Apakah Aku Takut Untuk Hidup Sendiri?

Sesekali gua pernah mengobrol bareng teman gua mengenai hal yang paling mengerikan di dalam kehidupan ini. Dan tentu saja gua menjawab, "hidup sendiri". Dan teman gua sendiri itu menyetujui hal tersebut, karena disaat kita sedang sendirian, benar-benar tak ada satu orang teman pun yang bisa diajak ngobrol, atau paling tidak dekat dan mengerti kita (walau tak sepenuhnya bisa mengerti), sungguh, hal tersebut adalah satu momen yang sangat tak mengenakkan di dalam kehidupan ini. Bayangkan, kita hanya bisa berdiam diri di saat sedang menghadapi sebuah masalah, dan apalagi, salah satu masalah tersebut adalah "sedang berantem dengan orang yang berada di sekeliling kita". Siapa coba yang mau mendukung kita disaat ada yang sudah memusuhi kita, karena kita tak memiliki satu orang teman pun di dalam lingkungan sekitar kita itu. Seperti hal-nya kita sedang bertengkar dengan teman sekelas kita sewaktu SMA, dan teman kita itu pun ternyata memiliki banyak teman, waduh sudah deh, kita hanya akan menjadi kambing yang siap untuk dipotong. Neraka dunia benar-benar sedang menimpa kita jika kejadiannya seperti itu!

Tentunya gua pernah merasakan hal tersebut. Disaat tak bisa mengadu ke siapa-siapa, sehingga setidaknya bisa menenangkan hati gua waktu sedang ada masalah dengan teman sekelas gua tersebut, yah, ternyata ketenangan itu tak pernah bisa gua dapatkan, hanyalah teman gua yang bisa merasakannya karena sudah memiliki banyak teman di dalam kelas-nya. Gua yang dulunya pendiam dan tak berani itu pun hanya bisa pasrah pada keadaan. Dan sungguh, seperti batin yang terus-menerus tergores, gua benar-benar tak bisa berbuat apa-apa, kecuali tidur dan siap untuk bersekolah kembali keesokan harinya.

Kadang gua hanya bisa menangis di dalam kamar saat gua sedang mengalami hal seperti itu dulu. Dan seperti serasa "tak kuat", yah, sungguh tak kuat jikalau gua harus bangun pagi dan siap untuk bersekolah kembali. Membuat gua menjadi sangat fobia sekali dengan sebuah gedung yang bernama sekolah, karena tekanan-nya yang sungguh luar biasa itu.

Namun untunglah, gua akhirnya masih bisa terus kuat. Walau jujur, hingga lepas dari sekolah, gua sudah menjadi orang yang takut tertolak. Gua bisa menjadi sangat stress dan pusing saat menemui seseorang yang tiba-tiba saja tak mau ngomong sama gua disaat sedang berkuliah (awal kuliah). Apalagi pada saat ada sebuah komunitas yang sempat gua anggap dekat dengan gua, eh tiba-tiba saja mereka tak mengajak gua pergi, oh, itu benar-benar membuat otak gua menjadi sangat lecet, karena gua jadi kepikiran betapa buruknya gua di mata mereka.

Dan, karena hal itu, perbaikan diri menjadi sesosok yang lebih baik pun sungguh terus gua lakukan setiap harinya. Menjadi pribadi yang baik hati, bisa diterima, benar-benar terus gua perbuat semasa gua SMA. Bahkan gua pun sampai searching di internet, dan pernah mendapatkan kalau pribadi yang baik itu adalah orang yang suka memberi, suka memuji, dan masih banyak lagi. Gua pun melakukannya, namun tetap saja masih ada saja yang kurang, yang pada akhirnya terus membuat gua menjadi stress bukan main.

Bayangkan yah, gua waktu itu sungguh sudah menjadi orang yang maniak akan sebuah "penerimaan". Soalnya sudah fisik gua yang bisa terbilang gak bagus, masa gua harus bersifat jelek sih. Gua pun terus mencari cara agar bisa menjadi yang terbaik.

Hingga saat berkuliah, baru lah masa-masa dimana gua berubah menjadi sesosok orang yang bisa bergaul pun muncul dengan penuh perjuangan selama bertahun-tahun (tepatnya dua tahun). Dan sory, untuk lebih detail-nya gua rasa gua bakal membuatnya di post yang berikutnya (karena gua ingin sekali membahas tiap perubahan yang terjadi di setiap semester-nya). Yang jelas, di bangku kuliah, gua banyak belajar menjadi sesosok orang yang bisa berani melawan setiap perkataan yang tak berkenan (yang coba-coba pake kata-kata kasar ke gua, dan mengatakan hal-hal yang tak gua sukai), lalu juga gua akhirnya bisa tahu bagaimana caranya membalas orang yang sedang meledek gua, dan ini adalah salah satu yang menarik disaat gua sudah bisa membalas mereka yang sempat meledek gua dengan kata-kata yang berbau "banci". Pertama, saat ada yang meledeki gua dari belakang, dan gua mendengarnya, gua pun tak tinggal diam saja, tapi gua langsung menengok ke belakang dan ngomong,"apa lo?!" "ngomongin gua ya lo?!" lalu gua juga ikut-ikutan tertawa. Hal ini gua lakukan agar mereka tau kalau gua memang kuat dan tetap menganggap mereka sebagai teman gua. Lalu kedua, jika ada yang meledek dengan memanggil gua, seperti bilang, "ton, di kelompok lu tuh cewe semua ya?" gua pun langsung bilang,"oh iya ya cewe semua nih." sambil melambai-lambai agar pada kesenengan. Hal ini menyatakan, kalau gua sudah terbebas dari stress akan sebuah ledekan. Yup, gua sudah tau gimana caranya harus merespon mereka. Namun, hal yang paling penting adalah, gua berusaha untuk menjadi teman mereka semua (para peledek), agar mereka tau kalau gua itu adalah anak yang baik :p, yang tak pernah bermasalah dengan sifat mereka.

Okeh, progress-nya pun dapat kalian imajinasikan betapa gua akhirnya tau bagaimana caranya untuk menghadapi setiap penolakan dari orang lain. Karena sekarang gua tau, kalau gua harus terus terbuka kepada mereka, dan mau untuk menjadi teman siapa saja. Hingga di semester enam sekarang, gua pun akhirnya bisa dikenal oleh anak-anak PR dan Broadcast satu angkatan dengan gua. Namun gua tetap tak akan mendalami hubungan gua dengan mereka semua, hanya lah beberapa komunitas saja yang akan terus gua lewati bersama, karena liat-liat juga lah mereka itu cocok apa tidak sama kesukaan gua hahahaha..... Namun, gua tetap menjadikan mereka sebagai teman yang akan terus gua ajak ketawa, karena kebanyakan dari mereka itu sudah mengenal gua sebagai anak yang gila yang berlambangkan ohh getoo :p.

Intinya adalah: menerima keadaan diri sendiri, lalu mau terbuka dengan siapa pun, karena semua orang suka dengan orang yang mau menceritakan tentang sedikit kisah gila-nya, seperti gua yang sudah menceritakan ke banyak orang mengenai tak diterimanya gua di dalam sebuah pekerjaan yang waktu kemarin itu sedang gua cobai. Terus, berbuat baik dan mau memuji adalah salah satu hal yang cukup disukai orang. Apalagi kalau untuk gua, adalah meledeki diri gua sendiri, itu adalah hal yang sudah dipatenkan di dalam kehidupan gua, karena mereka sangat suka ketika gua sedang dihancurkan (namun dalam artian bukan sedang serius yah hahaha...).

Tetapi gua bukan berarti sedang menjadi anak yang GR dengan menganggap kalau mereka semua itu bisa menerima keadaan diri gua, dan mau menjadi teman gua sampai maut memisahkan. Karena sudah pasti akan ada yang ngomongin gua dari belakang tentang segala kejelekan gua. Yah, untuk orang yang pernah mengalami "hidup sendiri" seperti gua, tentu gua sudah tak takut lagi akan hal yang seperti itu. Karena jika nanti gua sudah lulus kuliah, dan berada di lingkungan baru lagi (di lingkungan pekerjaan), gua tak akan takut jika gua akan kembali lagi menjadi sesosok yang nothing. Gua bakal mengingat kalau gua sudah melewati banyak hal mengenai proses untuk hidup dalam hal "tak takut jika tidak diterima". Yap, gua sudah terbebas, dan gua pun sudah tau caranya untuk bisa menghadapi berbagai macam cobaan yang dapat membuat gua menjadi stress. Dan tentunya Tuhan akan selalu membantu gua disaat gua sedang mengalami kesusahan, karena pada saat gua sedang sendiri, hanya Tuhan lah yang memang sanggup untuk bisa memberikan ketenangan di dalam kehidupan gua, walau tetap rasanya itu sungguh sepi (dulu), namun kekuatan yang besar akan selalu Ia berikan untuk gua.

Jadi, jika ada yang bertanya lagi ke gua, "apakah hal yang paling mengerikan di dalam kehidupan lu ini?" tentu saja gua akan tetap bilang "hidup sendiri", karena gua sudah pernah merasakannya, dan jika ada pertanyaan yang kedua, "apakah lu takut jika nantinya lu bakal hidup sendiri lagi?" gua akan menjawab "tidak", karena kehidupan itu memang adalah sebuah perjuangan, dan disaat gua sedang berjuang mati-matian untuk bisa hidup bebas dari rasa takut tertolak, gua pun mendapatkan sebuah jalan yang sungguh efektif dari Tuhan mengenai cara untuk terbebas dari hal tersebut, sehingga gua bisa hidup dengan tak merasa takut lagi.

Namun kalau boleh jujur, tentu tak sepenuhnya gua akan 100 persen merasakan "tidak stress disaat sedang ditolak", karena kalau gua tidak stress, maka gua bukan lah manusia. Hanya seringnya gua dulu itu, ya, stress-nya itu bisa dikatakan sungguh sudah sangat berlebihan, karena bisa sampai berhari-hari, dan sanggup membuat kepala gua menjadi pusing seperti kapal mau pecah ckckck.... Intinya adalah, gua hanya sedang meminimalisir sekecil mungkin akan terjadinya stress itu, dan gua anggap itu sebagai sebuah kebebasan yang baru. Dan tentunya akan ada kebebasan-kebebasan yang baru kembali nantinya, yang akan terus datang di dalam kehidupan kita. Namun tetap lah kita harus menunggu hingga perjuangan kita bakal diakhiri oleh sebuah kematian, sehingga kita benar-benar bisa hidup damai di dalam Tuhan.... (keren kan kata-kata gua hehe).

Yah, namanya hidup ya..... mau gimana lagi coba? Hahaha......

Tetap semangat! Dan terus cari jalan untuk bisa merubah hal-hal yang tak kita sukai..... :D

Thanks God
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath