Sepercik Kerinduan

Melihat muka-nya adalah salah satu sihir yang begitu kuat buat hidup gua. Rasanya itu gua akan kembali bersedih dan terjun ke dalam kesesakan akan penyesalan yang pernah terjadi di masa lalu. Dan apakah yang bakal gua lakuin berikutnya? Biasanya gua akan mengirimkan sebuah SMS untuk-nya, dan gua bakal merasakan kembali, ketika ia tak akan membalas SMS gua tersebut.

Lalu gua harus ngapain sekarang?

Yup, berkali-kali gua sudah berusaha untuk melupakannya. Dan setelah satu keputusan yang besar yang pada akhirnya sudah gua lakukan, kali ini pun gua akan menghargai keputusan gua tersebut dengan berusaha memalingkan pikiran gua yang sedikit lagi akan bersedih ketika sedang melihat fotonya itu. Gua akan bilang ke diri gua sendiri,"ah, stop it anton!" Dan itu adalah sesuatu yang sangat sulit. Karena gua harus menghilangkan rasa "rindu" dengan seketika. Yah, mau tak mau sebuah pelampiasan harus segera gua lakukan, seperti dengan cara menulis ini. Gua harus sadar kalau masih banyak ikan di lautan....

Apakah mungkin hanya gua yang merasakannya? Kalau rasa sakit, dan duka itu akan terus ada seumur hidup? Seperti rasa dukacita sewaktu Bokap gua meninggal, yang sampai sekarang pun jujur, gua masih merasakannya. Betapa pedih dan penuh dengan penyesalan. Apalagi ketika gua sedang mendalami-nya, maka perasaan dukacita tersebut akan sangat menyiksa gua.

Lalu untuk seorang kekasih, apakah hanya gua yang merasakannya, kalau disaat gua sedang terpuruk, yang gua butuhkan saat itu adalah seorang kekasih yang mau untuk menyemangati hidup gua? Walau gua tahu kalau kita semua harus menghadapi semua-nya seorang diri, untuk bisa menjadi dewasa dan bla bla blah.... Tapi sampai kapan gua harus menaruh rasa "kesendirian" ini di dalam kehidupan gua? 

Mungkin sebuah pekerjaan dan mengejar cita-cita bisa menjadi satu fokus agar dapat menghilangkan rasa ingin mendapatkan seorang kekasih tersebut. Tetapi ketika gua sedang jatuh berkali-kali dalam hal mencapai cita-cita gua itu, apakah gua harus lagi-lagi menghadapinya seorang diri? Atau gua harus bercerita ke teman-teman gua? Padahal gua butuh satu orang yang sanggup membuat gua jadi tersenyum. Yup, tersenyum yang dimana gua benar-benar merasa kalau semua kejatuhan gua itu hanya lah sebatas lubang kecil di dalam kehidupan ini, dan gua pun sudah berada di atas lagi, "oleh karena-nya". Bukan-nya harus terus-menerus tertawa bercanda dengan seorang teman....

Apakah ini bagian dari ketidak-bersyukuran? Mungkin iya, dan mungkin juga tidak. Karena perasaan ini memang lah ada. Dan satu harapan ini, yang sudah gua berikan ke Tuhan sebanyak berkali-kali, sudah gua laksanakan.

Lalu bagaimana dengan doa-doa gua sewaktu gua sedang berulang-tahun, seperti ultah ke-21 kemarin gua? Yup, tentu saja gua harus segera melupakannya. Karena sudah kira-kira empat atau lima tahun gua hanya meminta dirinya. Itu menyedihkan. Tuhan sama sekali tak mengabulkannya....

Ini adalah sebuah fenomena saturday nite, yang dimana sudah berubah menjadi Sad nite. Dan salah satu korban-nya adalah gua, karena pada malam ini gua sudah kembali lagi melihat foto-nya yang sungguh manis itu.

Yah, akhir kata, kenyataan hidup itu memang lah menyedihkan..... Disaat terpuruk seperti ini.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath