Hanya Ingin Melihatnya Tersenyum

Natal hampir tiba, dan kesedihan ini kembali datang. Membawa semua masa lalu yang kelam, tentang aku dan dia. Di hari yang ke sekian, aku lagi-lagi bertemu dengannya, yang mungkin terjadi karena aku duluan lah yang menghubunginya. Ya, aku sungguh tidak tahan untuk mengobrol dengannya lagi, padahal aku sudah janji untuk tidak menghubunginya lagi (lagi, dan lagi). Mungkin ini memang karena satu kejadian parah yang sudah menimpa aku selama sebulan kemarin, yaitu "ditipunya aku, dan menyebabkan kamera SLR ku menjadi hilang, lalu akhirnya diganti hanya dengan uang 4 juta rupiah, padahal aku belinya saja 7,8 juta". Oke, ini masalah beda yang akan aku ceritakan di post yang berikutnya nanti. Kalau sekarang, aku akan mencurahkan semua momen sedih yang sedang terjadi kini, di kala aku sudah bertemu dengannya lagi, sembari memberikan sedikit dari sebuah "tanda keseriusan hati" yaitu berupa benda yang tak bisa kuberitahukan disini, maaf....

Saat ku bertemu lagi dengannya, keadaan pun kembali seperti semula. Ia bahagia, aku juga bahagia. Ia sama sekali tidak kesal denganku, ia lagi-lagi tersenyum, dan membuatku ingin terus menjaga senyuman itu menjadi tetap ada. Aku tak ingin membuat senyuman itu menghilang lagi ketika bertemu denganku. Aku pun berusaha untuk membuatnya tertawa dengan segala macam bercandaannku yang kuyakin ia suka. Lalu, aku juga berusaha untuk tidak terlalu banyak memberikan SMS ke dia sewaktu sudah pulang. Aku masih ingin menjaga senyuman itu tetap ada.

Lalu ketika ada sebuah momen yang pas ketika aku bisa memberikannya sebuah "benda", aku pun melakukannya. Benda yang ia inginkan ini kuharap dapat terus membuatnya menjadi tambah tersenyum lagi ketika bertemu denganku. Dan yah, saat ia sudah mengambilnya, ia masih tersenyum. Aku pun merasa sangat bahagia.

Tetapi, siapa yang tahu, apa isi dari perasaan ini selain rasa bahagia itu. Siapa yang tahu kalau sewaktu aku sudah membeli "benda" itu, dan sedang kubawa pulang dengan menggunakan motor, aku pun merasa sedih. Ya, aku merasa sangat bodoh, karena aku yakin kalau benda yang sudah kuberikan ini tak akan mampu mengubah hatinya menjadi balik mencintaiku. Aku sudah sering melihat kejadian ini di kehidupan sosial ku dan juga teman-temanku, dan sedikit persentase berhasilnya untuk membuat seseorang yang kita cintai menjadi berbalik mencintai kita. Aku pun merasa kacau waktu itu ketika sedang mengendarai motor, hingga air mata ini menjadi keluar dengan sendirinya, untuk meredakan rasa sakit dari yang namanya realita kehidupan.

Sama seperti ketika aku sudah memberikannya "benda" itu, walau ia bahagia, dan aku juga bahagia, namun ketika ia sudah pergi, aku pun kembali bersedih. Aku memikirkan untuk tidak akan menghubunginya lagi (lagi dan lagi) waktu itu. Karena aku rasa, "benda" ini adalah hadiah terakhirku untuknya. Sekaligus hadiah perpisahanku, walau tak terlalu dramatis isi dari benda itu. Aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk pergi dan memutuskan rasa cintaku untuknya. Sebuah ending yang intinya adalah: 

"aku hanya ingin membuatnya menjadi terus tersenyum ketika ia menemuiku, bukannya kesal atau merasa ini adalah sebuah kesalahan."

Natal hampir tiba, dan kali ini tak akan ada harapan lagi yang harus kupertahankan. Karena harapanku hanya satu yang sudah kuminta selama bertahun-tahun, baik itu ketika aku sedang berulang tahun, atau sedang natal, atau sedang melewati hari-hari biasanya. Dan harapanku itu tak pernah terkabulkan....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath