Dimanakah Sang Pelangi Itu?!

Hari Selasa, tanggal 14 Mei 2013 ini, gua memutuskan untuk bangun tidur pada pukul setengah tiga pagi, setelah melewati tidur panjang sejak pulang dari kampus pada pukul tujuh sore kemarin. Dan kali ini, gua memang ingin bercerita mengenai hal-hal yang pernah terjadi sejak Hari Rabu itu, yang dimana sudah membuat hari-hari gua menjadi serasa tak berdaya, tak bersemangat....

Rasa ingin bunuh diri, atau tak ingin berada di dunia ini lagi, kembali gua rasakan sejak Hari Rabu kemarin. Di semester enam ini, memang bisa dikatakan sebagai satu semester yang paling sulit untuk gua lewati, karena gua merasa sudah tak ada hasrat lagi untuk berkuliah. Rasanya seperti gua sudah cukup untuk melakukan berbagai macam hal yang gila, yang sudah membuat tubuh gua ini menjadi terasa capek selama tiga tahun belakangan ini. Bayangkan saja, gua sudah ikut lomba ini itu, sudah berusaha untuk eksis, sudah mencoba hal-hal yang baru seperti bekerja menjadi Campus Representative di Marketing kampus gua, dan tentunya masih banyak lagi. Lalu, entah napa sekarang gua merasa sudah stak, berdiri diam tak bernyawa, seakan gua sudah menjadi robot yang hanya ingin menyelesaikan semua tugas kuliah, dan tiap pekerjaan yang masih menggantung hingga sekarang.

Oh, pada Hari Rabu itu ketahanan hati gua sedang diuji. Yaitu: gua harus mendapatkan nilai C untuk kedua mata kuliah gua, yang dimana gua sudah berusaha untuk menjadi "seorang ketua kelas yang baik", dan berkeyakinan yang kuat kalau nilai gua bakal bagus. Lalu, saat pulang pun gua tiba-tiba saja dihadapkan dengan dua buah penipuan yang sudah dilakukan oleh dua orang penambal ban jalanan. Yang pertama, saat gua sedang meminta ke penambal pertama untuk menambal ban motor gua yang sudah bocor (bocornya itu sejak malam sebelumnya. Tapi karena sudah kemalaman, dan gua harus kuliah pagi, akhirnya dalam keadaan masih bocor, gua tetap bawa motor gua itu ke kampus haha), eh tapi gua malah dibohongi sama penambalnya. Ia bilang kalau ban dalam motor gua sudah harus diganti karena bolong-nya kegedean. Dan pada waktu gua sudah menyetujui sarannya tersebut, alhasil sebuah ban dalam yang ukurannya lebih kecil dari ban luar motor gua pun ia berikan dengan harga Rp 30.000,-. Ckck gua tau-nya dia bohong pada saat gua sudah berada di penambal yang kedua, karena tiba-tiba saja ban motor gua jadi bocor lagi di tengah jalan ckckck.... Dan parahnya, pada saat di penambal kedua, dia bilang kalau ban luar motor gua udah jelek, jadinya musti cepat diganti. Tapi untunglah, uang gua yang sudah tersisa sedikit itu masih bisa mencukupi untuk menambal lagi :(. Yang lalu, hahahaha...... ban motor gua itu pun lagi-lagi pecah di tengah jalan, sehingga membuat gua berpikir kalau ban luar motor gua memang sudah hancur. Wuaaa!!!

Hhhh..... hingga sampainya gua di rumah, gua pun langsung tidur dengan pikiran yang sangat kacau balau....

Kemudian, saat sudah di hari berikutnya, yang adalah tanggal merah, dan membuat gua jadi tidur sampai jam lima sore (gila gua waktu itu!), gua pun pergi lagi ke tukang reparasi motor di dekat rumah gua. Dan untung lah yang kali ini benar. Karena sebuah paku kecil pun ketemu juga di dalam ban motor luar gua. Gila!! Si dua penambal ban kemarin itu udah mereksa apaan dah?!?! Lalu, gua tetap mengganti ban dalam-nya dengan yang ukurannya pas, yang harganya Rp 40.000,- dan merek-nya IRC. Yah, worth it lah (kayaknya. Gua mana tau soal harga ban motor).

Tetapi, kejadian di Hari Rabu itu bisa dikatakan sebagai hanya sebuah awal dari sebuah perasaan hopeless akut yang berikutnya di dalam kehidupan gua ini. Karena setelah itu, gua tiba-tiba saja harus melihat sesuatu yang sebenarnya tak harus gua lihat.

Yah, ini adalah sebuah gambar yang tak bisa gua rincikan disini. Yang pasti gambar tersebut sudah berhasil untuk menjatuhkan kehidupan gua sampai ke dalam-dalam-nya. Dan gambar tersebut sudah membuat gua sadar, kalau kisah cinta gua itu memang adalah sebuah kutukan yang benar-benar sudah di black list oleh Tuhan (hingga saat ini). Yup, gua berani bilang seperti itu karena memang gua sudah merasakannya. Dari semua yang sudah gua kejar, dari tiap pengalaman yang begitu indah, dan mengharukan, yah, pada akhirnya hanya akan dibuang ke dalam tong sampah, bersama dengan banyak kotoran lainnya. Kacau!

Badan gua pun pada saat itu lemas (itu sudah Hari Jumat), seperti sudah terkutuk dengan kuatnya. Yang lalu berlanjut lagi di Hari Sabtu, yang dimana ada seorang teman gua yang sudah menceritakan tentang suatu hal yang ada hubungannya dengan gambar tersebut. Dan, ah, saat itu gua benar-benar harus siap untuk terus berdiri tegap, karena ceritanya sungguh sudah menyentak hati gua habis-habisan.

Lalu, pada keesokan harinya, gua pun melihat sebuah 'twit' yang pada akhirnya sudah mengatakan segalanya....




Sudah.




Di semester enam ini memang kehidupan gua sudah berakhir, dan gua sudah tak peduli lagi dengan hal-hal yang sedang menjadi masalah gua sekarang. Yang penting sekarang gua hanya akan terus berjalan seperti robot untuk menyelesaikan semua tugas gua saja. Dan yah, gua akan tetap berakting, berdramaturgi di depan semua orang. That's all.

Gua sudah selesai berada di rasa sakit dalam hidup ini. Benar-benar tak ada pelangi sehabis hujan. Itu hanya lah sebuah lagu yang tak berguna, yang tak akan pernah gua harapkan lagi. Tentunya itu tidak lah nyata.

Thanks
Gbu

N.B: Walau gua bilang kalau gua merasa ingin bunuh diri, tapi bukan berarti kalau gua bakal benar-benar ngelakuin yah! Ingat ituu!! Hahaha.... Gua cuma ingin mengalirkan apa yang sedang gua rasakan saja. Dan itu memang benar-benar adalah sebuah kesakitan.....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath