Melanjuti Hidup, Menjadi 'Orang'

Natal sudah terlewati, dan jujur, semenjak gua kuliah, gua jadi ingin melupakan semua hari-hari besar. Seakan gua tidak peduli lagi dengan dunia. Gua hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan segala sesuatunya, lalu beristirahat. Sama seperti ketika gua yang sekarang ini masih berkuliah, rasanya itu gua ingin cepat-cepat kelar mendapatkan S1 lalu cari kerja. Apalagi kini hidup gua sudah berada di sebuah kosan, yang ternyata mampu membuat gua menjadi makin malas dan tak terlalu ingin peduli akan banyak hal. Gua hanya peduli akan hal-hal yang mampu menguntungkan gua, seperti yang sekarang sedang gua kerjakan di kampus. Semuanya gua harap dapat menguntungkan gua.

Namun hal ini bukan berarti gua adalah seorang yang egois. Karena gua juga masih mempunyai hati yang begitu baik, yang selalu gua berikan kepada orang-orang kenalan gua ketika mereka sedang butuh gua. Rasa simpati yang besar lah yang membuat gua menjadi ingin membantu mereka. Jadinya ada yang secara gratis, lalu juga ada yang secara dibayar. Begitu lah hidup gua sekarang. Lagipula sejak dulu gua memanglah seorang anak yang baik. Gua banyak memberikan bantuan yang ujung-ujungnya tetap selalu dilupakan oleh mereka semua. Dan semenjak kuliah, gua pun belajar untuk membatasi setiap kebaikan hati gua, dengan meminta sebuah bayaran, yang gua rasa memang tidak besar (ya, bayarannya adalah uang).

Lucu sebenarnya, gua berbicara mengenai "membatasi kebaikan", yang mungkin bisa diartikan orang-orang kalau gua ini adalah anak yang sangat sombong. Padahal memang ini lah diri gua sejak dulu, yang bedanya, kalau dulu itu kebaikan hati gua serasa susah membatasinya, tapi sekarang setidaknya gua bisa membatasinya. Hal ini juga terjadi karena dulu itu gua bukan lah orang yang tegas, yang istilahnya gua masih minder dan selalu menyangka: "orang kayak gua bisa apa?? Mana ada yang butuh bantuan gua??"  Jadinya setiap ada yang minta tolong sama gua, gua pun dulu selalu mau untuk memberikannya. Lalu hingga sekarang, yang dimana sudah ada banyak orang yang tahu akan kemampuan gua, akhirnya gua pun sudah mulai untuk membatasinya. Karena ini berbicara mengenai kapasitas. Dan kapasitas gua untuk membantu orang-orang, kalau tanpa disertai dengan imbalan, waduh, rasanya gua bisa musnah cepat. Alhasil sebuah metode "berbisnis" pun terjalin, and finally, I'm so happy! Soalnya sudah kira-kira empat bulan gua merasakan hidup yang hedon, atau boros sekali! Padahal gua lagi banyak tugas, dan skripsi, tapi gua masih kepingin untuk menikmati hidup dengan membeli ini itu (makanan dan pakaian, serta nonton dan berenang, lalu pergi ke mall).

Tetapi ada pun masalah yang harus gua alami. Yaitu soal incident kamera gua yang habis dicolong entah kemana, yang belum bisa gua beritahukan kisah lengkapnya disini. Soalnya sekarang gua sedang ingin membicarakan mengenai arti hidup, yang dimana selalu ada cobaan, dilema, dan sebagainya.

Ya, mungkin inti dari pembicaraan ini adalah, kalau hidup gua sudah berubah sekarang. Anton yang dulunya selalu diremehkan, kini setidaknya sudah sering diperlukan (gua pake kata "setidaknya" karena belum mencapai tujuan terbesar gua, yaitu menjadi seorang businessman yang terpandang, itu kan kapasitasnya besar sekali). Nah, lanjut.... Jadi walaupun gua masih kurus dan malah tambah kurus kalau kata teman-teman gua, tetapi gua setidaknya sudah tahu cara bermain di dalam hidup ini, yang tentunya dengan jalan gua sendiri, dan dengan gaya gua sendiri, lalu tak lupa juga oleh karena setiap bantuan dari orang tua tercinta gua, berupa dana, dan ajaran-ajaran tentang kehidupan. Yang oleh karena mereka juga, gua bisa berkuliah dan setidaknya bisa mengubah banyak pola pikir gua tentang yang namanya menjadi "orang".

Anton yang dulu selalu melakukan segala sesuatunya sendiri (atau kasarnya tak punya teman), kini pun gua jadi tahu kalau gua memang harus independent, karena kalau gua terus-terusan mengasihani diri gua sendiri, lalu melupakan segala macam tugas-tugas gua, jadinya orang-orang pun akan malas untuk berkenalan dengan gua. Karena gua tahu sekarang, banyak orang yang mau berkenalan dengan orang yang "mampu membantu mereka". Hubungan timbal balik pun berlaku disini. Dan beberapa di antara mereka juga akan ada yang mau untuk menjadi teman kita, atau kata lainnya adalah "sahabat".

Namun gua pun tetap harus memperbaiki segala macam kekurangan gua, yang sudah pasti gua tahu apa. Seperti banyak "mengungkapkan kekesalan gua tentang seseorang yang gua benci ke banyak orang", yang ternyata ternyata kadang sampai terdengar ke seseorang tersebut. Hmm... lain kali memangnya gua harus ungkapin ke orang-orang terdekat gua yang gua percaya. Tapi ini agak sulit juga, karena gua tahu kalau banyak orang itu kadang suka dengan orang yang mau terbuka. Yah, gua kan memang kepingin eksis di kampus, jadinya gua jadi orang yang terbuka deh, tapi ya itu, resikonya besar. Gua memang harus memperkecil kekurangan gua tersebut, walaupun terdapat alasan-alasan yang logis.

Hhhh.... gua harap gua bisa terus bertahan hidup dan mengejar segala macam impian gua, mumpung gua masih muda sekarang. Walaupun masalah yang aneh-aneh selalu datang, tetapi memang gua sadari kalau semua masalah itu dapat ngebuat gua jadi tahu lebih banyak akan yang namanya "bermain di dalam hidup ini", seperti soal kamera gua yang hilang, gua pun jadi tahu kalau memang ada manusia yang begitu jahat, yang bisa mempermainkan "hukum" dengan seenak jidat mereka. Yah, gua pun jadi ngerti dikit soal menghadapi manusia seperti itu, lalu juga soal yang namanya hukum.

Okeh, gua memang gak terlalu peduli sama hari-hari besar, tetapi gua bukan lah manusia yang egois, karena gua setidaknya tahu bagaimana cara membantu sesama manusia....

Thanks
Gbu all

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath