Thank You For Smoking: Population Controll, Responsibility, and Journalist

Sebelum Juno dan Young Adult muncul, Jason Reitman pun sudah membuat "Thank You For Smoking" terlebih dahulu pada tahun 2005. Film yang menjadi dua nominator di ajang penghargaan Golden Globes ini ternyata memiliki isi yang sama pintar-nya seperti Juno dan juga Young Adult yang sungguh unik tersebut. Dan jika Juno membahas mengenai pro terhadap kehamilan di usia dini, dan juga pengadopsian anak dimana kedua orang tua anak tersebut masih utuh, lalu Young Adult memiliki inti bahasan "tempat tinggal asal-mu adalah yang patut dipersalahkan", maka untuk Thank You For Smoking, kita akan melihat sebuah kontroversi yang sungguh besar dari yang namanya "pro terhadap rokok". Film ini pun diambil dari novel karya Christopher Buckley yang memiliki judul yang sama. Dan sepertinya Christopher memiliki beberapa pesan yang sungguh banyak di dalam buku-nya itu, seperti "populasi kontrol" dan "responsibility". Lalu untuk film-nya, sepertinya karir sebagai jurnalis terlihat di nomor dua-kan disini. 

Nah, mungkin kalian semua harus membaca sedikit review-nya terlebih dahulu.


Nick Naylor (Aaron Eckhart) adalah seorang juru bicara atau disini disebut sebagai "pelobi" untuk perusahaan rokok bernama "Big Tobacco". Ia adalah seorang PR yang bertugas untuk terus membela barang yang selalu disebut "haram" di kalangan masyarakat tersebut, walaupun pada kenyataannya pemakai barang "haram" itu selalu ada di dalam keluarga mereka masing-masing.

Nick Naylor pun memiliki dua orang sahabat yang sangat menarik disini. Ada Polly Bailey (Maria Bello), si pelobi untuk minuman keras, lalu ada Bobby Jay Bliss (David Koechner), si pelobi untuk perusahaan senjata. Mereka bertiga selalu makan malam bersama di akhir minggu, untuk membicarakan mengenai kehidupan mereka yang selalu dibenci oleh masyarakat. Bahkan mereka sendiri menyebut nama "panggilan" mereka adalah Merchants of death (si penjual kematian).

Dan selain masyarakat yang sangat membenci Nick, seorang senator di negara-nya, Ortolan Finistirre (William H. Macy), tersebut pun turut melawan Nick. Salah satu perlawanannya adalah membuat bungkusan rokok yang akan dijual ke masyarakat menjadi memiliki gambar tengkorak. 

Namun di sisi lain, Nick juga adalah seorang ayah, atau duda, karena ia sudah bercerai dengan istri-nya. Nama anak-nya adalah Joey Naylor (Cameron Bright). Walau pada awal-nya Joey memiliki ketidak-sukaan terhadap Nick, tetapi lama-kelamaan ia malah menjadi suka terhadap karisma dari ayah-nya tersebut. Dan hal itu terlihat dari mulai "pintar ngomong"-nya Joey ke ibu dan juga teman-teman-nya. Yup, "Like father like son".


Lalu, di dalam kehidupan Nick, rasanya kurang lengkap jika tidak ada-nya kehadiran seorang jurnalis yang sangat ingin menulis mengenai kehidupan dari Nick. Heather Holloway (Katie Holmes) adalah sang jurnalis yang sangat beruntung tersebut. Dengan kemampuannya untuk bisa mendekati Nick (dengan cara yang aduhay), ia pun ternyata bisa menguak banyak informasi dari Nick. Jelas Heather sangat mirip dengan Nick, mereka berdua sangat mencintai pekerjaan mereka masing-masing, sehingga cara apa pun sudah pasti akan mereka lakukan untuk menyelesaikan pekerjaannya tersebut.

Yup, berbagai macam konflik sudah Nick rasakan, bahkan ia pernah diculik lalu diberikan banyak nikotin ke dalam tubuh-nya, yang walaupun ia selamat, tetapi ia akan cacat jika merokok satu kali saja. Namun tetap, sewaktu koran terbitan Heather sudah keluar, disitu adalah puncak klimaks dari setiap masalah-nya.

Hingga di akhir cerita, Nick memutuskan untuk melawan Ortolan dan juga Heather. Tetapi ia lebih melawan Ortolan dengan mengadakan Press Conference. Dan disitu lah akan terlalu kemampuan terbesar dari mereka berdua, yaitu "talking".

Dan walaupun Nick yang terlihat menjadi pemenangnya, tetapi ia malah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya tersebut, karena ia lebih memilih "bertanggung jawab" untuk anak semata wayangnya, Joey Naylor.


***

Sangat menyenangkan untuk membahas film ini. Karena ada banyak pesan yang sepertinya ingin disampaikan dari film ini. Dan untuk yang pertama adalah "Populasi kontrol", yang sempat disebutkan oleh Nick, ketika ia ditanya oleh Heather, untuk apa motivasi ia bekerja di bidang ini. Dan pada waktu ia menjawab "populasi kontrol", yup, itu adalah jawaban yang sangat tepat dan jelas bisa mempengaruhi para penonton juga. Kita semua tentunya tahu kalau penduduk di bumi itu makin banyak tiap tahun-nya, walaupun ada ribuan manusia yang meninggal karena barang haram tersebut, tetapi jumlah penduduk akan terus selalu meningkat. Hal ini akan membuat para penonton mengimajinasikan,"bagaimana jika tak ada rokok, pasti bumi sudah penuh sekarang".

Namun bukan hanya rokok yang menjadi benda haram disini. Karena itu film ini memperlihatkan kalau Nick juga memiliki teman-teman yang sama satu profesi seperti dirinya, yaitu si pelobi minuman keras dan juga senjata. Dan setelah kita semua menonton film ini, apakah kita akan menyetujui semua benda haram tersebut ada di bumi ini? Untuk populasi kontrol?

Mungkin akan ada yang menjawab iya dan juga tidak, karena di akhir cerita pun film ini memperlihatkan kalau Nick pada akhirnya berhenti dari pekerjaannya, dan mengatakan ke semua penonton kalau ia lebih memilih "bertanggung jawab" untuk kehidupan anak-nya. Jadinya ia sangat jelas mengetahui bahaya dari yang namanya merokok tersebut, dan tak ingin anak semata wayang-nya untuk menyentuh barang tersebut. Ini lebih seperti bagaimana perlakuan kita ke sesama manusia, yang tak akan tega melihat orang terdekat-nya memiliki penyakit akibat dari merokok tersebut (humanity).

Lalu apakah Populasi kontrol tidak mensejahterakan masyarakat? Apakah populasi kontrol tidak humanity? 

Yah, walaupun pada kenyataannya kita melihat kalau ada berbagai macam cara untuk dapat mengkontrolkan populasi, seperti salah satu-nya, program KB, tapi tetap saja, untuk setiap benda haram yang masih ada sampai sekarang, populasi akan terus bertambah. Lalu yang jadi pertanyaannya sekarang adalah,"bagaimana jika benda-benda haram tersebut menghilang?" Dan pertanyaan ini akan membuat kita menjadi bertanya lagi,"apakah kita lebih memilih untuk menjadi manusia yang berdarah dingin dan tidak memperdulikan kesehatan sesama kita jika kita memilih adanya benda-benda haram tersebut, untuk populasi kontrol? Ataukah kita memilih untuk menghancurkan semua benda haram tersebut? Apakah untuk yang memilih menghancurkan semua benda haram tersebut akan memikirkan mengenai populasi kontrol? Apakah kalian akan memikirkan untuk mencari cara yang lain agar bisa mengkontrolkan populasi?

Waduh, banyak pertanyaan yah. Yang jelas manusia itu memiliki jumlah yang sangat banyak. Dan selalu ada yang memilih populasi kontrol, dan juga memilih humanity. Semuanya tergantung pilihan sih.


Lalu bagaimana dengan sang jurnalis yang di film ini terlihat cukup direndahkan? Padahal pekerjaan jurnalis juga sangat lah mulia, untuk memberitakan kebenaran ke masyarakat. Apalagi untuk seorang jurnalis yang berideologi seperti Heather, yang lebih memilih untuk melakukan segala cara, walaupun harus menjual tubuhnya hanya untuk menceritakan hal yang sebenarnya ke masyarakat. Apakah dengan memperlihatkan Heather sebagai antagonis disini, hal itu untuk memberikan pesan ke masyarakat kalau pekerjaan sebagai jurnalis adalah pekerjaan yang cukup rendah?

Mungkin ada satu pemikiran yang pro terhadap pertanyaan tersebut, jika memikirkan kalau seorang jurnalis di dalam film ini sudah mengorek setiap privasi dari Nick, dan jelas-jelas menghancurkan Nick dengan segala privasi-nya tersebut. Namun di dalam film ini jelas Heather adalah seorang jurnalis yang paling ditakuti karena ideologi-nya tersebut, teman-teman Nick pun sudah memberikan pesan ke Nick untuk hati-hati.

Film ini memang cukup dipersulit untuk siapa pemeran antagonis dan protagonis-nya. Karena kita akan melihat sudut pandang dari kehidupan Nick, yang jelas di sebagian besar masyarakat selalu menganggap dia sebagai pemeran antagonis itu sendiri. Sehingga untuk seorang jurnalis seperti Heather, akan dianggap sebagai antagonis, karena kita melihat kalau Nick adalah sang protagonis disini, apalagi karena pilihan terakhirnya untuk memilih "responsibility", sudah pasti ia akan diagung-agungkan oleh masyarakat.


Namun, bukan berarti setiap jurnalis itu adalah sang protagonis juga, karena ada banyak yang antagonis. Yup, setiap pekerjaan memang memiliki pemeran antagonis dan protagonis sendiri-sendiri.

Sekali lagi, semua itu memang tergantung dari apa persepsi dari para penontonnya. Apakah lebih memilih populasi kontrol atau humanity? Apakah ikut turut merendahkan seorang jurnalis seperti Heather yang sangat berideologi ini?

Your choice.....

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath