks
Gbu

P.S: Gua berantem dengan mereka pada saat gua sedang akan menjalani sidang dan juga sedang menyelesaikan revisi skripsi!! Entah kalau bukan anugerah dari Tuhan, gua gak akan menyelesaikan semuanya ini.... Thanks God deh... 

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath