Kebiasaan Lama dan Baru: Menolong, Berbisnis, dan Berenang

Hello Desember, dan hello lagi my lovely blog.... Benar-benar sudah lama gua tidak mengetik tentang kejadian sehari-hari gua, atau banyak momen gila yang pernah gua alami selama sebulan ini. Film-film yang sudah gua tonton pun belum gua berikan review-nya disini, membuat blog gua menjadi mati untuk sementara waktu. Oh, I hate it so much!

So, pada saat gua sedang duduk di sebuah cafe seorang diri, sambil meminum segelas choco blend yang enak serta mahal, di dalam sebuah mall yang lumayan sepi, dengan seorang pelayan yang kurang ramah, gua pun akan mulai menuliskan lagi tentang apa saja yang sudah terjadi terhadap diri gua belakangan ini.

Mungkin yang pertama gua ingin memberitahukan tentang adanya suatu perubahan tentang kebiasaan hidup gua, dan ini mengenai salah satu hobi gua, yaitu: menonton di bioskop seorang diri. Kira-kira sudah tiga bulan lebih gua tidak melakukan hal tersebut lagi. Hal ini disebabkan oleh mulai seringnya intensitas "menonton bareng temen" gua yang bisa dkatakan sudah memuaskan gua. Karena beberapa teman gua ini mau untuk mengikuti kebiasaan gua yang sering menonton di bioskop, bahkan jika sehari dua kali menontonnya, mereka merasa tak apa-apa. Gua pun jadi selalu ingin menonton bareng mereka. Rasanya sudah tidak nyaman lagi untuk menonton sendirian. Seperti ada "rasa kebersamaan" yang sungguh matang, dan gua ingin rasa tersebut selalu ada di setiap gua sedang ingin menonton film.

Tetapi, yang namanya pertemanan, sudah pasti akan ada yang namanya pertengkaran. Hingga pada saat momen pertengkaran tersebut sedang terjadi, keinginan gua untuk menonton sendiri pun mulai muncul kembali. Rasanya gua ingin menikmati kembali saat momen-momen sedang menonton sendirian, seperti yang sudah terjadi pada hari ini. Gua sungguh ingin menghilang di tengah kerumunan manusia yang tak gua kenal, sama seperti pada kala gua masih belum memiliki teman. Gua ingin merasa harus melakukan apa pun yang ingin gua lakukan di dalam sebuah mall, seperti belanja barang kebutuhan gua di sebuah departement store, lalu lanjut melihat-lihat pakaian, kemudian di kala gua sudah lapar, gua akan keluar dari mall tersebut dan mencari makan di sebuah kedai makan pinggiran. Yah, semuanya memang disesuaikan dengan jumlah keuangan gua hahaha..... Yang pasti, gua sedang ingin sendirian.

Tapi gua yakin, keadaan akan bertambah baik seiring berjalannya waktu. Gua pasti bisa berjalan bareng teman-teman gua lagi, dan bercanda ria bak kumpulan para manusia gila yang tak peduli akan dunia.

Lagipula dengan kejadian ini, ada pun hal yang sempat terpikirkan oleh gua, tentang kebiasaan diri gua yang lain, yang memang ingin gua ceritakan juga disini. Yaitu tentang sikap "baik" gua yang terlalu berlebihan terhadap orang lain.

Sikap "baik" ini, bukan dengan maksud sedang menyombongkan diri, tetapi hal ini memang sudah menjadi kebiasaan gua sejak kecil, dimana gua selalu ingin bersikap baik ketika sudah bertatapan dengan setiap orang, baik untuk mereka yang selalu menganggap gua rendah, dan juga untuk mereka yang selalu menyinggung perasaan gua. Sama seperti pertengkaran yang sudah terjadi, yang sudah gua ceritakan tadi. Awalnya gua ingin sekali untuk tak berteman lagi, atau gua lebih memilih untuk memutuskan hubungan selamanya, sama seperti yang sudah sering gua katakan ke mereka ketika gua sedang benci dengan seseorang. Namun, amarah gua tersebut hanya lah sementara waktu, karena ketika sudah sejam bahkan tiga jam lebih, tiba-tiba saja selalu muncul "rasa ingin berbaikan kembali", "rasa ingin tersenyum dengannya kembali", dan "rasa ingin membuat segalanya menjadi normal kembali". Jadinya untuk rasa "ingin tak berteman lagi selamanya", itu sudah lenyap ke dalam angkasa yang luas sana.

Bukan hanya dari pertengkaran gua dengan teman gua tersebut. Karena pada saat gua di kampus, yang dimana sekarang gua sedang dilanda banyak sekali BBM PING! PING! PING! berupa pertanyaan-pertanyaan tentang tugas-tugas kuliah, lalu juga tentang banyak hal karena gua adalah si ketua kelas atau seorang "relawan" di dalam kelas, jadinya bisa dikatakan gua sedang benci-bencinya dengan beberapa teman gua yang terkadang sudah kurang ajar dengan gua lewat kata-kata menyebalkan mereka di BBM. Namun ketika sudah bertatap muka di dunia nyata kembali, gua pun akan bermuka penuh senyum, karena gua hanya ingin tak ada pertengkaran di dalam kampus. Walaupun memang ada orang-orang yang sedang benci dengan diri gua sekarang, yah, jika mereka sudah bertanya ke gua tentang hal-hal seputar kampus, gua sudah pasti akan meladeni mereka, bukannya akan membalas semua perbuatan mereka yang sungguh menyebalkan di masa lalu tersebut. Yah, ini sekali lagi bukannya gua sedang sombong atau gimana yah. Gua hanya sedang bercerita tentang keadaan yang sebenarnya, berdasarkan sudut pandang gua secara pribadi.

Keinginan untuk menolong sudah pasti adalah kebiasaan gua dari turunan sikap baik tersebut. Sudah ada banyak teman gua yang gua tolong oleh karena rasa "iba" gua yang bisa dikatakan sudah berlebihan. Gua hanya sungguh tak tega jika melihat teman-teman gua sedang merasa sangat kesulitan, padahal gua bisa membantu mereka. Yah, walau pada akhirnya terkadang beberapa di antara mereka malah merasa bisa memanfaatkan gua, dan gua tahu akan hal itu. Gua tahu ketika mereka sudah sampai di titik sudah memanfaatkan gua. Dan sebalnya, rasa iba gua pun dibalas dengan air toba. Beberapa perkataan pahit mereka lagi-lagi gua dengar, dan itu sangat menyakitkan hati gua. Jadinya pada waktu sudah sampai di titik tersebut, gua pun berusaha untuk tegas, kalau bantuan gua sudah cukup untuk mereka (untuk bantuan yang gua rasa terlalu berat tanpa adanya balas budi sedikitpun). Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal ini, gua memutuskan untuk membuka jasa bantuan, yang dimana jika mereka butuh gua, mereka harus bayar gua. Hal ini disebabkan oleh sudah "terlalu banyak" manusia-manusia yang butuh akan tenaga dan pikiran gua. Tetapi gua tak mengatakan kalau semua bantuan gua tersebut adalah sebuah "jualan" belaka, karena sampai sekarang gua masih sering membantu tanpa bayaran sama sekali. Mungkin gua hanya ingin mengikuti jejak Tuhan Yesus, yang dimana harus mau untuk membantu sesama, dengan tulus ikhlas. Namun gua bisa melihat sendiri yah yang mana pekerjaan yang harus minta bayaran, dengan yang tidak. Gua juga butuh makan untuk hidup, butuh pakaian yang selalu ingin gua beli pada saat gua sedang berjalan sendiri di dalam mall, hey, I'm a human! Hahaha.....

Jadi, hari ini gua sedang berbicara mengenai kebiasaan dan tentang diri gua yang sudah berubah sekarang (yah, gua rasa gua sudah berubah dalam cara berpikir dan bertindak hehe). Lalu, apakah masih ada hal yang menjadi kebiasaan baru gua untuk sekarang-sekarang ini? Yup, ada satu hal, dan ini sungguh menyenangkan buat gua secara pribadi. Baiklah ladies and gentleman! Gua akhirnya bisa BERENANG!! Wkwkwkwk.....

Thanks buat teman-teman gua yang sudah mau mengajarkan gua berenang, dan meningkatkan intensitas pergi ke kolam renang sebanyak dua minggu sekali sejak Bulan November kemarin. Ini sungguh menyenangkan. Karena gua pun langsung bisa berenang, dan merasa ingin selalu berenang untuk meningkatkan kekuatan badan gua. Kalau bisa gua mau tanpa henti berenang sebanyak beberapa kali putaran, dari pada sekarang yang dimana gua hanya bisa berenang setengah kolam-nya saja.

Namun, ada pun pengalaman yang sangat mengerikan ketika gua sedang belajar berenang ,yang sampai sekarang ketika gua sedang memikirkannya, seakan ada pisau yang langsung tertancap ke otak gua. Yah... gua sungguh merasa trauma sekali. Karena pada saat gua sedang berlatih di dalam kolam yang dalam, gua sempat sekali hampir tenggelam. Padahal seharusnya ada teman gua yang sedang memperhatikan gua di dalam kolam tersebut, jadinya ketika gua sudah melambaikan tangan berkali-kali, itu tandanya gua sedang tak kuat dan harus segera diselamatkan. Namun karena gua sempat berkata ke teman gua itu kalau "gua sudah bisa nih", ia pun sempat memalingkan muka pada waktu gua sudah melambaikan tangan (mungkin ia merasa kalau gua memang sudah benar-benar bisa), sehingga membuat gua menjadi menelan air kolam dan ketakutan setengah mati di dalam air tersebut. Rasanya dada gua menjadi sesak minta ampun, dan badan gua malah turun ke bawah, bukannya mengambang ke atas kalau gua sudah tak bergerak. Bahkan berkali-kali tangan gua berusaha untuk meraih tepian, tetapi hanya kuku gua yang kena, dan sama sekali tak membantu, malah kuku gua serasa mau patah waktu itu. Bayangkan saja, jika patah, sudah pasti gua akan kesakitan bukan main, dan gua akan langsung tenggelam lalu mati. Tetapi untunglah, gua masih diberikan kekuatan oleh Tuhan. Gua pun berusaha untuk memakai tenaga terakhir gua, berenang hingga ke tepian, dan berhasil! Alhasil gua keluar kolam dengan penuh batuk-batuk karena dada gua sudah keisi air kolam yang sungguh menyakitkan, dan membuat gua menjadi terdiam beberapa saat karena pengalaman gila tersebut.

Lalu, apakah gua menyerah? Dua minggu kemudian ketika gua dan teman-teman gua memutuskan untuk berenang lagi, gua pun memberanikan diri sekali lagi untuk terjun ke kolam yang dalam tersebut. Namun sayangnya gua masih belum bisa mengambang, masih susah untuk kaki dan tangan gua beradaptasi. Yah, yang penting gua sudah tidak takut, walau ketika gua sedang memikirkan momen gila tersebut, gua pun seakan sedang kembali ke masa itu, ketika ketakutan tersebesar gua menerjang, dimana momen hampir mati gua kembali melayang-layang di dalam otak gua. 

Baiklah, itu saja yang dapat gua ceritakan. Gua rasa sudah cukup untuk semua hal, walau sebenarnya gua rasa masih banyak hal yang sudah gua lupakan. Namun cukup untuk sekarang. Karena post-post gua yang berikutnya adalah tentang review-review dari film yang sudah gua tonton belakangan ini. Semoga gua bisa terus berjuang hingga akhir!!

Yes!!

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath