Cerpen 14 Febuari: "Coklat Buatanku"

"Semua orang sudah tahu Din, kalau kamu suka sama dia. Ayo lah, terima aja ajakan dia besok yah." Ungkap Jennifer dengan penuh keyakinan.

"Bener-bener tidak bisa Jen. Semua sudah telat, aku tak akan lagi berbicara dengannya. Oleh karena itu aku keluar dari grup drama ini. Aku sudah muak dengan perlakuannya."

"Dina, aku kasih tahu ya, kamu itu sudah suka sama dia sejak awal masuk grup ini tiga tahun lalu, ayo, datang yah."

"Bagaimana dengan Romy? Aku harus bilang apa sama dia?? Dia bahkan sudah terlebih dahulu menyatakan cintanya ke aku, walau aku belum memberikannya balasan, tapi aku harus menghargai usahanya."

"Kamu yakin? Kamu ingin menyia-nyiakan usaha kamu selama ini, lalu juga membuang banyak waktumu hanya untuk hal yang sia-sia. Kamu lupa apa itu cinta sejati?"

"Bukan masalah cinta lagi sekarang Hen. Aku lebih tertarik untuk pria yang lebih serius dan cepat bertindak. Pria yang lelet membuatku sengsara. Tolong jangan persuasif aku untuk suka lagi sama dia."

"Oke, kalau begitu, coba kamu dengarkan sendiri perkataannya. Aku sendiri yang merekamnya."

"Maksud kamu? Merekam gimana?"

Sambil mengeluarkan handphone, Jennifer memberikan tanda diam ke Dina,"Sshh..."

Iya betul, aku memang suka sama dia. Sejak Diina masuk sebagai anak baru di grup kita, aku langsung jatuh cinta dengannya. Aku suka dengan penampilannya sewaktu ia berakting menjadi ibu-ibu bahkan orang gila. Bahkan pada waktu aku dengannya pernah mendapatkan peran utama menjadi Romeo dan Juliet tahun lalu, saat itu adalah saat-saat terbahagia di dalam hidupku. Namun, karena orang tua nya sempat melarangku untuk menjadikannya pacar sebelum ia kuliah, aku pun masih tertahan untuk menyatakan cintaku untuknya. Tapi itu bodohnya, aku terlalu bodoh mau mengikuti peraturan orang tuanya, seharusnya sejak awal ia sudah tahu mengenai perasaanku. Namun, sekarang ia sudah bersama dengan orang lain, aku telat. Andai saja ia mau memberikanku kesempatan lagi untuk menjelaskan tindakan bodohku ini kepadanya....

"Bagaimana?" Tanya Jennifer sambil tersenyum.

"Yaa.... aku tak tahu kalau ia berbicara seperti ini ke kamu. Gimana ya?" Tanya Dina kebingungan, dengan raut mukanya yang sedikit malu dan terlihat sedih.

Jennifer pun memegang pundak Dina dengan kedua tangannya, lalu membuatnya menjadi menatap dirinya, sambil berkata dengan lantang,

"Dapatkan dia!"

Dina mengangguk ditemani dengan air mata yang kini sudah bercucuran membasahi pipinya.


***

"Halo, Rendy?" Panggil Jennifer lewat handphone nya di suatu taman setelah ia berhasil mengajak Dina untuk mengikuti kemauannya.

"Gimana?" Tanya Rendy.

"Jam tujuh pas, dua jam lagi, kamu harus sudah sampai disini. Jangan lupa bawa seutas bunga atau coklat, atau apa lah, yang menurut kamu bagus disaat kamu akan menembak Dina."

"Makasih yah Jen, aku gak tahu harus bilang apa lagi ke kamu. Aku sungguh minta maaf, sudah membuat kamu jadi seperti ini."

"Tenang Ren, anggap saja aku malaikat cupid, dimana tugasku adalah untuk menyatukan sebuah cinta sejati."

"Tapi...."

"Sudah, percepat langkah kamu. Jangan sia-siakan malam ini!"

"Baik, makasih sekali lagi ya Jen. Aku tak akan melupakan kebaikanmu sampai kapan pun."

"Ok." Lalu Jennifer pun menutup pembicarannya, kemudian ia memandang pepohonan serta beberapa anak kecil yang sedang bermain di pasir. Ia pun menunggu hingga malam, jam tujuh nanti, dimana taman yang biasanya untuk bermain anak kecil ini, akan berubah menjadi sepi dan akan terisi suatu suasana yang romantis, khususnya di hari valentine seperti sekarang ini. Namun dengan dada yang terasa sesak, Jennifer tak kuasa untuk terus menahan rasa sakit, hingga air matanya keluar walau ia masih tersenyum, berusaha untuk kuat hingga sore nanti.

"Kamu bilang kamu tak akan melupakan aku. Sudah sejak lama kamu telah melupakan aku...."


***

Jam tujuh kurang lima belas, saat langit sudah gelap, dan lampu taman kini menyala. Beberapa pasangan pun sudah ada yang menempati lokasi ini, dan mereka ditemani oleh beberapa dagangan makanan seperti ketoprak, mie ayam, dan lain-lainnya. Bedanya, karena malam ini adalah malam Valentine, beberapa hiasan yang didominasi warna merah jambu pun sudah terpasang dimana-mana. Memberikan sebuah nuansa yang romantis di kala cinta telah menyatukan kedua anak manusia.

Lalu di depan Jennifer, terlihat Rendy yang sedang berjalan dengan penampilannya yang sungguh memukau, pertanda akan ada kejadian yang bagus sebentar lagi. Namun pada saat Rendy melihat Jennifer, dan menyapanya, Jennifer pun langsung mengusirnya dengan menggunakan tangannya, serta menyuruhnya untuk duduk di kursi taman yang sudah ada nama 'Rendy dan Dina' di atas secarik kertas putih. Rendy mengiyakannya, sedangkan Jennifer memutuskan untuk bersembunyi di balik pohon yang berjarak cukup jauh dari kursi taman tersebut.

Beberapa menit kemudian, datang lah Dina, dengan dandanannya yang sedikit berlebihan. Tetapi ketika Dina berjalan malu-malu menuju Rendy, Rendy pun terlihat berdiri dan menghampiri Dina.

"Kamu sudah menunggu lama ya?" Tanya Dina.

"Gak kok. Kamu naik apa tadi kesini?"

"Biasa, sama ojek langgananku. Untung dia mau nganterin aku sore-sore gini. Jadi inget waktu di grup drama nih."

"Mangkanya kamu ikut lagi. Sudah yuk duduk dulu disini." Kata Rendy sambil menunjuk kursi panjang yang ada di belakangnya.

Dari kejauhan Jennifer mengintip. Ia melihat Rendy yang sedang bercengkrama sambil tertawa bahagia bersama dengan Dina. Dalam hati, ia terus berteriak, ayo tembak dia bodoh!

Dan sesuai dengan keinginannya, beberapa lama kemudian, terlihat Rendy sedang memberikannya seutas bunga dari dalam tas yang ia bawa, lalu terlihat sebuah pembicaraan yang serius, hingga akhirnya mereka berdua berpelukan dengan raut muka penuh bahagia.

Jennifer pun tersenyum, dan mengeluarkan semua air matanya untuk memberikan ketenangan di kala rasa sakitnya yang sudah tak terkatakan lagi sekarang. Lalu sambil mengangguk, Jennifer perlahan-lahan mulai menjauh dari pohon tempat ia bersembunyi, kemudian berlari keluar taman tersebut, dimana ia terus berlari tanpa henti di atas jalanan tanpa batas, seperti rasa cintanya yang sudah terlalu tua, lebih tua dari Dina, yang kini sudah ia putuskan untuk memberhentikannya. 

Happy Valentine Ren.... Semoga kamu suka dengan coklat buatanku ini....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath