I Promise.

Minggu, 13 Oktober, air mata ini lagi-lagi keluar, dan menyebabkan gua harus beranjak dari tempat tidur pada pukul empat sore. Selain karena orang tua, satu-satu-nya hal yang bisa ngebuat gua jadi menangis adalah karena "dia", yang sudah gua cintai selama bertahun-tahun.

Mungkin gua bisa dibilang bullshit, karena seharusnya gua sudah melupakannya setahun yang lalu. Yup, di dalam blog gua sendiri pun, gua selalu bilang kalau gua akan melupakannya dan mencari kehidupan yang baru. Tapi nyatanya tidak. Setahun tak bertemu sama sekali tak menjamin buat gua untuk benar-benar melupakannya. Benar-benar harus pure gak bertemu selama bertahun-tahun kalau bisa, atau selamanya, baru deh, fokus gua akan gua ubah ke orang lain lagi.

Jadi selama setahun gua tidak bertemu, atau cuma sekali dua kali gua ketemu dengan dia, gua pun masih ingin untuk mencari tahu tentang apa saja yang sedang ia lakukan. Mencari tahu dari mulut orang lain tentang keadaannya, tanpa orang tersebut tahu kalau gua sangat menyukainya.

Lalu berhasil lah gua berbaikan lagi dengannya. Setahun kemudian kami pun bisa melakukan satu kegiatan yang pernah kami lakukan seperti dulu. Dan itu rasanya sangat indah buat gua, serasa kebahagiaan sedang menyelimuti hati gua dengan sangat. Benar-benar indah, bahkan sewaktu gua sudah pulang ke rumah, hati gua masih terasa hangat, tak ada kesedihan sedikit pun, tak seperti hari-hari sebelumnya yang penuh dengan penyakit. Ya, ia adalah obat yang manjur buat gua.

Tetapi beberapa hari kemudian gua harus sadar, kalau ada yang namanya "momen menipu". Walaupun kami lagi-lagi bisa ketawa bareng, bercanda ria seakan sudah gak ada masalah lagi, namun gua pun harus sadar, kalau yang sedang terjadi tak sesuai dengan apa yang sedang gua harapkan.

Gua kira kalau ia bisa melihat kalau gua sedang "mengejarnya" lagi, tetapi nyatanya tidak. Gua sama sekali gak tau apa yang sedang dipikirkannya pada waktu itu, intinya pada waktu gua sudah memberitahukannya kalau gua sedang mengejarnya lagi, ia malah berdiam diri lagi ke gua.

Yah, gua cuma sudah menjadi manusia bodoh lagi. Dan di Hari Minggu ini, gua pun harus ngebuat satu keputusan yang benar-benar musti gua komitmen-kan.

I promise, gua gak akan menghubunginya lagi, sampai seterusnya. Namun gua akan berdoa untuknya, untuk kesuksesannya, dan juga untuk kekasih masa depan-nya yang semoga bisa selalu ngebuat dia bahagia....

Namun sebelum gua mengatakan itu, gua menelponnya terlebih dahulu. Gua pun mendapatkan respon yang sangat ngebuat gua jadi sakit hati. Beberapa pertanyaan dan pernyataan yang sudah gua katakan, semuanya berujung ke tangisan buat gua. Yah, setelah gua menutup telpon, gua langsung menangis tanpa henti, mengeluarkan semua rasa sakit dan juga sesak yang ada di dalam dada gua ini. Gua benar-benar gak kuat saat mengalami momen yang begitu menyedihkan seperti tadi siang. Gua pun terus menangis hingga tertidur kembali, dan terbangun pada pukul lima sore.

Gua sama sekali gak tau sekarang gua harus bagaimana lagi untuk bisa melupakannya. Karena perasaan itu masih ada, dan gua, masih tetap memikirkan cara untuk mengejarnya lagi. Bukan kah itu bodoh? Sangat bodoh??

Tapi gua harus berkomitmen dengan kata-kata gua kali ini. Gua gak akan menghubunginya lagi. Gua harus bisa hidup tanpa memikirkannya kembali. Dia hanya lah masa lalu gua, dan gua harus menemukan kekasih masa depan gua sekarang. Yah, walaupun gua masih berharap ia adalah kekasih masa depan gua.... Ckck Bodoh si Anton ini emang.

But, I promise to you. 

I promise.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath