Tentang Film "The Counselor"

Seorang sutradara kelas atas, Ridley Scott (Alien, Prometheus), dipadukan dengan seorang penulis handal, Cormac McCarthy (No Country for Old Men), mungkin ini adalah sebuah teknik marketing yang bagus agar para penggemar setia mereka berdua bisa menonton film terbaru arahan mereka ini yang sudah hadir di Bulan Desember sekarang, yaitu: "The Counselor". Film yang diekspektasikan sangat tinggi oleh banyak orang ini, ternyata hanya mampu menghibur sebagian masyarakat saja yang memang tertarik akan film yang dikuasai oleh banyak percakapan cantik.


Kisahnya sendiri bercerita tentang seorang pria yang selalu dipanggil "counselor" (Michael Fassbender), memutuskan untuk terlibat dengan sebuah transaksi narkoba. Ia yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih pujaannya, Laura (Penelope Cruz), lebih memilih untuk mengambil setiap resiko berbahaya lewat seorang temannya, Reiner (Javier Bardem) yang juga memiliki seorang kekasih yang berhati dingin, Malkina (Cameron Diaz).

Awalnya semua rencana transaksi tersebut terlihat berjalan dengan baik. Percakapan-percakapan yang berlangsung pun tak ada yang menegangkan sama sekali. Namun saat sudah berada di pertengahan, baru dimulai lah hal-hal yang mencenangkan hati, yang pertama kalinya dipresentasikan dengan pembunuhan sadis lewat pengeksekusian pemotongan kepala seorang pengendara motor. Yang kemudian akan berlanjut ke arah yang lebih mengerikan lagi, yang akan memutarbalikkan keadaan, dari yang awalnya penuh kebahagiaan, malah akan berakhir penuh dengan hal-hal yang menyakitkan. Sama menyakitkannya sewaktu melihat cara matinya Westray (Brad Pitt), seorang perantara yang turut membantu Counselor.



Alur cerita film ini sebenarnya sangat menarik, karena tetap memiliki ketegangan dengan tingkat kesadisan yang parah, namun sayangnya, Cormac seakan ingin memperlihatkan kepada kita semua apa saja hal yang ada di pikirannya. Terlalu banyak percakapan dengan kata-kata yang cantik, yang sudah mendominasi sekali di film ini. Membuat rasa bosan para penontonnya menjadi keluar untuk yang tak terbiasa dengan film-film yang berjenis seperti ini. Karena untuk setiap momen yang ada, dari kebahagiaan, kenajisan, pembunuhan, kematian, rasa duka, kekuatan, dan lain-lainnya, semuanya diperbincangkan dengan indah bak bunga yang sedang melayang-layang di angkasa. Beberapa percakapan memang terlihat indah, tetapi untuk "rasa duka", sepertinya terlalu kepanjangan untuk membahas sebuah momen tentang seseorang yang sedang berduka.

Lalu bagaimana dengan para pemainnya? Michael Fassbender dan Javier Bardem terlihat sebagai pemain catokan dari Ridley dan Cormac, karena mereka berdua pernah bermain di dalam film arahan Ridley dan Cormac tersebut. Akting mereka memang sudah tak diragukan lagi. Walau tetap yang paling menarik perhatian adalah si cantik Cameron Diaz, yang kali ini berperan sebagai sesosok perempuan yang kuat serta dingin karena latar belakang dan motivasi yang kuat juga. Namun sangat disayangkan, sebenarnya Cameron masih bisa mengoptimalkan lagi kekuatan dari karakternya tersebut, tetapi ada beberapa momen yang malah mampu menghancurkan apa yang sudah ia bangun sejak awal.



Yah, ini adalah sebuah film yang memang dikhususkan untuk para pecinta kata-kata yang cantik saja. Walau alur ceritanya sudah sangat menegangkan ketika sudah berada di pertengahan, apalagi diikuti oleh iringan musik yang sangat mendukung, namun tetap, film ini tak akan mampu menghibur para penontonnya. Jadinya untuk yang tak kuat dengan banyak percakapan, walaupun kata-katanya sangat lah cantik dan mahal pastinya, tetapi lebih baik jangan memaksakan diri untuk menonton film ini.

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath