Tentang Film "12 Years a Slave" dan Rasisme

Jika di Indonesia ada masalah rasisme dari kalangan pribumi dengan kaum Tionghoa, yang sempat meledak dengan sungguh brutal pada tahun 1998 lalu, hal seperti ini pun, bahkan lebih parah, sempat terjadi di sebuah negara adidaya, yaitu Amerika Serikat. Negara yang memiliki beberapa negara bagian ini ternyata memiliki masa lalu yang sangat mengerikan sebelum pada akhirnya sudah memberikan 'hak kebebasan' untuk banyak kalangan, seperti kalangan orang kulit hitam dan homoseksual. Namun hak bebas tersebut tak akan langsung disetujui oleh semua negara bagiannya, tentu saja ada beberapa negara yang tidak ingin memberikan hak tersebut, seperti kasus yang sedang menimpa kaum homoseksual disana sekarang. Sama halnya dengan kaum kulit hitam, dimana pada tahun 1841 masih ada beberapa negara bagian yang masih menjadikan mereka selayaknya seekor binatang, sebuah budak yang sungguh hina. Bahkan parahnya, ada beberapa orang kulit hitam yang diculik dari negara bagian yang sudah memberikan hak bebas untuk mereka, dan menjadikan mereka menjadi budak di negara yang tidak setuju tersebut. Hal ini pun pernah dialami oleh seorang pria bernama Solomon Northup, yang dimana selama dua belas tahun ia hidup sebagai budak oleh karena penculikan itu. Hingga ia bebas dan berhasil membuat sebuah buku yang berjudul 12 Years a Slave, hingga seorang sutradara Steve McQueen pun tertarik untuk mengadaptasikannya menjadi sebuah film, yang ternyata sampai menjadi pemenang di dalam ajang penghargaan Golden Globes kemarin (mungkis Oscar juga akan memenangkannya, kita lihat saja nanti).


Film yang memiliki tema kontroversial namun diangkat dari kisah nyata ini memang sudah kesekian kalinya dibuat di Amerika sana, yang mungkin digunakan sebagai pengingat kalau rasisme itu memang sangatlah keji dan menjijikkan. Steve McQueen pun berhasil mendapuknya dengan sangat bagus, bahkan para pemainnya sendiri bisa dikatakan sangat lah pantas untuk mendapatkan penghargaan.

Ceritanya pun dimulai ketika Solomon (Chiwetel Ejiofor) akan diculik oleh dua orang pria kulit putih yang pada akhirnya ia dibawa dari New York menuju ke New Orleans dengan nama barunya, yaitu Platt. Sejak saat itu film ini sudah menunjukkan tensi ketegangannya, dimulai dari ketika Solomon berada di dalam perahu, dimana sambil diiringi oleh scoring musiknya Hans Zimmer yang lagi-lagi selalu bagus. Beberapa kelakuan tak bermoral dari orang kulit putih pun ditunjukkan secara transparan disini seperti membunuh, memperkosa, dan mencambuk. Namun tentu tak semua orang kulit putih tak berlaku jahat seperti itu (yah semua manusia memang sama saja berarti), karena Platt sendiri di dalam perjalanan hidupnya menjadi budak, ia memiliki dua orang majikan yang baik, salah satunya dan pertama kalinya adalah William Ford (Benedict Cumberbatch), namun tetap ia akan merasakan seorang majikan yang sangat jahat, yaitu Edwin Epps (Michael Fassbender) yang ternyata lebih lama menjadikannya budak ketimbang yang lainnya.


Solomon / Platt yang memiliki bakat bermain biola ini pun juga bertemu dengan beberapa orang kulit hitam yang sudah membuatnya menjadi banyak belajar kalau saat sudah menjadi budak, segala macam harapan yang cerah memang harus dikubur dalam-dalam, karena semua ini adalah mengenai 'uang', dimana banyak orang kulit putih yang tidak setuju soal hak pembebasan tersebut sebab mereka bisa menjadi lebih untung jika membuat orang kulit hitam sebagai budak, bukan sebagai pekerja upahan. 

Patsey (Lupita Nyong'o) mungkin adalah satu-satunya tokoh yang paling kuat di film ini, dimana sejak munculnya ia di pertengahan cerita, ia sudah sangat menarik perhatian para penontonnya. Coba lihat pada waktu ia disuruh menari oleh majikannya, dan parahnya, ia malah dilempari barang langsung ke mukanya oleh istri dari majikannya itu. Walaupun Patsey sudah bekerja dengan sangat luar biasa, dimana ia selalu menghasilkan pekerjaannya di perkebunan kapas lebih besar tiga kali lipat dari para budak lainnya, tetapi tetap, tak ada kebahagiaan yang menyelimutinya. Ia malah selalu ditiduri oleh majikannya yang sangat suka dengannya, dan terus dikasari oleh istri dari majikannya itu. Bahkan hingga di akhirnya, ia pun dicambuk sampai badannya robek oleh karena hal kecil, yaitu sebuah sabun.




Solomon / Platt pun pada akhirnya memutuskan untuk bertahan hidup saja, walau terkadang ia merasa sudah melupakan kehidupannya yang lama dan menjadi sama dengan budak-budak lainnya. Namun lewat beberapa kesempatan, seperti pada waktu munculnya Samuel Bass (Brad Pitt), ternyata sebuah harapan untuk bebas pun masih tetap dipegang oleh Solomon, walau kemungkinan berhasilnya sudah pasti kecil, yang sudah kita ketahui selama dua belas tahun tersebut.

Film mengenai rasisme ini memang pantas untuk ditampilkan, agar mereka yang masih rasis dapat sadar kalau semua manusia itu tetaplah sama di mata Tuhan. Bahkan kalau bisa Indonesia sendiri dapat membuat juga film yang bertemakan hal seperti ini, agar bisa menjadi pengingat akan 'kelakuan kotor' beberapa masyarakat Indonesia yang entah apakah mereka merasa bersalah atau tidak akan perbuatan mereka tersebut. (Sepertinya hanya ? (Tanda Tanya) satu-satunya film yang bertemakan rasis)

Apalagi Indonesia juga termasuk negara yang rasis terhadap orang kulit hitam, hal ini pun bisa dilihat dari ejekan dan judgement mereka yang putih terhadap orang yang kulitnya lebih gelap dari mereka. Bahkan pada waktu film ini sedang memiliki dialog yang dimana ada kata-kata berupa "black meat", beberapa penonton pun malah ada yang tertawa, padahal hal tersebut sangatlah tidak lucu, menyedihkan iya. Ya, semoga saja beberapa warga negara Indonesia yang sudah menertawakan orang kulit hitam di negaranya sendiri dapat sadar kalau mereka sudah menyakiti hati antar sesama manusia.

Rasisme itu menjijikkan!

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath