Cerpen: Kutepati Janjiku (ending)

"Gina, apa lagi? Apa lagi yang harus aku lakukan agar bisa mendapatkan kamu??" Tanyaku sambil ditemani oleh air mata yang sudah membasahi pipi ku sedari tadi ini. Tak kusangka, kalau aku bisa menjadi begitu sensitif di depan seorang wanita. Sangat bertolak belakang dengan diri ku yang selalu tahan nangis selama ini.

"Kalau kamu terus mengejar, maka aku sudah pasti akan selalu menjauh. Jadi lebih baik kamu berhenti mengejar aku, Daniel." Jawabnya dengan cara membelakangi aku sejak tadi. 

"Sudah lima tahun Gina.... Aku sudah pernah menjauh dari kamu selama setahun, dan kita baru bisa pergi berdua lagi sekarang. Aku kira kamu sudah menerima aku. Aku kira kamu sudah mau memaafkan aku...."

"Aku kira kita akan kembali menjadi teman, Daniel. Aku mohon, antarkan aku pulang sekarang, atau aku yang akan pulang sendiri."

Ya, sudah setahun aku menjauh darinya, tak pernah bertemu dengannya, bahkan melihat batang hidungnya sekali pun. Tetapi aku masih tetap mengirimkannya banyak SMS ketika aku sedang kangen. Namun seperti biasa, ia selalu menghiraukan semua SMS dari aku tersebut. Dan hingga hari ini, aku lagi-lagi bisa pergi dengannya, bisa bercanda ria lagi dengannya di dalam sebuah Mall, dan kurasa, kalau aku sudah berhasil. Aku sudah menuruti semua kemauannya. Walau ternyata masih gagal....

"Gina... aku mohon.... Aku sudah menunggu terlalu lama. Aku capek, Gina...." Kataku yang sudah terlihat lemas, dan lagi-lagi terlihat begitu egois karena aku sangat ingin mendapatkan dirinya.

Lalu tanpa ia berkata apa-apa lagi, ia pun langsung melangkahkan kakinya, pergi menjauh dari bayanganku. Rasanya percuma jika aku harus memanggilnya lagi, atau mengejarnya yang sedang menuju ke pinggir jalan. Aku tahu kalau ia tak akan sedikit pun iba denganku, bahkan sampai menitikkan air mata oleh karena rasa sakit ku ini. Yah, ia sudah jijik dengan aku.

Apakah aku harus menunggunya selama setahun lagi? Hanya untuk bisa membuatnya bahagia di dalam satu hari yang sungguh spesial seperti hari ini. Apakah bisa, aku mengambil hatinya di tahun berikutnya nanti?


***

Tiga tahun yang lalu, sewaktu aku tahu kalau ia sudah jijik dengan ku, ku rasa aku memang perlu untuk tak menghubunginya lagi. Atau kalau bisa melupakannya, dan mencari yang lain. Namun entah mengapa, hati ku selalu tak mengizinkan. Aku malah nekat mengambil kursus menyanyi, menghabiskan setengah dari gaji ku, hanya karena aku teringat - kalau ia sangat suka dengan seorang penyanyi. Dan aku pikir, jika aku bisa menyanyi untuknya di depan semua orang, aku bisa membuktikan kepadanya, kalau aku adalah satu-satunya pria yang sangat serius mencintainya. 

Yah, awalnya aku memang ingin menyanyi untuknya di atas panggung dan ruangan yang begitu megah. Tetapi ketika aku sudah masuk ke dalam 10 besar di ajang perlombaan menyanyi bergengsi, "The Perfect Indonesian", aku malah menjadi ingin menang. Dan akan kuhadiahkan kemenangan itu hanya untuk Gina. Kurasa ia akan luluh jika sudah melihatku menang, lalu sekali lagi mengatakan cinta untuknya. Pasti ia akan menerimaku sekarang.

Ia pasti datang. Ia pasti akan menerimaku disini....

Sekarang tepat pukul delapan pada waktu malam hari. Aku masih menunggunya di depan menara Monas, sambil ditemani oleh banyak orang yang sedang menontonku, dan juga para awak media yang sudah dari jam empat sore menungguku. Ini memang adalah sebuah acara siaran yang sangat menguntungkan untuk semua stasiun televisi. Sekarang seluruh Indonesia sedang menantikan seorang wanita yang sudah ku undang sewaktu aku sudah menang di atas panggung megah The Perfect Indonesian dua minggu yang lalu.

Kini, aku sudah satu jam berdiri dengan memakai tuksedo dan celana bahan serba hitam kepunyaanku. Di tangan kanan ku pun sedang menggenggam seutas bunga mawar merah asli, yang kuharap tak akan layu ketika ia sudah datang kesini nanti.

Gina, aku menunggumu.... Dimana kamu.....


***

"Kamu itu orangnya pemalu. Tapi aku suka sama kamu. Kamu bisa dipercaya sih." Kata Gina kepadaku sewaktu sudah seminggu kami berteman. Dan sekarang kami sedang berada di kursi taman yang teduh di lingkungan sekolah kami.

"Kamu mau aku jadi bawel yah? Boleh kok."

"Jangan! Lebih baik kamu terus berdiam diri di hadapan ku. Aku masih punya segudang cerita yang belum aku ceritakan ke kamu. Kamu masih mau dengerin aku kan?"

"Iya, sudah pasti aku akan dengerin kamu. Ayok, ceritain semua kisah kamu, jangan cuma soal keluarga kamu melulu."

Lalu ia pun mulai melanjutkan ceritanya dengan serius. Kali ini soal masa kecilnya, yang dimana ia pernah menjadi begitu kesepian selama bertahun-tahun, karena perceraian orang tua-nya. Ia katakan, sejak SD ia sudah belajar menjadi mandiri dan kuat untuk menghadapi kehidupannya.

Entah mengapa, aku sangat suka mendengarkannya bercerita. Seperti hati ku terus bergejolak ketika aku bisa berada di dekatnya, tak peduli jika selalu ia yang menceritakan soal dirinya di hadapan ku selama berjam-jam. Aku hanya tak ingin perasaan bahagia ini menghilang sekarang....

"Ngomong-ngomong, kamu kalau sudah lulus nanti mau jadi apa, Daniel?" Tanyanya tiba-tiba kepadaku. Aku pun bingung mau menjawab apa, karena aku masih belum memikirkan masa depan ku.

"Aku masih belum tahu sih."

"Masa kamu belum tahu? Kamu harus tahu lah biar kamu punya tujuan hidup dari sekarang. Kamu harus mengejar sesuatu Daniel. Sebuah impian, yang sangat sulit untuk dijangkau oleh jari-jemari mu."

"Tapi aku masih belum tahu."

"Ya sudah, bagaimana kalau aku yang tentukan. Hmm...." Gina berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kamu mengejar aku saja?"

"Hah? Maksud kamu??" Tanya ku kaget.

"Aku sulit loh untuk di kejar. Ayok, sekarang kamu kejar aku!" Dan tiba-tiba saja ia berdiri dari kursi lalu berlari menjauhiku. Aku pun menjadi senang, lalu juga ikut berdiri dan mengejarnya.

"Hey tunggu!" Panggilku kepadanya yang sudah agak jauh.

Ia pun terhenti sejenak, dan berteriak dengan keras, "Ayo Daniel! Kamu harus janji, untuk selalu setia mengejar impian mu. Seperti sekarang, kalau kamu bisa meraih ku, maka kamu pasti juga bisa mendapatkan impian mu!"

Aku tersenyum. Aku tahu kalau ia memang sulit untuk dijangkau. Ia adalah seorang wanita yang sudah memenangkan lomba lari dalam skala nasional, melawan para pelari terbaik sejak ia SMP. Sudah pasti ini adalah satu kemustahilan untuk aku yang jarang berolah raga. Tetapi, dengan lantang aku pun berteriak kepadanya, "ya, aku janji!"


***

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku masih berdiri dan belum makan malam. Peluh ku pun sudah keluar banyak, karena rasa capai yang begitu menyakitkan ini. Tetapi aku harus tetap berdiri tegar. Aku harus menepati janji ku.

Dan ketika semua orang dan para awak media sudah terlihat kecewa, tiba-tiba saja muncul seorang wanita dari kejauhan. Ia berlari dan aku tahu siapa dia.

"Daniel!" Teriak Melly, salah seorang sahabat dari Gina.

"Melly, ada apa? Kenapa kamu kemari??" 

"Kamu harus berhenti melakukan ini Daniel. Ini ada surat dari Gina." Kemudian ia memberikanku sepucuk surat yang tak diamplopkan. Sebuah kertas sobekan dari sebuah buku catatan. "Lebih baik kamu baca dulu."

Satu kata, dua kata, hingga akhirnya aku berhasil sampai di kalimat terakhir.... Ah, air mata ku lagi-lagi keluar. Dan dengan sangat terasa lelah, aku pun terjatuh berlutut, menyesali semua yang sudah aku lakukan....

.
.
.

"Daniel, aku sama sekali tak menyangka kalau kamu akan melakukan hal seperti ini. Sejak kita berteman tujuh tahun lalu, aku selalu yakin kalau kamu adalah orang yang tepat untuk selalu menjadi teman ku hingga kita tua nanti, bukan dengan menjadi sepasang kekasih.... 

Karena aku benar-benar minta maaf sama kamu, Daniel. Sekarang aku sudah bertunangan dengan seorang pria yang sudah aku cintai lama sekali. Ia memang tidak seperti mu, ia tak pernah melakukan hal yang gila untuk mendapatkan hati aku. Tapi aku sangat cinta sama dia Daniel. Aku senang sudah bisa mendapatkannya sekarang. Aku sudah menunggunya selama tiga tahun. 

Aku mohon Daniel, hentikan semua ini..... Kamu harus mencari impian yang baru. Sebuah janji yang baru. Karena sudah sejak lama aku memutuskan janji mu kepadaku. Tolong kamu mengerti..... Kita tak akan pernah bisa bersama... 

Good luck Daniel! God bless....."

.
.
.

Apakah keajaiban itu memang benar-benar ada? Apakah aku harus menuruti semua hal yang pernah dikatakan oleh teman-teman ku, seperti masih banyak ikan di laut?

*TAMAT*

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath