Insidious Chapter 2: Komedi yang Mengganggu

Dan setelah tiga tahun lamanya menunggu, akhirnya muncul juga salah satu franchise film horror ternama yang sudah dikatakan kalau ini adalah film horror terseram di dalam satu dekade ini. Racikan cerita, cara pengambilan gambar, dan berbagai macam trik untuk menakut-nakuti para penonton-nya, sudah benar-benar berhasil dieksekusi dengan begitu baik oleh James Wan dan juga Leigh Whannell (penulis-nya). Namun, apakah Film yang berjudul Insidious Chapter dua ini bisa menghajar kisah-nya yang pertama menjadi lebih seram, sekaligus mengalahkan The Conjuring yang pada bulan kemarin sudah muncul terlebih dahulu? Yup, mari kita lihat sejenak kisahnya.



Jadi setelah insiden mengerikan yang sudah kita ketahui (spoiler): kalau ayah dari Dalton, Josh Lambert, tubuh-nya bukan lagi dikuasai oleh roh-nya sendiri, melainkan oleh sesosok wanita tua berpakaian pengantin hitam, dan yang berikutnya terjadi adalah, keluarga-nya berhasil dikecohi oleh akting dari sang wanita tua tersebut. Walaupun istrinya Josh, Renai, sudah melihat sosok nenek tua itu di dalam kamera milik Elise (yang pada akhirnya meninggal karena ingin membuktikan kalau Josh yang ada sekarang bukan lah Josh yang asli), tetapi ia percaya kepada pernyataan Josh kalau semuanya sudah kembali normal.

Namun sayangnya tidak, sesaat keluarga Lambert memutuskan untuk pindah ke rumah nenek mereka, ibu-nya Josh, Lorraine, mereka malah mendapati banyak gangguan supranatural lagi, dimulai dari suara piano yang bermain sendiri, lalu hingga muncul-nya sebuah penampakan sesosok wanita. Dan menariknya, jantung kita akan terus dibuat capai karena kadar menakut-nakutinya lebih besar ketimbang yang pertama. Karena kita juga akan menemui satu buah rahasia gelap, dari siapa sebenarnya hantu nenek tua tersebut, yang malah akan membawa kita ke dalam rumah sakit yang begitu angker, sekaligus ke dalam rumah yang berisi banyak mayat. Dan disini, Carl adalah sang paranormal baru, pengganti Elise, yang akan membantu keluarga Lambert untuk memecahkan masalah horror-nya tersebut, seperti salah satu-nya, dengan menggunakan dadu-dadu miliknya.


Bisa dikatakan, film-nya kali ini akan menjadi lebih pintar ketimbang yang pertama, karena kita juga akan dibawa ke dalam mesin waktu, dimana kita akan melihat kembali sedikit kisah yang pernah terjadi di dalam film yang pertama, salah satu momen yang paling menakutkan dari awal mula penonton tersadar kalau Film Insidious itu memang lah seram.

Namun bukan hanya kadar cerita pintar-nya yang dibuat menjadi lebih bagus, kadar komedi-nya pun juga dibuat makin lebih banyak. Dan ini adalah hal yang paling disturbing buat gua secara pribadi. Coba saja kita lihat kelakuan dari Specs dan Turker, dua anak buah dari Alm. Elise yang selalu mengundang tawa para penontonnya disini. Yup, tawa penontonnya, kecuali untuk gua. Dari awal, pertengahan, hingga akhir cerita, mereka selalu hadir, dan itu sangat membuat gua menjadi sebal. Mengapa James Wan dan Leigh Whannel harus memasukkan kedua tokoh tersebut disini? Walaupun Leigh Whannel yang menjadi salah satunya (yup, dia kerja rangkap), yaitu si Specs, tapi seharusnya jangan perbanyak kadar kehadiran dan kelucuan dari mereka. Yes, I hate that characters so much! Buat gua malah gak lucu sama sekali. Malah The Conjuring yang terlihat lebih bagus buat gua, jika gua bandingkan dengan Insidious chapter dua ini. Soalnya penonton yang lemah iman-nya akan memilih untuk ikut ngelawak ketimbang harus merasakan suasana yang ngeri dari dalam film tersebut, sehingga mau tak mau suasana dalam bioskop akan menjadi sangat berisik.

Dan jika kita ingat Film Sinister, gua rasa film ini lah yang sanggup melawan Film The Conjuring, karena dua-dua-nya pure horror, tidak terlalu banyak ketekbengek sok ngebuat lucu, yang benar-benar jadi disturbing habis.


Yah, walau Insidious chapter dua ini memiliki kadar seram yang memang lebih tinggi dari kisahnya yang pertama, dan juga dari The Conjuring dan Sinister, tetapi sayangnya harus menjadi rusak oleh kadar komedi-nya yang sungguh berhasil mengundang tawa para penontonnya tersebut (baca: disturbing). 

But I still like Insidious Chapter dua, khususnya di akhir ceritanya, yang pada akhirnya mampu ngebuat gua jadi memikirkan hal-hal yang mengerikan sewaktu sedang sendirian di dalam kos. Wow! sudah lama sekali gua gak mikirin hal-hal seram seperti itu.


Salute buat James Wan dan Leigh Whannel, and I still hate u about that comedies!

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath