Dari Sering Hingga Jarangnya 'Tersenyum'

Selalu tersenyum, mungkin itu adalah satu hal yang selalu diagung-agungkan oleh banyak orang (sekarang ada di sekitar gua), dan sering dikumandangkan di situs jejaring sosial, Path. Banyak orang yang percaya jika kita selalu tersenyum di dalam keadaan apa pun juga, maka itu adalah sebuah 'kebersyukuran', yang dapat membuat kita menjadi bahagia di dalam kehidupan ini. Yap, tersenyum adalah sebuah kunci, dan sejak dulu, gua juga percaya akan hal tersebut, hingga akhirnya ketika gua sudah berkuliah dan telah banyak mengalami hal-hal yang mampu mengubah pola pikir gua.

Sejak gua SD, tersenyum memang sudah menjadi batu landasan gua untuk tetap bertahan hidup (gua kira), dan ketika gua sedang mengalami hal yang berat, tersenyum adalah yang gua lakukan, hingga kejadian ini bisa dikatakan sudah menjadi sebuah habit (kebiasaan), sampai-sampai pada waktu gua sedang berjalan membeli makan keluar rumah, bibir gua pun sering tersenyum tipis, seakan gua sudah gila (tapi masih dalam tahap senyum normal saja). Yah, bayangkan saja, gua yang dulu belum memiliki teman, dan sangat sedikit mendapatkan referensi mengenai kehidupan, jadinya gua hanya bisa mengikuti kata-kata di serial TV saja, yang gua lupa nama serial filmnya apa, yang pasti intinya adalah tentang 'selalu tersenyum'.

Nah, hingga sekian lamanya gua merasa harus terus tersenyum, akhirnya hal ini pun dapat terpatahkan pada saat gua sedang berkuliah di dalam jurusan Ilmu Komunikasi. Berbagai macam referensi dari buku-buku tentang psikologi komunikasi, lalu komunikasi interpersonal, hingga sosiologi komunikasi, setidaknya sudah gua baca, dan makin lama gua jadi makin mengerti tentang 'peran' gua di dalam kehidupan ini. Gua juga bisa lebih tahu akan siapa diri gua, dan apa saja yang harus gua lakukan untuk bertahan hidup. Ketika gua sedang berkuliah dan mempelajari pelajaran tersebut, gua pun jadi merasa sangat asyik untuk mengerti segala hal. Salah satu hal yang sudah sangat gua mengerti itu sendiri adalah tentang makna dari 'selalu tersenyum' tersebut.

Gua sangat mengagung-agungkan 'perbedaan'. Pada saat gua merasa ada banyak orang yang suka melakukan hal yang sama, gua pun merasa untuk menjadi berbeda, tapi berbeda dalam hal yang baik dan berdasar tentunya. Salah satunya mungkin kita banyak orang yang selalu berkata: "jika ada yang baik sama gua, maka gua akan lebih baik dari orang itu, dan jika ada yang jahat sama gua, maka gua akan lebih jahat dari orang tersebut!" Yah, sebagai orang yang sedikit religius dan mempercayai akan keinginan Tuhan, gua pun berusaha untuk selalu melakukan hal yang baik, walau banyak orang yang tidak suka dengan perlakuan gua tersebut. Dan ini bukan lah sebuah kesombongan belaka, karena memang sejak kecil gua tak suka membalas kejahatan orang, yang mungkin disebabkan oleh tubuh gua yang kelewat kurus dan lemah hahaha.... But, gua memang orang yang tak tegaan, jadinya ketika ada yang sudah jahat sama gua, dan ketika mereka meminta tolong sama gua akan sesuatu, yah jika bisa gua tolong gua pun akan menolongnya. Bahkan bisa terhitung tentang sedikitnya rasa amarah gua yang sudah gua tunjukan ke beberapa orang yang menurut gua sangat lah rese!

Okeh, balik ke kata 'selalu tersenyum'. Hingga gua sudah mengerti banyak hal dan tentunya mengalami banyak realita kehidupan, gua pun memutuskan untuk berhenti melakukan hal tersebut, yaitu selalu tersenyum. Gua pun mulai menganggap bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang menjijikkan, dan mampu makin merendahkan diri gua. Yap, poin pertama adalah 'merendahkan', karena disaat gua selalu tersenyum, banyak yang mengira bahwa gua sangat lah lemah. Yang mungkin dapat gua berikan contoh pada saat gua sedang datang ke sebuah kafe mahal yang terletak di lantai paling atas gedung BCA pusat, yaitu SKYE (baru kejadian malam minggu kemarin hehe). Saat gua sedang berada di dalam lift, hingga sampai di lantai tersebut, gua pun banyak melihat sebuah pemandangan yang kecut, I mean their face. Banyak yang tanpa senyum, atau bermuka jutek malah, yang mungkin itu adalah tampilan non verbal untuk mereka yang sudah high class. Sedangkan gua masih ada senyum-senyumnya apalagi sewaktu sedang berada di depan glitternya yang sangat lah belagu dan sudah jelas-jelas merendahkan gua bersama dengan teman-teman gua. Entah, mungkin karena badan gua bersama dengan teman-teman gua yang masih kecil, jadinya dianggap tak mampu atau lebih rendah ketimbang bule-bule yang datang atau para pria dan wanita yang sudah berdandan keren. Namun baiklah, mungkin dia hanya ingin melakukan pekerjaannya, dengan tidak ramah tentunya (anak ini adalah seorang laki-laki tinggi dan agak bungkuk serta aneh), yah biarkan saja deh. Intinya ketika gua sedang berada di kafe yang mewah dan sungguh high class tersebut, gua banyak belajar untuk selalu jutek ketika berada disana, karena ketika gua akan pulang pun, masih ada saja orang-orang yang berpapasan sama gua dengan muka yang sangat jutek. And I like it so much! Ternyata muka jutek itu sangat lah menyenangkan dan akan selalu gua coba. Hahaha.....

Lalu, poin kedua adalah bukan berarti dengan tersenyum maka kita selalu bersyukur. Padahal mau gua tersenyum atau pun tidak, gua masih berterima kasih sama Tuhan. Dan gua pun sangat bersyukur dengan segala emosi yang sudah diberikan oleh Tuhan. Jadinya mau gua sedang nangis, tertawa, bersedih, terasa sendirian, lalu juga kecapekan, gua pun akan terus menikmatinya dan tidak berusaha untuk mengubah semua emosi tersebut menjadi sebuah senyuman yang sungguh menjijikkan! Gua hanya ingin menjadi apa adanya, yang mungkin ketika sedang di kamar gua jika gua sedang ingin menangis hahaha....

Poin ketiga adalah dengan senyuman yang terlalu parah, maka kita seolah hanya ingin mencari perhatian belaka. Yah, bukan hanya dengan tangisan lalu juga amarah kita bisa menjadi sorotan publik. Dengan senyuman pun bisa. Apalagi sudah ada banyak serial TV yang memberikan tontonan galau dan mampu mempengaruhi anak-anak muda, seperti dengan terus tersenyum ketika sedang menangis, lalu sambil berkata 'rapopo' (tidak apa-apa). Hal tersebut pun digunakan untuk mencari perhatian belaka (bukankah begitu?!). Namun perhatiannya berupa sebuah 'aleman', yang sungguh sering dirasakan oleh anak kecil, yang terus merambah hingga dijenjang usia remaja dan dewasa malah.

Namun tenang saja, gua tetap percaya kalau senyuman itu dapat memberikan sebuah simbol keramahan untuk komunikan (orang yang diajak berbicara), karena sama seperti gua yang ketika sedang berada di SKYE, dimana glitternya semestinya ramah terhadap setiap pengunjung, walaupun ia tak membawa KTP sekalipun, tapi nyatanya dengan wajah jutek ia malah seolah-olah merendahkan sesama manusia. Untung saja masih ada glitter yang lain, yang dengan senyuman dapat memberikan kenyamanan lebih ketika kami sedang berada di dalam kafe ini. 

Lalu juga bukan berarti gua meminta kalian untuk berhenti tersenyum, karena gua pun tetap akan melakukan hal ini, baik itu dengan 'hati murni' gua, atau dengan 'berdrama' sekalipun. Karena jika kita masih ingin bertahan hidup di dunia ini, kita pun harus tetap ramah dengan orang-orang yang sepertinya sedang membenci kita, jadinya mungkin dengan sebuah drama dalam bentuk senyuman, orang tersebut dapat tertampar dengan sendirinya, dan dapat berpikir kalau kita adalah anak yang baik. 

Yah, gua hanya sudah mengerti apa arti dari sebuah senyuman itu, dan setidaknya sudah banyak yang gua kurangi, baik itu ketika gua sedang berada di dalam kamar untuk menangis (hiks), lalu juga ketika sedang berada di jalan umum (mungkin mall, kampus, atau di jalanan depan rumah gua). Gua pun akan selalu melewati beberapa hari gua dengan muka yang jutek, dan inti dari semua ini adala gua ingin menstabilkan semuanya! Yeah!!

Jangan terus tersenyum!!

Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath