Masalah Parah Tiap Harinya

I really-really hate to do this. Rasanya gua bisa curhat setiap hari soal kekesalan, kedengkian, dan kesedihan yang sudah gua alami seperti yang sudah terjadi pada hari ini. Dan itu rasanya sungguh mengesalkan jikalau gua harus ngeblog terus soal curhatan yang penuh derita seperti yang akan gua lakukan sekarang ini. Ah, tapi biarlah. Gua sudah tak tahu harus bilang ke siapa lagi. Gua hanya sudah terlalu nyaman untuk berbicara di dalam blog tercinta gua ini.

Okeh, apa saja yang sudah terjadi pada hari ini, mari kita mulai pada waktu gua sehabis bangun di pagi harinya. Disaat gua sedang memasukkan semua barang penting gua ke dalam tas, dan tiba-tiba aja gua kehilangan flaskdisk kesayangan gua, yang benar-benar awet, tahan lama, 32GB, lumayan mahal (tapi gua beli waktu diskon gede-gedean saat itu), ah gila! Masa hilang?!

Gua pun langsung memasang wajah yang sangat lemas pagi tadi. Hingga gua ketinggalan dua sks gara-gara nyari itu flaskdisk. Soalnya di dalamnya itu ada data-data penting, dan benar-benar musti gua cari lah intinya ckckck.

Lalu, karena gua sadar kalau gua butuh ketemu dosennya untuk menanyakan sebuah tugas, dan juga inget-inget kalau absensi gua itu sangat penting karena minggu depan gua udah mulai PRJ-an, jadinya gua pun langsung pergi ke kampus dengan pasrah.


...


Lemas, sedih, dan serasa tidak ada lagi kebahagiaan di raut muka gua, itu lah yang sungguh gua rasakan saat sedang mengendarai motor waktu pagi tadi. Gua benar-benar merasa seperti sedang dihantam habis-habisan setiap harinya, dengan berbagai macam kejadian yang sungguh gua tak tahu.

Baiklah, saat sesampainya gua di kampus, seharusnya gua hari ini ada rencana pergi ke puncak, sekitar pukul satu pagi. Namun sebuah masalah pun kembali terjadi. Tapi tak bisa gua ceritakan disini, yang jelas karena masalah yang keyword-nya adalah: salah paham, dan misskom ini, pada akhirnya sudah membuat gua jadi batal untuk pergi. Soalnya gua harus melakukan sesuatu untuk setidaknya "sedikit meredakan masalah tersebut". Dan mau tak mau gua pun harus merendahkan diri (lagi).

Oke, ini lah yang selalu menjadi bagian di dalam hidup gua hingga kini. Yaitu: merendahkan diri. Dan gua benar-benar sudah capek untuk melakukan hal seperti itu. Karena gua selalu ingin menjaga hubungan dengan semua orang. Gua benar-benar tak ingin punya masalah sama semua orang. Sehingga gua pun harus selalu mau untuk merendahkan diri gua jika terjadi suatu masalah, meskipun itu bukan salah gua sekalipun.

Dan memang ini adalah sebuah ketololan lainnya untuk diri gua selain dalam hal percintaan. Yah, gua itu memang sungguh tolol dan goblok, karena merasa kalau ini adalah sebuah keharusan. Dan seperti istilahnya robot, sikap merendahkan diri gua itu akan muncul secara otomatis ketika sedang munculnya suatu masalah. Hal ini gua lakukan karena intinya gua ingin tetap menjaga hubungan dengan orang lain. Soalnya kebanyakan yang gua temui itu, sekalinya mereka marah, yah mereka bakal marah selamanya, bahkan walau hanya satu orang, tapi orang tersebut akan menjelek-jelekkan gua, dan berusaha membuat yang lain jadi benci sama gua juga (hanya khusus komunitasnya). Yup, orang seperti itu memang masih ada loh walaupun sudah di atas 20 tahun. 

Dan yang paling parahnya adalah: ada yang sampai suka ngomong pake kata-kata kotor atau kasar, yang kesannya seperti bercanda, padahal awkward banget dan nyakitin gua banget jika kata-kata seperti itu terus terlontar setiap gua lagi ketemu ama dia (mereka). 

See? Betapa gua sudah direndahkan sekali sama mereka (khusus untuk yang suka ngomong kotor). Padahal gua cuma ketawa-tawa aja sama mereka dan berusaha untuk tidak pasang muka sebal. Masa mereka ngira kalau gua no problem sama kata-kata mereka itu?? Masa gua harus pasang muka marah agar mereka berhenti?? Ini kan namanya sudah "merendahkan orang lain", dan sebagai manusia seharusnya tahu lah hal seperti itu. 

Namun ini berbeda jika ada teman-teman dekat gua yang lagi ngomong pake kata-kata kotor atau kasar ke gua. Karena gua tahu lah yang mana yang benar-benar bercanda, sama yang berasal dari dalam hati.

Apakah mereka (yang ngomong kotor pake hati) memang tak pernah ngerasain ya dikatain kayak gitu? Jadinya nganggap biasa aja saat lagi ngatain orang.

Sumpah, mungkin ini sulit dimengerti oleh orang lain disaat gua sedang bercerita di dunia nyata. Ada banyak yang sungguh tak tahu kalau gua sudah begitu banyak menahan rasa sakit. Dan gua benar-benar tak butuh jikalau harus dinasihati, atau parahnya, jikalau gua yang dibilang salah, dan sudah merespon negatif.

Yah, memang ada juga orang-orang yang cuma bisa ngerocos kasih tau ini itu, tapi tidak mendengarkan dan mencoba untuk mengerti. Karena seharusnya, kalau mereka mengerti, ya sudah pasti akan menyuport temannya dengan tidak berewel-rewel ria.

Blog gua memang yang paling mengerti lah soal gua :p


...


Btw, untuk akhir katanya, gua mau kasih tau kalau waktu pulang dari kampus tadi, gua pun nangis di motor karena benar-benar udah gak tahan sama semua masalah tadi. Ditambah gua habis mendapatkan satu kabar terbaru dan terburuk mengenai "dia".

Yup, semuanya makin bertambah buruk, dan akan terus menjadi lebih buruk. Karena gua benar-benar bakal melihat sebuah pertunjukan yang sangat lah menyedihkan. Dan gua pun "tak usah minta dulu" untuk melihat hal yang menyedihkan tersebut nantinya, soalnya Tuhan pun akan "selalu kasih jalan" untuk gua agar bisa menyaksikkan "kenyataan pahit" itu dengan mudahnya nanti.

Let we see.....

N.B: Gua juga tadi sempat menenangkan diri dengan cara menonton di bioskop (sendirian, seperti biasa). Benar-benar berharap bisa senengin hati gua. Tapi sayangnya sama sekali tidak bisa. Rasanya gua sudah tidak tahu bagaimana caranya untuk "tersenyum" lagi sekarang. Sama sekali tidak tahu.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath