Tentang Film "Hitchcock"

Sebuah adegan di dalam kloset, dengan satu pembunuhan yang begitu mengerikan, adalah suatu peristiwa yang dapat kita lihat 'pertama kalinya' di dalam sebuah film horror jadul dan terkenal yang berjudul "Psycho". Dengan scoring music-nya yang menyeramkan, lalu tiap angle pengambilan gambar-nya yang tepat, dan akting dari para pemainnya yang sudah mapan, ternyata mampu membuat banyak penontonnya menjadi kaget dan berteriak bukan main pada waktu di jaman itu - 1960. Dan sekarang mari kita lihat, kalau di dalam kesuksesan yang dihadirkan di dalam film Psycho ini, ternyata memiliki banyak sekali gangguan yang benar-benar sangat menarik sekali untuk dibahas. Hingga Film Hitchcock pun muncul, dan memberikan beberapa gambaran yang cukup terperinci mengenai behind the scenes yang sudah terjadi pada saat di hari-hari pembuatan film tersebut.


Berasal dari buku non fiksi karangan Stephen Rebello, yaitu: Alfred Hitchcock and the Making of Psycho, seorang sutradara yang pernah menjadi writer di dalam Film The Terminal, dan seorang penulis, 
John J. McLaughlin, yang pernah menjadi pembuat naskah di dalam Film Black Swan, pun mau untuk mengadaptasikannya menjadi sebuah film yang cukup ditunggu-tunggu (khusus untuk para penggemar Film Psycho) di tahun 2012 kemarin.

Dan coba kita lihat, disini kita akan diawali dengan sebuah penampilan dari seseorang yang sudah menjadi satu inspirasi terkuat dari Alfred semasa ia sedang bekerja di kala itu, yaitu: Ed Gein, seorang pembunuh berdarah dingin, yang sudah sangat terkenal karena kegilaannya di masa itu. Dan di dalam setiap imajinasi dan mimpi dari Alfred, ternyata Ed Gein pun adalah 'sahabat sejatinya', yang selalu bisa mendengarkan tiap keluh kesah-nya setiap hari.

Lalu, film ini pun akan memperkenalkan kepada kita semua tentang seseorang yang ternyata ada di balik kesuksesan dari kehidupan seorang Alfred Hitchcock. Ia adalah Alma Reville, istri tercinta Alfred, yang nyatanya mau untuk terus mendukung Alfred di dalam setiap kegilaannya.

Jadi, sebenarnya film Psycho itu sama sekali tidak didukung oleh kantor produksi yang selalu bekerjasama dengan Alfred di kala itu, yaitu: Paramount Pictures. Bahkan hingga pada akhirnya Alfred lah yang mau untuk membiayai film-nya tersebut seorang diri, dengan menjual rumah-nya, dan benda-benda berharga lainnya. Hal tersebut pun didukung penuh oleh Alma, tanpa ada-nya kata 'tidak' yang bisa membuat Alfred menjadi tambah stress total.


Namun konflik demi konflik pun terjadi. Seperti Alfred yang sedang cemburu karena Alma sedang didekati oleh seorang pria yang bernama Whit, sampai-sampai Alfred sendiri menjadi buta matanya, lalu, ketika Alma juga yang menjadi begitu sedih karena salah satu kekurangan dari Alfred, yaitu: tak tahan dengan seorang perempuan blonde nan seksi, seperti pada saat Alfred sedang bersama Alma untuk menemui seorang aktris yang akan memerani tokoh Marion Crane, yaitu Janet Leigh, sampai-sampai ada banyak sekali kata-kata godaan yang dikeluarkan dari dalam mulut Alfred pada waktu itu; Kemudian juga, saat badan sensor film yang di kala itu sama sekali tak mengijinkan sebuah adegan 'telanjang' (yup, pada masa itu tidak diperbolehkan di Amerika), jadinya kalau badan sensor film sudah tidak mengijinkan, maka mau tak mau, film tersebut harus batal tayang.

Benar-benar pada saat itu ada cukup banyak tekanan pada waktu sedang berlangsungnya pembuatan film ini, sampai-sampai penonton pun malah menjadi ikut terbawa emosi, soal 'gagal atau tidak-nya film ini' (padahal sudah tahu sukses besar), karena terlihat sekali rasa 'putus asa' dari para tokoh utama-nya disini. Dan memang itu lah letak kekuatan dari Film Hitchcock, yang dimana alur-nya terus berjalan dengan terus naik turun-nya, lalu juga dibantu oleh para pemain yang sudah mapan akan kualitas aktingnya, seperti Anthony Hopkins, yang sudah berlagak dan bermimik dengan sangat mirip layaknya Alfred Hitchcock yang aslinya.


Tetapi, mungkin ekspektasi para penonton akan menjadi agak kecewa disini. Karena film ini tak akan terlalu ditekankan pada cara membuat film Psycho-nya, tetapi lebih diperlihatkan kalau Alma adalah seorang wanita yang paling banyak berperan di dalam pembuatan film ini. Dan hal tersebut dapat terlihat ketika ternyata Alma lah yang sudah me-revisi dalam hal penulisan naskah-nya, lalu ia juga yang menjadi sutradara pada saat Alfred sedang sakit, dan ia lah yang sudah menjadi penyemangat Alfred untuk tetap melanjutkan pembuatan Film Psycho pada saat semuanya serasa sudah berada di bawah tekanan. Yup, tentu beberapa orang akan kecewa, karena kita semua tahu kalau Film Psycho itu adalah salah satu film yang memang sangat rumit dalam hal pembuatannya, seperti pada saat adegan yang berada di dalam kamar mandi itu, oh, itu adalah sebuah masterpiece!

Namun, tentunya film ini tetap memiliki banyak nilai plus-nya, seperti dalam hal script-nya, alur-nya, lalu juga para pemainnya yang benar-benar sudah cemerlang, menawan, dan peraih OSCAR pula. Ya, mereka adalah: Anthony Hopkins, Helen Mirren, Scarlett Johansson, Toni Collette, Jessica Biel (sebagai Vera Miles), dan James D'Arcy (sebagai Anthony Perkins). Mereka semua tentunya sudah membuat film ini menjadi serasa hidup, penuh dengan emosi yang manusiawi sekali. Ah, tentu saja, khususnya untuk pesona Anthony Hopkins, yang selain sudah menjadi seorang kanibal psikolog, ternyata ia pun mampu untuk menjadi seorang sutradara sebesar Alfred Hitchcock, dan tentu saja dengan segala kegilaannya. Mantap!






Yap, jadi ini lah Hitchcock. Semoga saja film yang diproduksikan oleh Fox Searchlight Pictures ini tak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Paramount Pictures, karena terasa kontras sekali kelihatannya. :D

"I share this award, as I have my life, with Alma." - said Hitchcock
(aw, so romantic! isn't it?)


Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath