Cerpen: "Kutepati Janjiku"

"Dan pemenangnya adalahhh!!!" Seru sang presenter, Fandy Herdiansyah, di detik-detik terakhir dimana aku bersama dengan pesaing ku, Reina, sedang deg-deg-an bukan main di atas panggung yang begitu besar ini.

Dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Fandy lagi-lagi berdiam diri sejenak sambil tersenyum. Ia sengaja membuat suasana di dalam auditorium besar ini menjadi terasa begitu menegangkan. Para penonton pun terus berteriak kencang untuk mendukung kami berdua.

"Reina!! Kau lah pemenangnya Reina!!!"

"Pemenang The Perfect Indonesian tahun 2013 ini adalah Daniel!!!"

Rasanya seperti kaki ku sudah tak sanggup lagi untuk berdiri. Namun aku harus tetap kuat hingga nama ku berhasil dipanggil oleh Fandy. Soalnya aku sudah punya sebuah rencana besar tersembunyi yang harus segera aku laksanakan. Sebentar lagi aku akan menepati janjiku di depan ratusan juta masyarakat yang ada di Indonesia ini.

Oh Tuhan, semoga aku menang....

"Perolehan polling sms mereka berdua terlihat sangat lah tipis. Hanya sekitar dua persen, bahkan kurang. Waduh, siapa yah yang akan mendapatkan gelar juara sebagai The Perfect Indonesian tahun 2013???" Dan sekali lagi, Fandy sedang menjadi orang yang sangat lah menyebalkan di atas panggung. Tetapi hal tersebut memang sengaja ia lakukan agar bisa lebih menaikkan rating stasiun TV ini. Nyatanya, para penonton pun masih terus bersorak tak sabar memanggilkan nama kami berdua.

"Buruan! Siapa yang menang woi!! Udah, sebut aja Reina!!!" Seru salah seorang penonton.

"Baiklah, pemenang The Perfect Indonesian pada tahun 2013 ini adalah!!!" Dari nada-nya sudah bisa kurasakan, kalau ini lah saatnya. Sebuah nama akan terpanggil pada detik ini. Jantung ku pun makin berdetak kencang luar biasa sekarang, dan keringat sudah berkucuran dari atas kepalaku.

Oh Tuhan! Suruh ia sebut nama ku Tuhan! Pleasee....

"DANIEL, selamat! Kamu lah pemenang The Perfect Indonesian tahun 2013!!"

.
.
.

Rasanya seperti semua indra ku terhenti sejenak. Tetapi hal itu terjadi begitu cepat. Karena setelah kudengar banyak suara tepuk tangan beserta sorakan dari semua pendukung ku, aku pun langsung berteriak kegirangan bukan main.

"DANIEL!!! YEAH!!! DANIELLL!!!!"

"Selamat yah pesaing terberat ku. Aku bangga padamu." Kata Reina sambil memelukku. Semua kontestan yang sudah tereliminasi pun langsung ikut naik ke atas panggung, dan memberikan selamat kepadaku, sambil diiringi musik instrumental khas acara ini, serta jatuh-nya banyak balon serta pernak-pernik yang begitu menghebohkan.

Dan kini lah saat-nya. Aku akan menepati janji ku di atas panggung ini.

Dengan cepat, aku mendekati Fandy, dan langsung berbisik kepadanya,"aku pengen ngomong sesuatu sama para penonton, masih bisa tidak yah?"

"Seharusnya sebentar lagi akan dimunculkan credit title, soalnya ini sudah jam 1 pagi. Cuman, aku coba bilang dulu yah sama bagian teknis-nya." Jawabnya yang juga sambil membisikiku.

Lalu aku melihat ia sedang berbicara dengan menggunakan ear phone-nya. Semoga saja masih diperbolehkan.

"Ya, boleh Daniel. Tapi jangan terlalu lama yah."

"Baik lah."

"Oke Daniel!" Seru Fandy ke seluruh penontonnya. "Sebelum kita akhiri acara ini, apakah ada yang ingin kamu sampaikan?"

Aku mengangguk. Ia pun memberikan mic-nya ke aku. Dan ini lah saatnya.

.
.
.

"Aku.... yah, benar-benar masih gak nyangka kalau impian ku ini pada akhirnya bisa tercapai juga. Sudah sekitar empat tahun semenjak aku belajar bernyanyi, hingga pada usiaku yang sudah mencapai 22 tahun ini, aku pun bisa nekat mengikuti ajang yang paling bergengsi ini."

"Ya, kau memang hebat Daniel!" Seru para penonton yang masih antusias dengan kemenanganku. Namun, aku sebenarnya tak terlalu memperdulikan para penonton itu. Mataku pun langsung menuju ke arah sinar merah yang ada di kamera yang sedang merekam ku secara live, yang lalu aku lanjut melihat ke arah lensa-nya, dimana aku tahu, kalau muka ku pasti masih berada di layar kaca semua televisi yang ada di negara ini.

"Namun Tujuan aku mengikuti acara ini, bukan lah untuk main-main semata, serta bukan untuk orang tua-ku, serta kerabat-kerabat dekat ku." Kata ku yang mungkin agak terasa kasar sewaktu menyebutkan kata "orang tua". Aku pun harus menetralisirkan perkataanku tersebut. "Orang tua-ku masih tetap berada di nomor dua ketika aku mengikuti acara ini. Dan untuk nomor tiga dan empat serta seterusnya adalah para sahabat terbaikku serta saudara-saudaraku. Karena satu hal yang paling memotivasi ku ketika aku belajar bernyanyi selama empat tahun yang lalu adalah...."

Ya, ini lah saatnya....

.
.
.

"Karena Gina. Wanita yang sudah aku kejar selama tujuh tahun."

Semua penonton pun terdiam sejenak. Dan kurasa stasiun tv ini tak akan meminta ku untuk diam, karena aku akan membuat rating-nya menjadi lebih meningkat tajam.

"Awalnya aku sama sekali tak suka bernyanyi. Sejak dulu, aku selalu ingin menjadi designer. Namun karena aku sudah berjanji sama kamu, Gina." Kataku yang masih ku lihat lensa kamera yang ada di depanku, seakan aku memang sedang mengobrol dengan Gina dari dekat. "Sampai detik ini aku masih ingin mengatakan, kalau kamu lah yang selalu menjadi fokus hidupku. Sampai kapan pun, aku akan selalu berusaha untuk mengejarmu, dan memberikan banyak keajaiban untuk kehidupanmu. Dan karena aku sudah menepati janji ku kepadamu, aku mau kamu melakukan sesuatu untukku. Pada tanggal 20 Desember, ya, seminggu lagi, tolong datang ke Monas. Aku akan menunggu mu sambil kupegang seutas bunga mawar merah disana. Aku akan menunggu dari jam sembilan malam, waktu dimana kita sering makan malam sejak awal mula kita bertemu. Sungguh, aku cinta kamu, Gina."

Bersambung.....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath